Iran Berada di Atas Angin
31 Agustus 2006
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad ibaratnya kembali bermain poker yang berbahaya. Tapi harus diakui, kali inipun Teheran berhasil mencapai sasarannya.
Harian Swiss Basler Zeitung berkomentar: Saat ini Ahmadinejad amat mudah memainkan kartunya.
"Teheran tahu persis, Barat tidak memiliki kartu yang kuat. Seperti dalam permainan poker, taruhannya terus dinaikan. Bagi Ahmadinejad semakin sulit menghentikan permainan berbahaya ini. Sementara Amerika Serikat dan Israel dipastikan tidak mau lagi terjebak pada fatalismus, dengan menerima program atom Iran, seperti dalam kasus Korea Utara. Tapi, alangkah lebih baik jika kompromi Teheran kepada Barat diterima, dan permainan berbahaya ini diakhiri."
Sementara harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma berkomentar: Ahmadinejad memainkan peranan sebagai juru bicara dunia Islam.
"Dua hari menjelang berakhirnya ultimatum Dewan Keamanan, Presiden Iran Ahmadinejad memanfaatkan kesempatan untuk melancarkan provokasi. Ia menantang Presiden AS George W. Bush untuk berdebat di layar televisi. Dengan itu ia hendak memetik keuntungan, menonjolkan citranya sebagai juru bicara dunia Islam yang berani menantang negara adidaya Barat."
Harian Italia lainnya Corriere della Sera berkomentar: Inilah paradox dari sebuah krisis yang rumit.
"Ahmadinejad merasa puas, jika berbicara mengenai Amerika dan energi atom. Ia berhasil melewati tantangan terberat menjelang setahun masa jabatannya sebagai presiden Iran. Inilah paradox sejarah. Ketika mencalonkan diri, mantan walikota Teheran itu sama sekali tidak menyinggung tema politik luar negeri. Sekarang, Ahmadinejad berhasil menjadi dirigen, dari krisis internasional yang paling rumit dalam sejarah di negaranya."
Sedangkan harian konservativ Perancis Le Figaro yang terbit di Paris menulis komentar berjudul: Teheran berhasil mencapai sasarannya.
"Jawaban Iran amat lihai, walaupun bukan gagasan baru. Tapi hal itu mencukupi untuk menyemai bibit konflik diantara negara adidaya. Amerika terus menyerukan dijatuhkannya sanski, tapi tidak ada yang mempercayainya. Sementara Cina dan Rusia kembali menentang dijatuhkannya sanksi terhadap Iran. Prancis dan negara Eropa lainnya, terombang-ambing diantara kedua kubu tersebut. Berkaitan dengan ketegangan terbaru di Timur Tengah, terdapat alasan bagus untuk memperkirakan, bahwa pihak Barat tidak akan dapat menolak tawaran berdialog dari Iran. Artinya, disepakati tenggang waktu berikutnya, yang memberikan kesempatan bagi Teheran untuk terus mengoperasikan sentrifugal pengayaan uraniumnya."
Dan Jerman Die Welt yang terbit di Berlin berkomentar:
"Ahmadinejad mengharapkan terjadinya kebuntuan baru di Dewan Keamanan. Tugas terberat saat ini adalah memaksa Rusia dan Cina untuk menyamakan posisi. Jika tercapai, saatnya menjatuhkan sanksi. Juga jika ancaman perang terus menghantui ruang perundingan, namun harus ditegaskan kepada Ahmadinejad, bahwa sebuah negara adidaya atom Iran akan menjadi sarana keruntuhannya."