1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Iran Ancam AS: ‘Kartu Truf Baru di Medan Perang’

Carla Bleiker afp, dpa, rtr
21 April 2026

Akankah ada pembicaraan damai lebih lanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Iran? Kedua belah pihak sedang bermain dalam negosiasi "tarik ulur" dan dunia menaruh perhatian pada Presiden AS Donald Trump.

 Ketua Parlemen Iran Mohammed Bagher Ghalibaf.
"Tidak ada negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman": Ketua Parlemen Iran Mohammed Bagher Ghalibaf mengenakan seragam Garda Revolusi.Foto: Icana/ZUMA/IMAGO

Tepat menjelang berakhirnya gencatan senjata, Iran mengancam Amerika Serikat dengan eskalasi. "Dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengerahkan 'kartu truf' militer baru di medan perang," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di layanan daring X. Ia juga menegaskan bahwa Teheran "tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman."

Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, negara itu belum mengambil keputusan mengenai partisipasi dalam pembicaraan damai yang baru.

Sementara itu di Amerika Serikat, keberangkatan delegasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan diperkirakan segera berlangsung. Di ibu kota Islamabad, pembicaraan baru yang mungkin dilakukan dengan mediasi negara tuan rumah akan dibahas. Putaran pertama pembicaraan sekitar satu minggu lalu telah berakhir tanpa hasil yang konkret.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt optimistis akan dicapai kemajuan dalam perundingan baru.Foto: Andrew Leyden/ZUMA/IMAGO

Trump: blokade laut sampai ada tanda tangan kesepakatan

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan dalam siaran Fox News bahwa ia optimistis sebuah "kesepakatan yang benar-benar baik" dapat tercapai.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan melalui layanan daringnya bahwa ia akan mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran sampai kesepakatan dengan Iran tercapai.

Teheran, menurut sumber keamanan Pakistan, justru mensyaratkan keikutsertaan dalam pembicaraan dengan dicabutnya blokade laut AS. Sementara itu, Garda Revolusi Iran terus memblokir Selat Hormuz bagi pelayaran komersial. Karena sebelum konflik sekitar seperlima minyak dunia melewati selat tersebut, harga minyak sempat naik tajam akibat blokade Iran.

Serangan terhadap fasilitas nuklir: Pada Juni 2025, AS dan Israel membom beberapa fasilitas program nuklir Iran (gambar arsip)Foto: IDF/GPO/SIPA/picture alliance

Menteri luar negeri UE mencari kontribusi untuk deeskalasi

Situasi yang memburuk di Timur Tengah juga menjadi perhatian para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa pada hari Selasa (21/04) ini. Topik utama pertemuan di Luksemburg adalah bagaimana Uni Eropa dapat berkontribusi meredakan ketegangan. Dari Jerman, Menteri Luar Negeri Johann Wadephul dijadwalkan hadir dalam perundingan yang dipimpin oleh perwakilan tinggi Uni Eropa (UE), Kaja Kallas.

Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu melancarkan serangan ke Iran dengan alasan adanya ancaman dari program rudal dan aktivitas nuklir Republik Islam tersebut. Setelah lima minggu perang, pihak-pihak yang bertikai menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang akan berakhir pada hari Rabu (22/04).

Kebingungan soal uranium yang diperkaya

Terutama mengenai persediaan uranium yang diperkaya milik Iran, terdapat pernyataan yang saling bertentangan. Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengisyaratkan bahwa spesialis Amerika akan mengambil uranium tersebut bersama Iran dan membawanya ke Amerika Serikat. Namun di Teheran, hal itu dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Bakaei.

Pengayaan uranium menjadi inti perselisihan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Negara-negara Barat telah lama menuduh Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Teheran membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.

Namun demikian, Iran menurut penilaianBadan Energi Atom Internasional (IAEA) adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga 60 persen. Untuk membuat senjata nuklir diperlukan uranium dengan pengayaan sekitar 90 persen, sedangkan untuk pembangkit listrik cukup sekitar 3,4 persen.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya