1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Irak dan Suriah Tarik Duta Besar

26 Agustus 2009

Suriah dan Irak terjerat dalam konflik diplomatik pasca serangan di Baghdad pekan lalu (18/8). Penolakan Suriah menyerahkan pimpinan Partai baath yang diduga terlibat berujung pada penarikan duta besar masing-masing.

Presiden Suriah Bashar AssadFoto: AP / DW

Irak menarik duta besarnya dari Damaskus dua hari setelah pengakuan seorang tersangka pelaku serangan di Baghdad yang menyebut keterlibatan dua anggota Partai Baath Suriah dalam aksi teror tersebut. Beberapa jam kemudian, langkah itu dijawab oleh Suriah dengan melakukan hal serupa. Irak sebelumnya menuntut Damaskus agar menyerahkan kedua tersangka, namun kemudian ditolak.

Pengakuan tersebut berasal dari bekas kepala kepolisian, Wissam Ali Kadhim yang menyebut salah seorang pemimpin Partai Baath di Suriah, Sattam Farhan memerintahkan serangan teror di Baghdad. Kadhim mengatakan, ia berbicara dengan Farhan melalui telepon dan menerima perintah untuk destabilisasi situasi keamanan di Irak.

Pria berusia 57 tahun itu mengaku melarikan diri tahun 2006 ke Suriah, namun kembali ke Irak setahun sesudahnya. Ia berencana menghidupkan kembali Partai Baath yang kini dilarang di Irak.

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki mendesak pemerintah Damaskus agar bertindak bijaksana dan berhenti memberikan perlindungan bagi pihak-pihak yang berniat mengacaukan situasi di Irak. "Suriah harus berupaya menjadi tetangga yang baik," demikian diungkapkan Maliki dalam pernyataannya.

Kedua negara baru menghidupkan kembali hubungan diplomatiknya tahun 2006 lalu setelah 20 tahun saling bermusuhan. Pertengahan Agustus lalu PM al-Maliki berkunjung ke Suriah untuk bertemu dengan Presiden Bashir Assad. Kantor berita Sanaa melaporkan, kedua negara sepakat menjalin kerjasama yang lebih erat terutama di bidang keamanan.

Asap membumbung dari dekat gedung Kementrian Luar Negeri di baghdad sesaat setelah serangan bom yang menewaskan lebih dari 90 orang dan melukai 600 lainnya.Foto: AP

Pemerintah Irak sebelumnya telah berulangkali menuding Suriah mendukung aksi terorisme. Sesaat setelah serangan bom di depan gedung Kementrian Luar Negeri tanggal 18 Agustus lalu, sejumlah pejabat teras Irak langsung menduga adanya tangan asing yang ikut terlibat. "Ini merupakan demonstrasi sebuah aksi teror yang didukung oleh negara," tukas Saad Yusuf Al Mutalabi, seorang penasehat di kabinet PM Nuri Al-Maliki.

Masalah keamanan kerap menjadi batu sandungan dalam hubungan kedua negara. Irak terutama mendesak Suriah agar mengontrol perbatasannya dengan lebih ketat untuk menahan gerilyawan kelompok radikal yang ingin masuk ke Irak.

Selain itu Suriah juga dianggap membiarkan perbatasannya digunakan pihak tertentu untuk memasok senjata dan amunisi bagi kelompok teror di Irak. Tudingan tersebut jelas ditolak oleh Presiden Bashar Assad. Menurutnya, penjagaan perbatasan tanpa adanya perlengkapan yang memadai "mustahil" dilakukan. Ia juga menyebut tudingan yang diarahkan terhadapnya "jelas salah arah."

Tuduhan Baghdad terhadap keterlibatan pemimpin Baath di Suriah muncul sesaat sebelum jaringan teror Al Qaida mengumumkan bertanggung jawab atas serangkaian serangan di Baghdad pekan lalu. Dalam pernyataan yang dipublikasikan di sebuah situs internet,
Al Qaida juga menyebutkan sejumlah sasaran utama serangan yaitu: Kantor Kementrian Luar Negeri, Departeman Keuangan dan Departemen Keamanan yang terletak di zona hijau Baghdad. Sementara itu penyidikan mengenai modus serangan yang digelar oleh kepolisian Irak belum membuahkan hasil konkrit.

(RN//ap/afp/rtr)

Editor: Ayu Purwaningsih