Irak Setelah Penarikan Tentara AS
1 Juli 2009
Rabu ini (01/07) adalah hari pertama Irak bertanggungjawab atas keamanannya sendiri di seluruh kota, setelah tentara Amerika Serikat ditarik, Selasa (30/06). Penarikan yang dirayakan di Irak dan ditandai dengan libur nasional.
Tetapi peristiwa penting itu juga diguncang oleh serangan bom di sebuah pasar di Kirkuk yang sedang ramai dikunjungi orang, Selasa (30/06). Sebanyak 33 orang tewas, lebih dari 90 lainnya luka-luka, termasuk wanita dan anak-anak.
Serangan ini hanyalah satu dari serangkaian serangan dalam beberapa hari terakhir yang meneguhkan kekuatiran terbesar akan konsekuensi penarikan tentara Amerika dari Irak. Banyak warga Irak cemas situasi keamanan memburuk dan ragu jika polisi serta tentara Irak mampu menjaga keamanan negeri dari serangan teror.
Abu Zainab, seorang pemilik bengkel di Bagdad, termasuk yang dilanda kecemasan. "Saya bilang pada para pekerja saya, kita akan tutup dua sampai tiga hari. Habis, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi? Khaos kah? atau serangan? Atau kelompok bersenjata kembali beraksi? Karena itu saya memilih tutup dulu beberapa hari", kata Abu Zainab.
Sejak awal Juni Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki memperingatkan, kelompok perlawanan dan milisi akan meningkatkan serangan untuk menggerogoti kepercayaan rakyat Irak pada aparat keamanannya sendiri.
Tidak semua melihat dari sisi gelap. Bahwa orang Irak yang bertanggungjawab atas keamanan negerinya sendiri, juga dilihat sebagian orang sebagai peluang mencapai perdamaian yang lebih besar.
Abbas al-Bayaty, Ketua fraksi koalisi Syiah di parlemen Irak mengatakan, "Orang-orang yang menggalang perlawanan seharusnya kini meletakkan senjata. Karena alasan bagi perlawanan mereka, yaitu pasukan Amerika, sudah tidak ada lagi. Sekarang saatnya mereka beralih, ikut aktif dalam politik."
Presiden AS Barrack Obama, yang menentang perang Irak yang digagas pendahulunya George W. Bush, memuji penarikan pasukan Amerika sebagai tonggak sejarah penting. Sebuah langkah maju saat Irak yang berdaulat dan bersatu, meneruskan untuk memegang kontrol terhadap nasibnya sendiri.
Namun Obama juga memperingatkan hari-hari sulit dengan pertumpahan darah dan kekerasan yang menghadang di depan.
Gedung Putih yang bersikap hati-hati juga menolak untuk mendeklarasikan kemenangan. Invasi AS enam tahun lalu berhasil menumbangkan rejim diktator Saddam Hussein, tetapi juga membangkitkan perlawanan yang menelan nyawa 4.300 lebih tentara Amerika dan puluhan ribu rakyat Irak.
Kini, 500 ribu polisi dan 250 ribu tentara Irak bertanggungjawab atas keamanan di kawasan perkotaan, sementara mayoritas dari 133 ribu tentara AS yang tersisa di negara itu akan ditempatkan di luar kota.
Ke depan, tentara Amerika terutama akan memainkan peran pendukung dan pelatih, menjelang penarikan total yang ditetapkan Obama akhir tahun 2011.
HP/RP/afp/rtr