Cek Fakta: Dari Ratusan Negara, Indonesia Paling Bahagia?
Cinta Zanidya
30 Januari 2026
Dalam dua kesempatan berbeda, Presiden RI Prabowo Subianto mengeklaim bahwa warga Indonesia adalah yang paling bahagia di antara ratusan negara. Cek Fakta DW mencoba melakukan verifikasi terhadap klaim tersebut.
Klaim dari Presiden RI Prabowo Subianto soal warga Indonesia paling bahagia dari ratusan negara disampaikan pada perhelatan WEF 2026 di Davos, SwissFoto: YouTube
Iklan
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato sebagai pembicara di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss.
Dalam pidato yang disiarkan secara langsung dari kanal YouTube Prabowo Subianto pada 22 Januari lalu, Prabowo menyampaikan klaim adanya temuan studi yang menyatakan bahwa rakyat Indonesia merupakan rakyat paling bahagia di antara ratusan negara.
"Gallup Poll, dan Harvard University menemukan melalui sebuah survei penelitian di ratusan negara bahwa Indonesia, masyarakat Indonesia merupakan yang paling bahagia, negara dengan tingkat 'flourishing' tertinggi di dunia, serta masyarakat yang paling optimistis," ujar Prabowo dalam pidatonya.
Sebelumnya, Prabowo juga pernah menyampaikan klaim serupa dalam pidatonya pada perayaan Natal Nasional 2025 pada tanggal (5/1) lalu. Hanya saja, pada momen tersebut, ia merinci jumlah negara peserta studi, yaitu 200 negara.
Cek Fakta DW melakukan analisis terhadap klaim ini.
Klaim: Rakyat Indonesia merupakan rakyat paling bahagia di dunia, menurut survey penelitian di ratusan negara.
Cek Fakta DW: Salah.
Studi yang menjadi rujukan Prabowo dalam pidatonya adalah sebuah penelitian bertajuk The Global Flourishing Study (GFS) atau Studi Kesejahteraan Global yang dipublikasikan di jurnal Nature Mental Health pada 30 April 2025.
Studi ini merupakan hasil kolaborasi antara program Human Flourishing di Universitas Harvard dan Institute for Studies of Religion di Universitas Baylor yang bekerja sama dengan Gallup dan Center for Open Science.
Penelitian tersebut mengumpulkan data dari sekitar 200.000 peserta di 22 negara dan satu daerah otonom, bukan ratusan negara seperti klaim yang dikemukakan Presiden Prabowo.
Hasil penelitian yang dipublikasikan bukan "kebahagiaan” semata, melainkan "human flourishing", sebuah konsep kesejahteraan yang lebih kompleks dan diukur melalui enam dimensi utama: kesehatan fisik dan mental, kebahagiaan dan kepuasan hidup, makna dan tujuan hidup, karakter dan nilai moral, hubungan sosial, serta kondisi finansial dan material.
Tetap bahagia walaupun nasib buruk menimpa? Atau jika kegagalan demi kegagalan datang silih berganti? Itu bukan tidak mungkin. Dan itu bisa dilatih lewat kebiasaan hidup sehari-hari.
Foto: picture-alliance/PhotoAlto/E. Audras
Ketergantungan
Memang setiap orang butuh hubungan dengan orang lain. Ini terutama menguntungkan jika orang butuh bantuan. Tetapi orang juga harus mampu berdiri sendiri. Karena ada masa, di mana tidak ada orang yang bisa dimintai tolong. Dan terlalu sering minta tolong menimbulkan ketergantungan, dan bisa mengganggu hubungan dengan orang lain.
Foto: picture alliance / Jan-Philipp Strobel/dpa
Tiap hari sama
Keteraturan dalam hidup sehari-hari membantu kita secara psikis, karena menawarkan kepastian juga ketenangan. Tetapi kadang kita juga butuh perubahan, dan input atau tantangan baru, untuk merasa bahagia. Jika tiap hari menyantap makanan yang sama, lama-kelamaan juga bosan.
Foto: picture alliance/Bildagentur-online/Yay
Terus-menerus di media sosial
Instagram, Facebook dan jejaring sosial lain kerap hanya menampilkan satu sisi saja dari hidup orang lain, misalnya hanya saat tampil keren, atau pergi berlibur ke tempat-tempat mentereng. Jika hanya ini yang kita "santap" setiap hari, kita semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya tidak selalu indah. Akibatnya kita semakin merasa tidak puas dengan diri sendiri atau hidup kita.
Foto: Shestakoff/Fotolia
Anggap diri paling penting di dunia
Mungkin yang Anda kerjakan memang penting. Tapi sekali-kali tidak merasa "paling penting di dunia" sangat membantu mengurangi stress dan tekanan untuk selalu memberikan yang terbaik. Lagi pula bisa juga, yang Anda lakukan tidak terlalu penting bagi orang lain.
Foto: Colourbox
Tubuh butuh pergerakan
Ini harus dilakukan terutama bukan untuk penampilan. Sejumlah studi sudah menunjukkan, tubuh harus digerakkan demi kesehatan. Bukan berarti orang harus segera mampu berpartisipasi dalam maraton atau berolah raga seperti olahragawan profesional. Hal yang bisa dipraktekkan misalnya: jika bisa menggunakan tangga, jangan gunakan lift. Jika bisa berjalan tidak usah naik mobil, dan sebagainya.
Foto: picture-alliance/dpa/B. pedersen
Memainkan "peran" tertentu
Dalam hidup, orang kadang harus memainkan "peran" tertentu. Ini penting dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, agar segalanya berjalan lancar. Tetapi sebaiknya diperhatikan untuk tidak selalu hanya memainkan peran itu. Karena kebutuhan kita sendiri tidak akan terpenuhi, dan ide-ide tidak akan berkembang. Akibatnya: tidak bahagia. (Ed.: ml/hp, sumber: Brigitte, Huffington Post.)
Foto: picture-alliance/dpa/J. Woitas
6 foto1 | 6
Mengapa Indonesia peringkat satu dalam hal "human flourishing"?
Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Indonesia, Prof. Bagus Takwin menjelaskan studi GFS dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia.
Iklan
Ia mengatakan bahwa budaya kebersamaan yang masih melekat pada masyarakat adalah salah satu faktor tingginya kebahagiaan warga Indonesia jika dibandingkan dengan negara yang mempunyai budaya individualis.
"Keterlibatan dengan lingkungan juga memberikan perasaan puas, memberikan perasaan berdampak, sehingga juga menimbulkan perasaan kompeten. Kompetensi itu yang kemudian juga menyumbang pada kebahagiaan,” jelas Prof. Bagus kepada DW Indonesia.
Prof. Bagus juga menjelaskan mengenai pradoks kebahagiaan di tengah banyaknya masyarakat yang kesulitan secara ekonomi. Menurutnya, uang atau penghasilan hanya berpengaruh pada kebahagiaan sampai batas tertentu.
Secara psikologis, materi berperan penting untuk mencegah penderitaan, tetapi tidak cukup kuat untuk menciptakan kebahagiaan. Karena itu, negara dengan PDB tinggi dan kondisi material yang lebih baik belum tentu memiliki tingkat kebahagiaan tinggi.
Di Indonesia, masyarakat yang kerap mensyukuri keadaan hidupnya juga menjadi faktor tingkat "flourishing" yang tinggi.
"Emosi-emosi positif dibangun melalui berbagai cara, di antaranya seperti bersyukur, melihat sisi positif dari segala kejadian, dan menganggap bahwa berbagai hal negatif yang terjadi sebagai cobaan atau sebagai suatu yang bisa menguatkan diri mereka,” ujar Prof. Bagus.
8 Hal Yang Dilakukan Orang Bahagia Setiap Hari
Dalam buku "Rich Habits, Rich Life", pakar sosial ekonomi Dr. Randall Bell menulis bahwa orang-orang yang bahagia memiliki banyak kebiasaan yang sama. 40 persen rasa bahagia seseorang berasal dari kebiasaan sehari-hari.
Foto: Fotolia/Robert Kneschke
Tidak Bergosip
Sulit menahan diri untuk tidak membahas kekasih baru rekan kerja, atau rahasia sahabat Anda. Tapi dengan menghindari gosip, Anda akan merasa lebih bahagia. Lain kali Anda merasa ingin bergosip, katakan sesuatu yang positif. Dr Bell: "Orang yang berbicara positif cenderung dikelilingi orang-orang dengan pandangan yang sama. Ini akan membuat kita lebih bahagia."
Foto: Fotolia/Faber Visum
Meja Kerja Rapih
Saat bekerja dengan tekanan tinggi, seringnya Anda melupakan kondisi meja kerja Anda. Menurut Dr Bell, meja kerja yang rapih menandakan cara kerja yang terorganisir dan ini akan membuat Anda tiga kali lebih bahagia di tempat kerja. "Banyak studi yang menunjukkan, tempat kerja yang rapih memungkinkan kita untuk bekerja secara lebih efektif dan fokus."
Foto: picture-alliance/dpa/M. Wüstenhagen
Tidak Marah-marah Saat Menyetir
Saat macet, pengemudi mobil yang tidak berhati-hati tentu membuat Anda kehilangan kesabaran. Tapi tetap tenang di balik kemudi adalah cara mudah untuk merasa lebih bahagia. Dr Bell: "Orang yang bahagia menyalurkan energinya ke hal-hal postif dan tidak meneriaki pengemudi lain atau mengeluhkan macet."
Foto: Colourbox
Makan Malam Bersama Keluarga
Keluarga yang sibuk mungkin sulit untuk bisa makan secara bersama-sama. Tetapi bagi Dr Bell ini hal yang penting. "Karena dengan menghabiskan waktu dengan orang yang paling penting bagi Anda, maka Anda akan merasa lebih baik. Jika hubungan yang penting diabaikan, maka Anda akan merasa stress dan tegang."
Foto: Kzenon/Fotolia
Tidak Lupa Menyapa Tetangga
Dr Bell yakin, orang yang tidak menyapa tetangganya cenderung merasa tidak bahagia. "Jika bertemu orang wajahnya tidak ramah, kita akan merasa tegang. Tapi jika bertemu orang yang memberi senyuman, kita juga ingin tersenyum. Dengan menyapa tetangga, Anda tidak hanya membuat bahagia orang lain, tetapi mereka akan menyapa balik dan Anda juga merasa senang."
Foto: picture-alliance/dpa/C. Klose
Berdansa
Saat berdansa atau menari dengan pasangan, Anda akan tidak hanya melepaskan hormon endorfin tetapi juga merawat hubungan dengan pasangan. Atau sekedar menari sendirian dengan musik kesayangan juga akan membuat Anda merasa bahagia.
Foto: Getty Images/W. McNamee
Olahraga
Tidak heran orang yang bahagia berolahraga setiap hari. Berjalan kaki selama 20 menit juga sudah termasuk olahraga. Dr Bell: "Saat berolahraga, endorfin akan masuk dalam aliran darah dan zat kimia yang mengalir dalam tubuh akan membuat Anda merasa bahagia."
Orang yang bermeditasi setiap hari, 50 persen merasa lebih bahagia dibanding yang tidak melakukannya. Demikian ujar Dr Bell. Saat aktif, gelombang dalam otak adalah gelombang beta. Saat bermeditasi, gelombang berubah menjadi alfa, sumber energi kreatif. Kedua gelombang otak sama pentingnya, tapi jika gelombang alfa diabaikan, energi kreatif akan menghilang. vlz/ml (dari berbagai sumber)
Foto: Fotolia/Robert Kneschke
8 foto1 | 8
Membaca motif Prabowo "pamer” capaian kebahagiaan
Menurut pakar komunikasi politik dari UNAIR, Suko Widodo, penyebutan serta "pembesar-besaran" hasil studi GFS oleh Prabowo Subianto di dua momen pidato besar memperlihatkan narasi kebahagiaan yang kerap dipamerkan sebagai simbol keberhasilan politik.
"Ini kan strategi komunikasi bahwa Indonesia baik-baik saja. Realitasnya kan tidak seperti itu […] Tentu saja implikasinya agar orang tenang, tidak protes. Jadi menurut saya, Pak Prabowo menggunakan klaim negara paling bahagia, justru bukan pamer kemegahan, melainkan untuk memuji ketabahan rakyat,” ujar Suko kepada DW Indonesia.
Dalam pidatonya di World Economic Forum 2026, Prabowo Subianto mengatakan bahwa hasil studi GFS membuatnya sedih, sekaligus memberikan harapan karena mencerminkan optimisme masyarakat.
"Saya mengenal rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk-gubuk. Banyak dari mereka tidak memiliki air bersih. Banyak dari mereka tidak memiliki kamar mandi. Banyak dari mereka makan nasi dengan garam. Namun, mereka tetap tersenyum. Namun, mereka tetap memiliki harapan," katanya.