071108 Iran
7 November 2008
Tadinya diperkirakan, seruan untuk berdemonstrasi di hari peringatan penyerbuan kedutaan Amerika Serikat di tahun 1979, bakal diikuti massa pengunjuk rasa besar-besaran. Namun kali ini jumlah demonstran hanya mencapai sepuluh ribuan orang. Padahal di tahun-tahun sebelumnya ratusan ribu warga Iran ikut berdemonstrasi. Seorang demonstran mengatakan:
„Jika Amerika Serikat memenuhi tuntutan Iran, maka kami bersedia untuk berunding. Kalu tidak, kami tidak akan tunduk. Iran hendak mengembangkan teknologi atomnya, tetapi Amerika Serikat menghalang-halanginya. Menurut saya, tidak ada presiden Amerika Serikat yang dapat memenuhi tuntuntan itu. Semuanya seperti Presiden Bush."
Namun dari jumlah orang yang mengikuti aksi ini, nampak sekali bahwa semangat para demonstran sangat terbatas dan jumlahnya semakin berkurang. Dari jajaran politisi saja hanya seorang anggota parlemen yang hadir untuk berpidato. Apakah semua ini pertanda merosotnya pendukung politik anti-Amerika Iran atau pemuda Iran menjauhkan diri dari pemerintahnya? Yang pasti, ketertarikan generasi muda Iran pada politik dan agama semakin berkurang. Terutama di kalangan lulusan perguruan tinggi. Setiap orang ketiga dari mereka tidak mempunyai pekerjaan. Tidak mengherankan, bahwa lulusan jurusan informatika ini malah melihat masa depannya ada di luar negeri:
“Saya sendiri mencoba untuk keluar dari Iran. Karena saya merasa, semua usaha saya tidak ada perspektifnya di masa mendatang. Paling tidak secara ekonomi dan menyangkut lowongan pekerjaan. Saya hidup di sebuah kota yang padat penduduknya. Setiap hari semakin banyak orang datang kemari, sehingga kesempatan saya memperoleh pekerjaan berkurang.“
Sejumlah pemuda Iran merasa masa depan mereka di negerinya sendiri sudah tidak terjamin lagi. Hal ini terlihat dari faktor seperti jumlah pengangguran yang tinggi dan inflasi yang meningkat terus. Apalagi, perkembangan di pasar energi begitu pesat. Bulan Juli saja harga minyak per barel adalah 147 dolar Amerika Serikat dan kini merosot menjadi 57 dolar Amerika Serikat. Iran semakin waspada. Jika harganya tetap bertahan serendah itu, maka sampai akhir tahun ini pemasukan Iran akan berkurang sekitar 50 milyar dolar Amerika Serikat. Padahal beberapa bulan lalu Presiden Mahmud Ahmadinejad meramal bahwa harga minyak Iran tidak akan jatuh dibawah 100 dolar Amerika Serikat per barel.
Ketidakpastian perkembangan Iran akan mengarah ke mana, berdampak pada berkurangnya dukungan rakyat Iran kepada presidennya. Hal ini juga terlihat saat pemilihan presiden Amerika Serikat. Tak begitu banyak di Teheran yang bereaksi terhadap pemilu Amerika Serikat dan sebagian saling bertentangan. Nampaknya pemerintah Iran tidak yakin harus bersikap bagaimana menghadapi presiden baru Barack Obama. Obama menjanjikan perubahan dalam politik Amerika Serikat. Karena itu, Iran tidak dapat menyebutnya sebagai musuh utama pemerintah Iran. Apalagi Amerika Serikat berencana untuk membuka perwakilannya di Teheran dalam waktu dekat. Langkah ini oleh masyarakat internasional bisa diinterpretasikan sebagai usaha mendekatkan diri dengan Iran. Sedangkan Iran sendiri malah merasa semakin terpojok. (an)