1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Industri Mebel Yang Memperhatikan Kelestarian Alam

Marjory Linardy22 Januari 2008

Apakah kaitan antara pohon kelapa, kayu-kayu tua dan interior rumah? Jawabannya mudah. Yaitu mebel dari kayu, dan lebih istimewa lagi, jika proses pembuatannya menggunakan kayu yang tidak merugikan kelestarian alam.

BdT Deutschland Baumstämme aus Sturmschäden
Foto: AP

Di Indonesia, Perusahaan Prima Putra Bengawan, yang berdiri pada tahun 1988, boleh dikatakan sebagai perintis pembuatan mebel dari kayu hasil daur ulang, atau dikenal juga dengan sebutan “reclaimed wood”. Selain dari rumah yang dibongkar, kayu yang digunakan perusahaan di Solo ini antara lain dari jembatan serta rel kereta api yang sudah tidak dipakai. Asal kayu-kayu tersebut sebagian besar dari pulau Jawa. Dari desa maupun kota, kayu kemudian diangkut ke lokasi produksi yang banyak berada di Solo, Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara penjualan produk terutama di Bali, karena pulau Bali dengan lokasi turisme yang terkenal di seluruh dunia, banyak didatangi wisatawan dari manca negara. Dan minat warga negara-negara maju dalam produk dari kayu bisa dibilang besar.

Kayu Tua Berkarakter

Apa yang memotivasi penggunaan “reclaimed wood”? Pendiri perusahaan, Ir. Paulus Mintarga, menjelaskan, dari awal ia memang tertarik untuk menggunakan kayu-kayu tua, karena memiliki karakter tersendiri. Selain itu, ia cenderung memproduksi barang atau membuat rumah bukan dalam skala besar. Dan ini juga sesuai dengan “reclaimed wood”, yang jumlahnya terbatas. Berbeda dengan kayu-kayu hasil penebangan baru, kayu-kayu tua untuk diproduksi kembali, jumlahnya tidak tentu.

Walaupun produksi tidak dapat dilakukan dalam jumlah besar, Paulus Mintarga berpendapat, produksi mebel yang ikut menjaga kelestarian lingkungan bermasa depan cerah. Bukan hanya karena keindahan kayu tua yang eksotis, melainkan juga karena sektor lingkungan dan pelestarian alam semakin digalakkan di banyak negara. Ia menambahkan, riset yang pernah diadakan di Amerika Serikat bahkan menunjukkan, konsumen bersedia membayar 15 -20% lebih banyak untuk produk jenis ini.

Cegah Pemalsuan dengan Sertifikat

Selain menceritakan sisi positif produksi dengan kayu jenis ini, ia juga mengungkapkan kesulitannya, yang terutama terletak pada sistem. Bagaimana cara mencegah penipuan, agar produk yang berlabel “reclaimed wood” benar-benar berasal dari kayu yang didaur ulang? Untuk itu diperlukan sertifikasi. Salah satu lembaga yang memberikan sertifikat untuk “reclaimed wood” adalah lembaga perlindungan hutan, SmartWood di AS. Dan Prima Putra Bengawan sedang mengusahakan sertifikat tersebut.

Terlepas dari semakin besarnya minat akan produk yang menjaga kelestarian alam, Ir. Paulus Mintarga mengatakan, faktor desain tetap memegang peranan penting. Dan Indonesia masih lemah dalam bidang ini. Oleh sebab itu, ia mengusulkan adanya komunitas desain, sehingga secara struktural bidang ini lebih dapat dikembangkan. Supaya Indonesia dan kekayaan alamnya yang berlimpah ruah juga mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Upaya Penggunaan Kayu Seefektif Mungkin di Ghana

Seperti perusahaan Prima Putra Bengawan, perusahaan pengrajin EcoCraft dari Ghana juga berpendapat, produk yang ramah lingkungan semakin banyak pembelinya, karena pelestarian lingkungan semakin digalakkan. Itu juga dapat dilihat dari pengunjung yang selama ini mendatangi standnya di pameran mebel internasional IMM di Köln, yang baru berakhir.

Kelompok produksi, yang berada di desa Samreboi di tengah hutan tropis di negara Afrika Barat itu, berada di bawah naungan organisasi perlindungan lingkungan World Wide Fund for Nature atau WWF. Julia Bauer dari EcoCraft menjelaskan, tujuan EcoCraft adalah, agar sebanyak mungkin bagian pohon digunakan untuk membuat produk. Tujuan kedua adalah agar produksi juga menjadi sumber mata pencaharian bagi rakyat Ghana.

Pemanfaatan Kayu Semaksimal Mungkin

Julia Bauer menunjukkan sebagai contoh, batang pohon bergaris tengah sekitar 50 cm, yang tidak dapat digunakan untuk produk kayu lain, karena bentuknya yang melekuk. Sementara setelah menjadi rak buku, batang pohon itu ada kegunaannya, dan menjadi dekorasi cantik di ruangan. Para pengrajin juga berasal dari daerah Samreboi. Untuk mereka, EcoCraft mengadakan program tersendiri, berupa kursus desain dan memahat, baik dengan palu maupun mesin. Julia Bauer menjelaskan, pendidikan ini penting, karena mereka sebagian besar petani. Dan di daerah itu, sumber penghasilan tambahan tidak ada.

Kayu apa saja yang mereka gunakan? Julia Bauer menjawab, EcoCraft menggunakan semua jenis kayu yang dapat ditemukan di Ghana. Sementara rekannya Angela Amo-Bedigko menambahkan, di Ghana, ada kuota penebangan, misalnya untuk kayu seperti mahogani. Dari pohon yang ditebang itulah EcoCraft mengusahakan agar semua bagiannya digunakan.

Produk EcoCraft sejauh ini sudah dijual ke Jerman, AS, Korea, Turki dan negara Afrika lainnya. Saat ini, pasar yang sangat menjanjikan adalah Eropa. Selain karena produknya eksotis, namun juga karena sepenuhnya dari bahan alami.

Kayu Kelapa dari Pasifik Selatan

Bahan alami juga menjadi bahan baku mebel dari perusahaan Pacific Green, yaitu pohon kelapa. “Save the forest use palmwood”, atau selamatkan hutan gunakanlah kayu kelapa. Itulah moto Pacifc Green, yang memiliki kantor di beberapa negara, antara lain Australia dan AS.

Tahun 80an lalu, perusahaan ini berusaha menemukan alternatif lain untuk produk kayu, mengingat saat itu pembalakan hutan sudah mulai didiskusikan. Akhirnya di Pasifik Selatan mereka berkenalan dengan berbagai manfaat pohon kelapa. Bruce Dowse, pendiri Pacific Green menyadari, inilah bahan pengganti kayu yang ideal. Bertahun-tahun perusahaan itu meneliti kekuatan dan struktur batang kelapa. Tahun 1998 lalu, akhirnya berhasil ditemukan proses pengolahan, yang dapat mengontrol kelembaban kayu kelapa. Proses itu disebut “Prepreg”.

Sesuai dengan daerah asal kayu ini, desain produk Pacific Green menunjukkan bentuk-bentuk yang inspirasinya berasal dari bentuk tombak, dayung dan peralatan lain yang biasa digunakan penduduk asli daerah Pasifik Selatan. Dan sampai sekarang, inilah yang menjadi ciri khas Pacific Green di dunia internasional.

Dari tahun ke tahun semakin banyak orang yang tertarik dengan produk ekologis ini. Menurut informasi dari perusahaan tersebut, kini mebelnya sudah dijual di berbagai negara, antara lain di Moskow, Los Angeles, Beijing dan Sidney. Dan ketenaran perusahaan ini kemungkinan akan terus bertambah, mengingat di situs internetnya, bintang film Pierce Brosnan, yang memerankan agen rahasia 007, James Bond, ikut mempromosikan produknya.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait