Inggris Beri Dukungan “Defensif” kepada Arab Saudi
22 September 2026
Perdana Menteri Kerajaan Serikat Britania Raya dan Irlandia Utara atau Inggris Andy Burnham menyetujui pemberian dukungan militer terbatas kepada Arab Saudi, di tengah serangan yang terus dilancarkan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman terhadap negara tersebut.
Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) akan menyediakan pengisian bahan bakar udara-ke-udara untuk pesawat Saudi sebagai dukungan “defensif”, kata Burnham kepada wartawan pada Senin (22/9), saat melakukan perjalanan ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Downing Street menyebut Inggris telah “menerima permintaan” dari Arab Saudi untuk memberikan dukungan militer.
Burnham mengatakan ia “bertindak untuk mengamankan kepentingan Inggris dan kawasan yang lebih luas, karena tentu saja Arab Saudi telah mengalami serangan, menghadapi potensi gangguan lebih lanjut, dan kami perlu menjaga jalur-jalur [minyak] tersebut tetap terbuka.”
Apa dukungan militer Inggris untuk Arab Saudi?
Sejumlah laporan yang mengutip pejabat Inggris menyebut kesepakatan tersebut kemungkinan akan mulai berlaku dalam beberapa hari dan akan dibatasi waktunya, dengan misi diperkirakan berlangsung selama “beberapa pekan”.
Misi tersebut akan menggunakan pesawat tanker Voyager milik RAF. Dukungan ini merupakan tambahan dari sistem pertahanan udara Sky Sabre milik Inggris yang telah ditempatkan di Arab Saudi.
Menurut kantor berita PA, misi Inggris akan membantu jet tempur Saudi mempertahankan wilayah negara tersebut dari serangan drone dan rudal, bukan mendukung serangan terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat
Sejak 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam pertempurannya melawan Houthi.
Pada Juli tahun ini, gencatan senjata yang dicapai pada 2022 antara kelompok pemberontak dan Arab Saudi runtuh setelah Houthi mengizinkan sebuah pesawat Iran mendarat di ibu kota Yaman, Sana’a. Langkah tersebut bertentangan dengan kendali Saudi atas wilayah udara Yaman.
Pada Sabtu (20/9), serangan Houthi terhadap Riyadh menjadi serangan pertama yang menargetkan ibu kota Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
Houthi juga menyatakan blokade terhadap pelayaran menuju Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran global yang penting, serta di Laut Merah.
Selain kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi, fasilitas minyak di wilayah negara tersebut juga menjadi sasaran serangan drone dan rudal dari Houthi. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.
Menteri luar negeri G7 desak Houthi “segera menghentikan” serangan terhadap Arab Saudi
Para menteri luar negeri negara-negara G7 pada Senin (21/9) mengecam serangan Houthi di Yaman dan terhadap Arab Saudi. Mereka juga mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya, termasuk pengiriman senjata kepada kelompok pemberontak tersebut.
“Kami mengutuk dengan sekeras-kerasnya serangan berkelanjutan yang tidak dapat diterima yang dilakukan Houthi di Yaman dan terhadap Kerajaan Arab Saudi,” kata para menteri dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat dalam pernyataan bersama setelah bertemu di sela-sela Sidang Umum PBB.
Pernyataan tersebut menyerukan kepada Houthi untuk “segera menghentikan seluruh tindakan militer, menghentikan semua ancaman dan serangan terhadap pelayaran sipil, serta kembali ke proses politik dengan itikad baik.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid