1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Iran Kembali Bergolak

28 Desember 2009

Kerusuhan kembali membayangi Iran. Rejim penguasa berusaha menindas aksi protes dengan kekerasan. Ada sensor informasi, tetapi berita-berita tetap sampai ke luar negeri.

Seorang demonstran mengacungkan tanda kemenanganFoto: AP

Harian Italia Corriere della Sera menulis:

Protes terhadap rejim di Teheran kini meluas menjadi gerakan massal. Dan massa yang ikut dalam aksi ini bukan kelompok sembarangan. Sekalipun ada sensor informasi, gambar-gambar yang diselundupkan ke luar negeri menunjukkan, bahwa kebanyakan yang ikut aksi protes adalah orang muda. Ini adalah elemen penting, apalagi di Iran, yang 43 juta masyarakatnya berusia di bawah 33 tahun. Mereka adalah mayoritas. Bukan itu saja. Aksi protes dan kerusuhan kini meluas ke kawasan-kawasan yang dihuni oleh kalangan elit kaum Syiah. Sebelumnya, para demonstran masih menghindari kawasan ini. Tantangan bagi rejim penguasa makin besar. Ini pelahan-lahan bisa menjadi sebuah revolusi.

Harian Italia lainya, La Stampa menulis:

Rejim di Teheran masih tetap kuat dan masih mendapat cukup besar dari masyarakat. Namun ada sesuatu yang berubah. Sekalipun beberapa orang tewas, kalangan oposisi boleh dikata mencatat kemenangan. Sekarang terlihat, penindasan berdarah pada bulan-bulan terakhir gagal menahan gerakan ini. Oposisi Iran punya akar cukup kuat ditengah masyarakat. Rejim penguasa di Iran juga tidak berhasil mengatasi perpecahan internal. Ada kelompok ulama yang mendukung aksi protes, ada kelompok yang dekat dengan pimpinan tertinggi Ali Chamenei. Lalu masih ada kelompok konservatif tradisional yang berhadapan dengan kelompok neokonservatif yang didukung oleh militer dan industrinya.

Harian Perancis Le Figaro berkomentar:

Seperti bulan Juni lalu, ketika gambar perempuan muda Neda yang tertembak tersebar, kematian para martir kali ini juga akan menyulut perlawanan di kalangan rakyat. Apalagi di negara Syiah ini, dimana pemujaan terhadap yang mati selalu punya peran penting. Setiap upacara penguburan bisa meluas menjadi aksi protes terhadap pemerintah. Fenomena ini 30 tahun lalu ikut meruntuhkan rejim Shah Iran. Fenomena ini muncul lagi, kali ini ditujukan melawan para pewaris Khomeini. Tidak tertutup kemungkinan, revolusi menentang para Mullah akan berhasil, sebelum Iran berhasil membuat senjata nuklir.

Isu lain yang jadi sorotan pers adalah upaya peledakan pesawat Amerika Serikat yang sedang menuju bandara Detroit. Pelakunya, warga Nigeria Umar Farouk Abdulmutallab, mengaku mendapat perintah dari jaringan teror Al Qaida. Harian Spanyol El Pais menulis:

Keamanan 100 persen tidak akan ada. Reaksi pertama atas percobaan serangan teror itu adalah memperketat pengawasan. Padahal pada banyak penerbangan ke Amerika Serikat, pengamanan sebelumnya sudah ketat. Ternyata hal itu tidak dapat mencegah pelakunya naik ke pesawat di Amsterdam dan terbang menuju Detroit. Sekarang akan makin banyak antrian di pos-pos pengawasan. Makin banyak pemeriksaan oleh polisi dan pembatasan ruang gerak di atas pesawat. Bagi perusahaan penerbangan, ini berita buruk. Selama dua tahun ini mereka mengalami masa kelam menghadapi dampak krisis ekonomi.

HP/AP/dpa/afp