Pemerintah India menyatakan hanya ada dua kasus virus Nipah sejak Desember lalu. Semua orang yang pernah menjalin kontak fisik dengan pasien telah dikarantina dan menjalani tes.
Thailand melakukan pemeriksaan suhu di bandara sebagai langkah pencegahanFoto: Public relations department of Suvarnabhumi International Airport/AP Photo/picture alliance
Iklan
Pemerintah India membantah kabar merebaknya infeksi virus Nipah di negara bagian Benggala Barat. Hingga Selasa (27/1), otoritas kesehatan memastikan hanya ada dua kasus terkonfirmasi di negara bagian India timur itu. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kewaspadaan negara-negara Asia dan penerapan skrining kesehatan di sejumlah bandara regional.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga menyebut langkah pemeriksaan terhadap penumpang asal India di bandar udara di luar negeri sebagai respons berlebihan terhadap laporan awal yang belum terverifikasi.
Thailand dan Nepal, dalam beberapa hari terakhir, mengumumkan melakukan pemeriksaan kesehatan bagi pelancong dari Benggala Barat.
Hong Kong juga mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin (26/01) dan mengatakan telah meminta informasi dari otoritas kesehatan India, sembari melakukan pemeriksaan terhadap penumpang asal Benggala Barat.
Virus Nipah juga pernah muncul di Kerala, India, pada tahun 2023 silam. Dua orang dinyatakan meninggal dunia. Penyebaran berhasil dihentikan setelah pemerintah mengisolasi 1.200 orang yang terpapar.Foto: AFP
Klarifikasi jumlah kasus
Pemerintah India menegaskan bahwa hanya dua kasus yang dinyatakan positif, sejak laporan awal mencuat pada Desember lalu, hanya dua kasus yang terbukti positif melalui uji laboratorium lanjutan. Laporan awal yang menyebut lima kasus, menurut otoritas setempat, berasal dari hasil pemeriksaan pendahuluan yang kemudian direvisi.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi empat hingga 21 hari. Dalam kasus ini, sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien telah dikarantina. Mereka mayoritas tenaga kesehatan dan anggota keluarga.
Kantor berita ANI melaporkan bahwa negara bagian Kerala di India selatan telah mengalami sembilan wabah virus Nipah antara 2018 hingga 2025.
Pada 2018, lebih dari selusin orang meninggal dunia akibat virus ini. Sementara pada 2021, seorang anak laki-laki dilaporkan meninggal, memicu kewaspadaan luas di kalangan otoritas kesehatan.
Apa itu virus Nipah?
Nipah merupakan virus zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Virus ini pertama kali teridentifikasi pada tahun 1999, saat terjadi wabah di peternakan babi di Malaysia dan Singapura. Meski paling sering ditemukan pada kelelawar buah, virus Nipah juga dapat menginfeksi hewan lain seperti babi, anjing, kambing, kuda, dan domba.
Menurut otoritas kesehatan Inggris, manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuhnya. Namun, banyak kasus infeksi pada manusia terjadi akibat konsumsi buah atau produk buah, seperti nira kurma mentah atau setengah difermentasi, yang terkontaminasi air liur atau limbah biologis kelelawar buah yang terinfeksi.
Penularan dari manusia ke manusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak dekat dengan penderita atau cairan tubuhnya.
Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah. Penanganan yang tersedia bersifat suportif, bertujuan meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Infeksi ini dapat menyebabkan demam, kejang, muntah, hingga gangguan pernapasan dan saraf.
WHO tetapkan Nipah sebagai penyakit prioritas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah ke dalam daftar penyakit prioritas, karena berpotensi menyebabkan wabah cepat dengan tingkat kematian yang tinggi. Pemerintah India menyebutkan bahwa dua kasus terkonfirmasi tersebut terjadi pada Desember lalu dan seluruhnya berada di Benggala Barat.
Sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura, Hong Kong, Thailand, dan Malaysia, telah menerapkan pemeriksaan kesehatan di bandara sebagai langkah pencegahan penyebaran lintas negara. Di tengah kekhawatiran regional tersebut, para ahli menilai risiko penyebaran global virus Nipah tetap sangat terbatas.
Iklan
Risiko mewabah dinilai sangat kecil
Dr. Kaja Abbas, profesor asosiasi epidemiologi dan dinamika penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine serta Universitas Nagasaki, mengatakan bahwa secara global jumlah kasus virus Nipah tergolong sangat sedikit.
"Sejak virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999 hingga sekarang, jumlah kasus globalnya kurang dari 750,” kata Abbas kepada DW.
8 Virus Paling Berbahaya
Virus tetap jadi ancaman kesehatan bagi manusia. Walaupun ilmuwan sudah berhasil temukan vaksin untuk sejumlah virus, beberapa tetap menjadi ancaman. Berikut 8 virus yang paling berbahaya.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Corona SARS-CoV-2
Virus corona SARS-CoV-2 yang memicu pandemi Covid-19 tiba-tiba muncul di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019. Ketika itu ratusan orang diserang penyakit misterius mirip pneumonia dengan angka fatalitas sangat tinggi. Virus corona menyebar cepat ke seluruh dunia, menjadi pandemi yang mematikan. Hingga akhir Juli 2021, sedikitnya 205 juta orang terinfeksi dan 4,32 juta meninggal akibat Covid-19.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Marburg
Virus paling berbahaya adalah virus Marburg. Namanya berasal dari kota kecil di sungai Lahn yang tidak ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Virus Marburg adalah virus yang menyebabkan demam berdarah. Seperti Ebola, virus Marburg menyerang membran mukosa, kulit dan organ tubuh. Tingkat fatalitas mencapai 90 persen.
Foto: picture alliance/dpa
Ebola
Ada lima jenis virus Ebola, yakni: Zaire, Sudan, Tai Forest, Bundibugyo dan Reston. Virus Ebola Zaire adalah yang paling mematikan. Angka mortalitasnya 90%. Inilah jenis yang pernah menyebar antara lain di Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Menurut ilmuwan kemungkinan kalong menjadi hewan yang menyebarkan virus ebola zaire ke kota-kota.
Foto: picture-alliance/NIAID/BSIP
HIV
Virus ini adalah salah satu yang paling mematikan di jaman modern. Sejak pertama kali dikenali tahun 1980-an, lebih dari 35 juta orang meninggal karena terinfeksi virus ini. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, dan melemahkan pertahanan terhadap infeksi dan sejumlah tipe kanker. (Gambar: ilustrasi partikel virus HIV di dalam darah.)
Foto: Imago Images/Science Photo Library
Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Ada beberapa jenis nyamuk yang menularkan virus tersebut. Demam dengue dapat membahayakan nyawa penderita. Antara lain lewat pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan tekanan darah rendah. Dua milyar orang tinggal di kawasan yang terancam oleh demam dengue, termasuk di Indonesia.
Foto: picture-alliance/dpa
Hanta
Virus ini bisa diitemukan pada hewan pengerat seperti tikus. Manusia dapat tertular bila melakukan kontak dengan hewan dan kotorannya. Hanta berasal dari nama sungai dimana tentara AS diduga pertama kali terinfeksi virus tersebut saat Perang Korea tahun 1950. Gejalanya termasuk penyakit paru-paru, demam dan gagal ginjal.
Foto: REUTERS
H5N1
Berbagai kasus flu burung menyebabkan panik global. Tidak heran tingkat kematiannya mencapai 70 persen. Tapi sebenarnya, resiko tertular H5N1 cukup rendah. Manusia hanya bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan unggas. Ini penyebab mengapa kebanyakan korban ditemukan di Asia, di mana warga biasa tinggal dekat dengan ayam atau burung.
Foto: AP
Lassa
Seorang perawat di Nigeria adalah orang pertama yang terinfeksi virus Lassa. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat. Kasusnya bisa menjadi endemis, yang artinya virus muncul di wilayah khusus, bagian barat Afrika, dan dapat kembali mewabah di sana setiap saat. Ilmuwan memperkirakan 15 persen hewan pengerat di daerah Afrika barat menjadi pembawa virus tersebut. (Sumber tambahan: livescience, Ed.: ml)
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
"Ketika kami mengatakan global, kasus-kasus ini terutama terbatas di dua negara, yaitu India dan Bangladesh. Pada 1999 memang ada beberapa wabah di Singapura dan Malaysia, tetapi sejak 2001, dalam 25 tahun terakhir, sebagian besar kasus terjadi di India dan Bangladesh, dengan jumlah yang sangat sedikit.”
Dia menjelaskan bahwa penularan virus Nipah sangat terbatas dan membutuhkan kontak tertutup yang lama serta intens. Namun, yang membuat virus ini berbahaya adalah tingkat kematiannya yang tinggi.
"Sekitar 40% hingga 70% orang yang terinfeksi virus Nipah dapat meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Itulah yang membuat virus ini sangat berbahaya, meskipun risiko penularannya rendah,” ujarnya.
Tak sebanding dengan virus corona
Abbas menegaskan bahwa virus Nipah tidak sebanding dengan virus corona dalam hal potensi penyebaran. Dia menjelaskan bahwa angka reproduksi Nipah berada jauh di bawah satu, artinya satu orang yang terinfeksi rata-rata menularkan virus ke kurang dari satu orang lain.
"Dalam kasus virus corona, angka reproduksinya berada di kisaran dua hingga tiga, sehingga penyebarannya sangat cepat secara global,” kata Abbas. "Sementara pada virus Nipah, penularannya cenderung berhenti dengan sendirinya.”
Menurutnya, langkah-langkah pencegahan yang saat ini diterapkan, termasuk pelacakan kontak dan pemeriksaan kesehatan di bandara, sudah memadai. Bahkan di Benggala Barat, penyebaran virus dinilai sangat terbatas, dengan hampir 200 kontak erat telah dilacak dan seluruhnya dinyatakan negatif.
"Risiko penyebaran lintas negara tidak sepenuhnya nol, tetapi sangat, sangat kecil,” kata Abbas.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadani
Editor: Rizki Nugraha
Lima Tahun Sejak Pandemi, COVID-19 Masih Jadi Momok
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih 7 juta orang meninggal akibat COVID-19. Lima tahun setelah pecahnya pandemi, pemimpin dunia dan masyarakat masih harus menghadapi dampaknya.
Foto: LUIS TATO/AFP/Getty Images
Situasi darurat global
Desember 2019, penyakit paru-paru baru didiagnosis di Wuhan, Cina dan menimbulkan kematian. Dalam beberapa minggu, virus corona baru memicu tantangan global: Tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Otoritas kesehatan dengan cepat mengembangkan tes usap untuk mendiagnosis penyakit ini, dalam foto sedang dilakukan oleh tenaga medis di Beijing
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Petugas medis bekerja hingga lewat batas
Dengan cepat menjadi jelas bahwa COVID-19 sering kali berakibat fatal, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang sebelumnya memiliki catatan kondisi medis. Tenaga medis seperti perawat ini di Brussels ini bekerja hingga kelelahan. Fakta bahwa virus ini terus bermutasi selama pandemi, menambah tantangan dunia medis.
Foto: ARIS OIKONOMOU/AFP/Getty Images
Sistem kesehatan nyaris ambruk
Jumlah pasien yang sangat banyak membuat banyak rumah sakit mencapai batasnya. Di rumah sakit di kota Chongqing, Cina, Desember 2022 tempat tidur dijejali di lobi rumah sakit. Di India, sistem kesehatan nyaris ambruk, dengan orang-orang yang putus asa menunggu di luar fasilitas kesehatan yang penuh sesak. Saat itu India mencatatkan 2.000 kematian per hari akibat COVID-19.
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Italia kewalahan
Di Eropa, Italia terdampak sangat berat. Akhir Maret 2020, truk militer mulai mengangkut korban meninggal COVID-19 di Bergamo ke krematorium di sekitar area, karena fasilitas di kota tersebut sudah kelebihan beban. Lombardy pernah mencatatkan 300 kasus kematian hanya dalam satu hari.
Foto: MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images
Masker: Repot tapi perlu
Kala itu, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa masker wajah, yang sangat penting untuk membantu membatasi penyebaran virus. Di awal pandemi, masker dijahit dari kain, tetapi masker N95 segera menjadi standar. Di banyak tempat, memakai masker di tempat umum menjadi kewajiban selama dua tahun lebih. Peneliti menegaskan, masker yang dipakai dengan baik, membantu mengurangi sebaran infeksi
Foto: MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images
Sepinya jalanan bagai dikota hantu
Jalanan New York sepi sejak tahap awal pandemi. Hampir semua negara menerapkan pembatasan kontak dan lockdown (penguncian) panjang untuk melindungi orang dari virus. Tempat penitipan anak dan sekolah sebagian besar tetap tutup, begitu juga kafe, restoran, pub, kolam renang, dan salon rambut. Di mana-mana orang berusaha bekerja dari rumah.
Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images
"Bye, bye" kehidupan sosial
Pandemi memaksa banyak bisnis terhenti. Perdagangan dan perekonomian runtuh, dan kehidupan sosial terputus di mana-mana, sehingga menyebabkan krisis keuangan global. Bahkan setelah pembatasan dilonggarkan, langkah-langkah perlindungan tetap diberlakukan, misalnya pemakaian layar pembatas plastik di toko dan restoran, seperti yang terlihat di ibu kota Thailand, Bangkok
Foto: MLADEN ANTONOV/AFP/Getty Images
Atur jarak, jangan derkat-dekat, ah!
Di Mission Dolores Park, San Francisco, lingkaran di rumput menunjukkan seberapa dekat orang diperbolehkan duduk, jarak tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan risiko infeksi. Meskipun infeksi menurun selama bulan-bulan musim panas, langkah-langkahhigiene, dengan jaga jarak sering kali tetap ketat. Di beberapa negara, orang bahkan tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka.
Foto: JOSH EDELSON/AFP/Getty Images
Antre vaksinasi
Agustus 2021, para warga India akhirnya bisa divaksinasi dengan vaksin Covishield. Di Uni Eropa, vaksin COVID-19 pertama dari BioNTech/Pfizer tersedia akhir 2020. Lalu, vaksin dari Moderna dan AstraZeneca disetujui melalui prosedur percepatan. Orang lanjut usia dan sakit, dan tenaga kesehatan, menjadi yang pertama divaksin. Banyak negara miskin harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan vaksin.
Foto: DIPTENDU DUTTA/AFP/Getty Images
Dilarang biar aman, malah protes
Langkah-langkah ketat untuk memperlambat sebaran COVID-19 mendapat penolakan dari beberapa kalangan di seluruh dunia, seperti yang terlihat di Paris pada September 2021. Di banyak negara, termasuk Jerman, ekstremis sayap kanan menyusup ke dalam protes tersebut. Teori konspirasi jadi bagian tak terpisahkan dari oposisi menentang kebjiakan resmi dan vaksin. Virus corona diklaim 'senjata biologis.'
Foto: BENOIT TESSIER/REUTERS
Balik lagi ke sekolah
Di Jerman, anak-anak kembali ke sekolah setelah liburan musim panas 2020, setelah berbulan-bulan belajar di rumah akibat lockdown (penguncian). Homeschooling menjadi ujian berat bagi orang tua dan siswa, dan menurut studi, bahkan lima tahun setelah pandemi dimulai, banyak anak dan remaja masih menderita kesepian dan masalah kesehatan mental.
Foto: INA FASSBENDER/AFP/Getty Images
Kompetisi tanpa sorak sorai
Pada Juli 2021, para pesepeda ini menunjukkan keterampilan mereka di Olimpiade Tokyo, namun hampir tidak ada yang bisa mendukung mereka. Setelah pecahnya pandemi, acara olahraga yang awalnya direncanakan pada 2020 ditunda setahun — namun virus corona masih menguasai dunia setahun kemudian. Akibatnya, Olimpiade Musim Panas digelar di depan tribun yang sebagian besar kosong.
Foto: LIONEL BONAVENTURE/AFP/Getty Images
Berakhir dengan kewaspadaan
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengakhiri keadaan darurat kesehatan internasional 5 Mei 2023, namun menyatakan virus corona tetap berbahaya. Menurut WHO, sekitar 7 juta orang dipastikan meninggal akibat COVID-19, namun perkiraan lain menyebutkan jumlah totalnya mencapai 20 juta. Di London, simbol hati merah digunakan untuk memperingati orang-orang yang meninggal akibat COVID-19.