Sebuah inisiatif baru yang didukung pecinta alam Inggris, David Attenborough, baru saja diluncurkan untuk membantu komunitas-komunitas meraih manfaat dari upaya perlindungan 30% lautan dunia pada penghujung dekade ini.
Pemandangan udara menunjukkan perahu nelayan berlabuh di sebuah pelabuhan di Bauan, Provinsi Batangas, Filipina, 10 Maret 2024.Foto: Peter Blaza/File Photo/REUTERS
Iklan
Inisiatif yang diberi nama Revive Our Ocean, atau "Memulihkan Kembali Samudra Kita” ini dipimpin oleh LSM Dynamic Planet, yang bekerja sama dengan program "Pristine Seas" (Laut yang Tak Tercemar) dari National Geographic Society.
Inisiatif ini bertujuan untuk mendampingi komunitas lokal dalam perjuangan mereka mendirikan area perlindungan laut di perairan pesisir.
Iklan
Penangkapan ikan yang berlebihan
Fokus awalnya adalah untuk menangani masalah penangkapan ikan berlebihan dan dampak perubahan iklim laut di Britania Raya, Portugal, Yunani, Turki, Meksiko, Filipina, dan Indonesia.
"Musuh terbesar dalam dunia perikanan adalah penangkapan ikan berlebih," ungkap Direktur Eksekutif "Pristine Seas" - National Geographic Society, Enric Sala.
Penyelenggara inisiatif ini meyakini bahwa pendirian area perlindungan laut tidak hanya akan menyelamatkan ekosistem, tetapi juga mendatangkan manfaat ekonomi yang besar. Studi menunjukkan bahwa perlindungan laut dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan sekaligus memperkaya sektor pariwisata.
"Area perlindungan laut adalah peluang bisnis yang menguntungkan," tandas Kristin Rechberger, pendiri Revive Our Ocean.
Fakta Tentang Laut, Sumber Kehidupan Bumi
Laut menutupi sebagian besar permukaan Bumi dan juga berperan dalam mengatur iklim di Bumi. Kondisi Bumi dan laut terus berubah karena perubahan iklim. Masih banyak yang harus diteliti tentang tempat tinggal kita ini.
Foto: picture-alliance/dpa
Planet biru tempat kita tinggal: Bumi
Bumi disebut juga sebagai planet biru tentu karena warnanya. Lautan menutupi hingga 71% dari permukaan Bumi dan 90% dari biosfer. Ini menjadi bagian integral dari kehidupan dan penyediaan kebutuhan oksigen hingga 80%. Menjadikan laut bagian vital dari siklus karbon. Asal-usul laut belum dapat dipastikan, tapi lautan menjadi katalisator pembentukan kehidupan 4.4 miliar tahun yang lalu.
Foto: NASA
Rahasia di balik dalamnya laut yang belum tersentuh
Sekitar 80% dari dunia bawah laut belum pernah dieksplorasi atau dijamah oleh manusia. Para ilmuwan dan peneliti selalu mencoba untuk menguak misteri apa yang ada di bawah laut sana yang bisa membantu kita untuk memahami perubahan lingkungan dan membantu upaya mengelola sumber daya laut yang vital untuk perubahan iklim.
Foto: Colourbox/S. Dmytro
Laut berperan mengatur iklim di planet kita
Dengan menyerap radiasi matahari, mendistribusikan panas dan menggerakkan pola cuaca, laut memiliki peran vital dalam mengatur iklim di Bumi. Namun, kemampuan Bumi untuk melakukan hal natural seperti menyimpan kandungan karbon yang ada di udara dan memproduksi oksigen mulai terganggu karena perubahan iklim.
Foto: Getty Images/AFP/C. Triballeau
Laut juga 'padat' penduduk
Laut adalah rumah bagi sekurangnya 230.000 jenis spesies yang sampai sekarang diketahui. Terumbu karang menjadi tempat berlindung yang aman bagi invertebrata seperti kepiting, bintang, moluska dan ikan-ikan yang beragam. Sedangkan hewan besar seperti hiu, paus, dan lumba-lumba hidup di perairan terbuka.
Foto: Getty Images/D. Miralle
Hewan temuan bawah laut yang aneh
Para peneliti mengakui bahwa manusia mungkin baru menemukan sekitar 2/3 dari isi laut sesungguhya. Setiap tahunnya, ilmuwan selalu menemukan spesies baru seperti Squidworm atau Teuthidodrilus samae (foto) yang ditemukan di perairan laut Celebes di tahun 2007. Banyak hal lain yang menunggu untuk ditemukan di bawah sana.
Foto: Laurence Madin, WHOI
Tanda peringatan perubahan iklim
Laut dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Salah satu contoh utama adalah maraknya terumbu karang yang mulai "memutih" di seluruh dunia. Naiknya suhu dan polusi adalah situasi yang tidak optimal untuk kehidupan terumbu karang. Situasi ini menghambat terumbu karang untuk bertumbuh dan tidak semua terumbu karang dapat pulih setelah berubah menjadi "putih".
Foto: XL Catlin Seaview Survey
Tidak ada tempat berlindung lain untuk hewan laut
Penelitian terbaru menyatakan populasi ikan, moluska, dan kepiting turun dua kali lebih cepat dari populasi hewan daratan. Suhu ekstrem menjadi alasan utama, binatang yang hidup di laut tidak memiliki tempat untuk kabur dari naiknya suhu. Sayangnya, biota bawah laut tidak dapat berevolusi dengan cukup cepat untuk beradaptasi dengan situasi ini.
Es dan salju di Kriosfer mulai menghilang di tempat yang seharusnya ditutupinya. Naiknya suhu udara melelehkan glasier dan es. Kejadian ini berdampak pada naiknya permukaan laut dan juga naiknya tingkat keasaman laut dari metana yang dilepaskan dari permafrost dasar laut di Samudra Arktik.
Foto: AP
Kehilangan mata pencaharian
Manusia tidak dapat dipisahkan dari laut. Banyak kelompok sejak ribuan tahun yang lalu bermukim di pesisir pantai karena kelangsungan hidupnya bergantung kepada laut, seperti nelayan. Hari ini, keberlangsungan hidup banyak orang yang hidup di pesisir mulai terancam karena naiknya permukaan laut sedikit demi sedikit.
Foto: picture-alliance / Bildagentur H
Hilangnya biota laut
Hanya 13% dari laut di dunia bebas dari aktivitas manusia seperti menangkap ikan. Daerah pesisir yang sudah tersapu bersih mendorong para pencari ikan untuk berlayar lebih jauh. Kemajuan teknologi juga membantu menangkap ikan dengan jauh lebih mudah dan dalam jumlah yang lebih besar. Ini menjadi PR generasi mendatang untuk melindungi biota laut yang tersisa. (Ed.: pn/na)
Foto: picture-alliance/dpa
10 foto1 | 10
Sudah terlambat
Namun, mereka juga menyuarakan keprihatinan bahwa penciptaan Marine Protected Area (MPA)—"Area Perlindungan Laut"—terlalu lambat.
Lebih dari 190.000 area perlindungan perlu didirikan untuk mencapai target ambisius "30 by 30"—untuk melindungi 30% lautan hingga tahun 2030.
"Menghidupkan kembali kehidupan laut berarti menghidupkan kembali ekonomi dan komunitas lokal. Sudah saatnya dunia mengakui bahwa MPA adalah fondasi dari ekonomi biru,” papar Rechberger dengan penuh keyakinan.
(Ed: Ekonomi biru merujuk pada konsep pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan ekosistem laut itu sendiri.)
Bangun Kesadaran Demi Lanskap Maritim Laut Tengah
04:02
Banyak yang tak meratifikasi perjanjian perlindungan laut
Saat ini, berbagai negara berkumpul di New York untuk mendiskusikan cara mengimplementasikan dan membiayai sebuah perjanjian global yang disepakati pada tahun 2023 untuk melindungi keanekaragaman hayati laut.
Perjanjian ini baru bisa berlaku setelah diratifikasi secara formal oleh 60 negara.
Sayangnya, meskipun lebih dari 100 negara telah menandatangani perjanjian ini, hingga kini hanya 21 negara yang telah meratifikasinya.
Diharapkan, ratifikasi lebih lanjut akan terjadi sebelum Konferensi Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa 2025 yang akan berlangsung di Prancis pada bulan Juni.
"Negara-negara benar-benar bekerja keras untuk mempercepat proses ratifikasi di banyak tempat," ujar Rebecca Hubbard, Direktur High Seas Alliance, sebuah koalisi kelompok lingkungan.
Kelompok-kelompok lingkungan ini menegaskan bahwa perjanjian ini perlu mulai berlaku tahun ini agar dunia dapat memenuhi target perlindungan. Saat ini, hanya sekitar 8%—atau 29 juta kilometer persegi—lautan yang telah dilindungi.
Meskipun Amerika Serikat terlibat dalam pembentukan perjanjian ini, negara tersebut tidak hadir dalam negosiasi minggu ini dan diperkirakan tidak akan meratifikasinya.
*Editor: Hendra Pasusuk
Laut Aral Bangkit Dari Kematian
Dulu ombak setinggi tujuh meter pernah bergemuruh di Laut Aral. Kini danau raksasa di jantung Asia Tengah itu meranggas dan menjelma menjadi gurun pasir. Tapi belakangan air kembali menggenang dan membawa serta kehidupan
Foto: Reuters/S.Zhumatov
Matinya Danau Raksasa
Hingga beberapa dekade silam Laut Aral masih tercatat sebagai danau terbesar ke empat di dunia. Namun sejak 1960-an kawasan itu meranggas dan perlahan berubah menjadi gurun. Kematian danau yang luasnya mencapai dua kali lipat wilayah Jawa Tengah itu dianggap sebagai salah satu bencana lingkungan paling parah dalam sejarah manusia.
Foto: Reuters/S.Zhumatov
Bangkit dari Kubur
Namun kini Laut Aral bangkit dari kematiannya. Air mulai membasahi sebagian kawasan dan ikan kembali meramaikan ekosistem lokal. Bibir pantai yang tadinya berada 100 kilometer dari kota pelabuhan Aral, kini hanya berharak 20-25 kilometer bergantung pada kondisi cuaca. Sejumlah desa nelayan juga kembali bermunculan di sekitar danau.
Foto: ESA/Copernicus Sentinel data 2014/2015
Bermandi Air, Memanen Ikan
Kembalinya air dan ikan ke Laut Aral turut memicu kebangkitan industri perikanan lokal. Populasi ikan mengalami lonjakan pesat terutama sejak kadar garam pada air mulai jauh berkurang. Situasi tersebut juga meringankan beban perekonomian. Kini kota Aral dipenuhi pabrik pengolahan ikan. Sebagian kecil penduduk juga mulai berdagang perlengkapan perikanan seperti suku cadang mesin perahu.
Foto: Reuters/S.Zhumatov
Kejahatan Lingkungan Era Sovyet
Kisahnya berbeda pada beberapa dekade silam. Saat itu laju penyusutan Laut Aral mencapai level tertinggi. Danau raksasa itu hancur oleh program perekonomian Uni Sovyet yang sejak 1940an mengalihkan air dari dua sungai yang menopang Laut Aral untuk keperluan industri kapas dan irigasi pertanian. Hasilnya sejak 1960an permukaan Laut Aral menyusut tiga meter setiap tahun.
Foto: Reuters/S.Zhumatov
Bendungan Penyelamat
Situasinya mulai berubah sejak runtuhnya Uni Sovyet. Dengan bantuan Bank Dunia, pemerintah Kazakhstan membangun bendungan Kokaral untuk memisahkan kawasan selatan yang meranggas dengan utara yang masih diairi sungai Syr Darya. Dalam dua tahun permukaan air meningkat sebanyak empat meter dan Kokaral dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia.
Foto: picture alliance/dpa/S.Ponomarev
Hidup Setelah Kematian
Namun begitu Laut Aral belum sepenuhnya pulih. Industri perikanan lokal yang muncul saat ini masih tergolong kecil dibandingkan beberapa dekade silam. "Aral belum jadi laut sungguhan," kata Sagnai Zhurimbetov, seorang nelayan lokal. "Laut yang lama punya ombak setinggi hingga tujuh meter," tuturnya.
Foto: Reuters/S.Zhumatov
Fenomena Sesaat?
Celakanya kebangkitan Laut Aral dikhawatirkan hanya bakal menjadi fenomena sesaat. Pasalnya sistem irigasi yang dibangun Uni Sovyet di dua sungai, Syr Darya dan Amu Darya, berfungsi sedemikian efektif sehingga sampai saat ini pun masih menghambat pemulihan air danau. Terlebih pemerintah Uzbekistan kini berniat melakukan eksplorasi minyak bumi di sejumlah kawasan bekas dasar danau.