Di tengah pemblokiran internet nasional, Iran membuka akses “Internet Pro” berbayar. Akses informasi dan komunikasi kini bukan lagi kewajaran, tapi semakin jadi kemewahan bagi banyak warga sipil.
Akses internet di Iran dibatasi secara ketat sejak akhir FebruariFoto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Iklan
Dewan Keamanan Nasional Iran baru-baru ini menyetujui rencana untuk memberikan akses internet berbayar kepada kelompok tertentu, meski dengan batas penggunaan harian untuk situs asing dan lalu lintas data internasional.
Internet di Iran telah dimatikan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap negara itu pada 28 Februari.
“Internet Pro” bukan peningkatan teknis layanan internet, melainkan akses internet khusus yang memungkinkan pengguna melewati pemblokiran.
Menurut jurnalis dan peneliti internet Solmaz Eikder, platform-platform besar seperti Instagram, X, dan YouTube yang sudah lama diblokir di Iran masih tidak dapat digunakan bahkan oleh banyak pengguna Internet Pro tanpa Virtual Private Network (VPN).
Eikder telah hidup di pengasingan di Eropa selama lima tahun. Ia bekerja untuk Filterbaan, yang juga dikenal sebagai Filterwatch, sebuah organisasi hak digital Iran yang memantau sensor internet, represi digital, dan pengawasan di Iran. Temuan organisasi ini kerap digunakan oleh jurnalis, aktivis, dan peneliti yang mempelajari represi digital di Iran.
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Pemutusan internet terpanjang dalam sejarah Iran
Pemutusan internet saat ini, yang telah berlangsung lebih dari 80 hari, merupakan yang terpanjang dalam sejarah Iran, namun bukan yang pertama.
Iklan
Selama bertahun-tahun, aparat keamanan Iran menggunakan metode ini untuk mengganggu komunikasi antarwarga Iran dan memutus hubungan mereka dengan dunia luar. Hal ini terakhir terjadi saat protes nasional pada Januari, yang ditumpas secara brutal oleh rezim.
Jutaan orang kini kembali terputus dari ekonomi digital dan komunikasi.
Menurut juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani, Internet Pro dimaksudkan untuk “mencegah gangguan terhadap aktivitas ekonomi dan memastikan komunikasi bisnis tetap berjalan di masa krisis.”
Heboh WhatsApp, Facebook dan Twitter tidak bisa diakses pasca-kisruh 22 Mei ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara lain ternyata juga pernah melakukan hal serupa. Negara mana saja dan apa alasan pemblokiran?
Foto: Reuters/W. Kurniawan
Indonesia
61.000 akun Whatsapp, 640 akun Instragram, 848 akun Twitter, 551 akun facebook diblokir pascakerusuhan akibat penolakan hasil Pemilu 2019. Warganet juga terkena imbas karena akses sosial media dibatasi. Meski ada saja netizen yang coba mengakses internet melalui VPN. Menurut Menkominfo Rudiantara ini adalah cara agar berita hoaks dan gambar provokatif tidak beredar memperkeruh suasana.
Foto: Reuters/W. Kurniawan
Sri Lanka
Akibat banyaknya berita hoaks tersebar pasca-peristiwa bom bunuh diri Paskah (21/04), pemerintah Sri Lanka menutup jejaring sosial Facebook, Twitter, YouTube, Instagram dan WhatsApp selama 9 hari. Bom yang menewaskan 258 orang dan menyebabkan 500 orang terluka diduga didomplengi ISIS. Banyak yang mengaku menggunakan VPN dan TOR agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat dekat.
Foto: Getty Images/L. Wanniarachchi
Bangladesh
Pemerintah menghentikan layanan internet 3G dan 4G sebelum pemilu untuk jaga keamanan negara dan mencegah penyebaran desas-desus, menurut Asisten Direktur Senior BTRC, Zakir Hossain Khan Desember 2018 lalu. Bangladesh bahkan menutup akses terhadap portal berita populer, Poriborton.com Selasa (21/05) karena laporannya menyebabkan kemarahan badan intelijen militer Bangladesh
Foto: DW/A. Islam
Sudan
Awal Januari 2019, pemerintah Sudan juga menutup akses media sosial populer setelah kerusuhan berlangsung selama dua minggu. Saat itu, warga protes agar Presiden Omar Al-Bashir turun dari jabatannya setelah berkuasa 20 tahun. Menurut Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan, Salah Abdallah, pemblokiran sosial media sudah jadi bahan perbincangan sejak kisruh terjadi 21 Desember 2018.
Foto: Reuters/M. Nureldin Abdallah
Iran
Sejak 2018, aplikasi Telegram diblokir pemerintah karena dianggap telah digunakan sejumlah pihak anti-pembangunan di Iran. 40 dari 46 juta pengguna media sosial di Iran menggunakan Telegram untuk banyak hal, mulai dari berjualan pakaian hingga mencari dokter. Media sosial seperti Facebook dan Twitter sudah ditutup sejak tahun 2009.
Foto: picture alliance/dpa/D. Feoktistov/TASS
Rusia
Pertengahan tahun 2018, pemerintah Rusia juga menutup akses Telegram, aplikasi pesan instan yang dianggap aman dan terenkripsi baik. Bahkan pemerintah mengancam pemblokiran akses VPN untuk mengakses situs terlarang. Badan sensor Rusia telah mengirim notifikasi pemblokiran oleh 10 penyedia VPN di Rusia, di antaranya seperti KNordVPN, Hide My Ass! dan Kaspersky Secure Connection sejak April 2018.
Foto: picture alliance/dpa/V. Prokofyev
Cina
Cina memiliki platform media sosial sendiri yang dikelola oleh negara, seperti WeChat, Weibo, QQ dan YouKu. Media sosial besar seperti Facebook, YouTube dan WhatsApp tidak bisa diakses. Lewat sistem poin (scoring system), kebebasan berekspresi baik melalui media sosial maupun telepon kini dimonitor penuh oleh pemerintah. Ed: ss/ts (Reuters, AFP)
Foto: picture-alliance/dpa
7 foto1 | 7
Apa itu Internet Pro?
Layanan ini ditawarkan kepada kelompok profesional tertentu, seperti anggota Kamar Dagang, startup, perusahaan teknologi, dan peritel. Mereka menerima paket awal sebesar 50 gigabita data dengan biaya setara sekitar 11 dolar AS (sekitar Rp195 ribu).
“Itu jumlah uang yang besar di Iran,” kata Eikder. Sejak perang dimulai, banyak rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Inflasi meningkat hingga lebih dari 50% dan nilai rial anjlok, yang menyebabkan kenaikan tajam harga kebutuhan pokok.
Fasilitas industri yang hancur dan kerugian produksi besar-besaran juga menghantam ekonomi. Puluhan ribu pekerjaan hilang.
Selain itu, jutaan sumber pendapatan kecil ikut lenyap akibat pemblokiran internet.
“Banyak perempuan dari kota-kota kecil dan desa menjual produk seperti buah kering, pakaian buatan tangan, atau makanan secara online,” kata Eikder. “Pendapatan ini memainkan peran penting bagi keluarga mereka, tetapi kesempatan itu kini telah hilang.”
Akses internet menjadi barang mewah di Iran
Di Iran, muncul kritik luas terhadap kebijakan ini. Surat kabar Shargh dan sejumlah media lain mengkritik peluncuran Internet Pro karena mengubah akses terhadap komunikasi dan informasi dari hak publik dan hak sipil menjadi sebuah privilese.
Perempuan yang menjadi pencari nafkah utama keluarga dan sebelumnya memperoleh penghasilan secara daring, serta para mahasiswa, tidak termasuk dalam kelompok yang dapat mengakses Internet Pro.
Seorang mahasiswa teknik berusia 19 tahun mengatakan kepada DW dengan syarat anonim bahwa ia belum yakin akan menerima tawaran akses Internet Pro.
Setiap pengguna diidentifikasi melalui nomor identitas nasional dan nomor ponsel yang terdaftar. Mahasiswi tersebut mengatakan ia masih membeli VPN di pasar gelap agar dapat mengakses internet. Namun, banyak teman dan kenalannya kini tidak lagi mampu membeli VPN, katanya.
“Menjadi sangat sulit bagi masyarakat Iran untuk mengakses berita independen dan informasi yang dapat dipercaya,” kata Oliver Linow, spesialis kebebasan internet di DW, yang telah diblokir di Iran sejak 2009.
“Sejak saat itu, kami menyediakan alat untuk menembus sensor agar masyarakat di negara tersebut tetap dapat mengakses jurnalisme independen. Namun, alat-alat ini sering kali tidak lagi efektif saat terjadi pemadaman internet hampir total,” tambah Linow.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam beberapa pekan terakhir menjanjikan bahwa layanan internet akan segera dipulihkan.
Di Iran, sejumlah lembaga, mulai dari Dewan Keamanan Nasional hingga Dewan Tertinggi Dunia Siber, terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pendekatan negara terhadap kontrol digital.
Sebuah tim manajemen krisis baru yang dipimpin Wakil Presiden Mohammad Reza Aref dilaporkan telah dibentuk untuk mengakhiri “banyaknya suara” dan tumpang tindih kewenangan dalam kebijakan internet Iran.
Namun, arti dari langkah tersebut masih belum jelas. Menurut informasi dari surat kabar Shargh, pejabat pemerintah secara tegas dilarang menjelaskan secara publik detail maupun tanggung jawab badan baru tersebut, atau mendiskusikannya dengan media.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha