Irak, Mahatir Muhammad, Utang Jerman
30 Oktober 2003
Dalam acara SARI PERS INTERNASIONAL kali ini akan ketengahkan tiga tema. Yang pertama, situasi dan aksi tindak kekerasan di Irak. Tema yang kedua, pengunduran diri Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhamad dan tema terakhir mengenai utang baru pemerintah Jerman. Baiklah kami mulai dengan yang pertama. Irak masih tetap menjadi laporan utama media Internasional. Berbagai aksi serangan dan perlawanan menjadi berita sehari-hari. Harian Inggris THE GURDIAN yang terbit London secara khusus mengomentari gelombang tindak kekerasan di Irak dan dunia Arab, dengan judul " mimpi buruk dunia Arab di Irak". . Kami kutip:
Gelombang tindak kekerasan di Irak mengejutkan dunia Arab. Terkejut karena jatuhnya korban dalam jumlah yang besar dikalangan warga sipil Irak dan dikalangan petugas dari organisasi bantuan. Mengenai konflik Irak, dunia Arab masih kebingungan. Sebagian besar warganya menentang invasi militer ke Irak. Dan sekarang menuding Amerika Serikat sebagai yang bertanggungjawab terhadap situasi yang tidak stabil di Irak. Sebagian besar warga Arab , paling tidak secara teoritis menginginkan penarikan pasukan pendudukan Amerika Serikat dari Irak. Yang tidak disepakati adalah menyangkut kapan waktu yang tepat untuk melakukannya. Beberapa negara mencemaskan timbulnya kekacauan, seperti yang terjadi di Libanon. Sementara yang lainnya menakutkan, bahwa korban berikutnya akan merupakan kemenangan bagi kelompok radikal. Gembar gembor Amerika Serikat yang menyatakan bahwa invasi ke Irak akan membebaskan rakyat di negara tersebut, semakin tidak menunjukkan kenyataan. Sekarang dikatakan, Amerika Serikat salah perhitungan dalam menangani masa pasca perang. Perlawanan dan aksi serangan teror terus berlanjut. Presiden George W Bush semakin menuai kritik. Antara lain kritik terhadap politik media yang dijalankan Presiden Bush berkaitan dengan masalah Irak. Harian Denmark INFORMATION yang terbit di Kopenhagen menilai tidak ada manipulasi pers sesinis seperti yang dilakukan Presiden Bush. Selanjutnya kami baca:
Semua Presiden Amerika Serikat, juga termasuk Bill Clinton amat sulit hidup ditengah pers yang bebas. Tapi tak seorangpun yang memanipulasi media Amerika dengan brutal dan sinis, seperti yang dilakukan pemerintahan Presiden Bush. Presiden Bush , para menteri dan penasehatnya secara konsekwen menolak melakukan wawancara televisi, bila ada pertanda akan munculnya sikap yang kritis terhadap politik Irak, yang dijalankan pemerintahnya . Dalam acara jumpa pers dengan Presiden Bush, petugas medianya mengawasi dengan ketat, siapa yang menyampaikan pertanyaan.Tapi bagi para wartawan yang kritis usaha Presiden Bush untuk memanipulasi media tersebut tidak akan berhasil. Hari ini, tanggal 31 Oktober setelah memegang jabatan Perdana Menteri Malaysia selama 22 tahun, Mahathir Muhamad secara resmi mengundurkan diri. Tokoh yang digambarkan telah membawa kemajuan besar bagi Malaysia, juga terkenal dengan pernyataan yang keras dan mengundang kontroversial ditingkat Internasional. Mengenai mundurnya Mahathir Muhamad setelah 22 tahun memerintah Malaysia, harian Perancis LE MONDE yang terbit di Paris menulis:
Setelah 22 tahun menjadi seorang penguasa yang otokratis, Mahathir Muhamad melepaskan kendali Malaysia, yang selama ini berada ditangannya. Bersama dengan tetangganya diselatan, Lee Kuan Yew, Mahathir Muhamad mempresentasikan generasi baru pimpinan politik di Asia. Mahathir Muhamad seorang yang berpandangan luas, dan meyakini berfungsinya ekonomi model barat. Tapi ia mengabaikan penegak keadilan yang independen, merendahkan dan menangkap para penentangnya, menakut-nakuti pers dan politisi, serta membiarkan meluasnya korupsi, kolusi dan nepotisme. Itu semua juga termasuk sebagai model dan warisan yang ditinggalkan Mahathir Muhamad, setelah memerintah selama 22 tahun. Kita masuki sekarang tema terakhir dalam acara SARI PERS kali ini, yakni beban utang baru pemerintah Jerman. Mengenainya harian Jerman HANDELSBLATT yang terbit di Düsseldorf menulis:
Tanggal 29 Oktober 2003 merupakan hati yang kelam dalam sejarah keuangan pemerintah Jerman. Di Berlin, Kabinet memutuskan anggaran belanja dengan menambah utang baru yang jumlahnya terbesar sejak berdirinya Republik Federal Jerman. Dan di Brüssel, komisi Uni Eropa menyatakan pada tahun 2004 dan 2005 mendatang, Jerman memiliki jumlah hutang melebihi dari yang diperbolehkan uni moneter Eropa. Dengan demikian lambat tapi pasti, Jerman akan terperosok kedalam bencana politik keuangan. Sekarang tidak banyak waktu yang ada, untuk menarik rem darurat.