Iran Bersikeras Tolak Resolusi PBB
26 Februari 2007
Mengenai perkembangan konflik nuklir dan situasi di Iran, harian Jerman Tagesspiegel yang terbit di Berlin menulis:
„Situasinya tidak jelas. Di satu pihak kritik terhadap Presiden Mahmud Ahmadinejad dan caranya menangani sengketa nuklir makin tajam. Bahkan harian ‚Jomhuri Eslami’ yang dianggap sebagai corong pimpinan spiritual tertinggi Ali Khamenei menulis dalam sebuah surat terbuka kepada presiden, ia membangkitkan kesan, membesar-besarkan masalah nuklir hanya untuk menyembunyikan kesalahan pemerintahannya. Suara masyarakat memang makin kritis terhadap Ahmadinejad karena situasi ekonomi memburuk dan banyak janji-janji kampanye pemilu yang tidak dipenuhi. Beberapa kalangan malah menuduh Ahmadinejad hanya menggiring negaranya ke sebuah perang yang tidak berguna.“
Harian Jerman lain, Frankfurter Allgemeine Zeitung menyoroti berita tentang tes rudal Iran. Harian ini menulis:
„Hari Minggu ada keterangan yang saling bertolak belakang tentang tes rudal baru. Stasiun televisi pemerintah di situs internetnya mengutip Direktur Pusat Dirgantara dan Luar Angkasa, Mohsen Bahrami yang mengatakan, Iran untuk pertama kalinya meluncurkan roket yang bisa mencapai angkasa luar. Namun Wakilnya, Ali Akbar Golru mengatakan kepada kantor berita FARS, roket itu tidak bisa terbang ke angkasa luar. Itu hanya roket ujicoba yang bisa mencapai ketinggian 150 kilometer saja.“
Harian Inggris Independent berkomentar:
“Televisi Iran untuk pertama kalinya melaporkan peluncuran roket ke orbit bumi. Jika benar, ini berarti Iran tidak punya hambatan teknologi lagi untuk membuat roket jarak jauh. Berkaitan dengan pemilihan waktu pengumuman itu, sulit melihatnya sebagai hal lain selain sebuah provokasi.”
Mengenai sikap Iran harian Perancis Le Figaro menilai:
“Tentu saja, ada pernyataan-pernyataan provokatif datang dari Teheran. Tapi pada saat yang sama ada juga sinyal lebih lunak. Memang Iran kelihatannya akan menentang kemauan masyarakat internasional dalam sengketa program nuklir, namun Iran juga tidak membanting pintu perundingan. Tapi, apa maunya Iran? Apakah Iran hanya ingin mendapat pengakuan, yang sampai saat ini ditolak Amerika Serikat? Atau Iran bermaksud memecah belah Dewan Keamanan PBB?“
Harian Italia La Reppublica menulis:
„Terhadap ancaman dari Teheran yang bersikeras melanjutkan program nuklirnya, Amerika Serikat menjawab dengan strategi ganda: Amerika melalui Condoleezza Rice kembali mengajukan tawaran diplomasi dan dialog. Tapi pada saat yang sama dikembangkan suatu worst case strategy, skenario untuk situasi terburuk, yaitu dengan menyempurnakan rencana untuk serangan militer.“