Iran Klaim Menang Perang, tapi Kekhawatiran Warga Meningkat
10 April 2026
Serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memang telah berhenti sementara. Namun, bagi banyak warga di Iran, rasa takut belum hilang.
Setelah lebih dari sebulan perang, Iran dan AS sepakat pada gencatan senjata bersyarat selama dua pekan yang dimediasi Pakistan. Negosiator kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad akhir pekan ini untuk membahas kemungkinan kesepakatan permanen.
Tak lama setelah gencatan senjata diumumkan, pejabat Iran langsung mengeklaimnya sebagai kemenangan politik. Pemerintah menyebut Iran berhasil menahan tekanan militer dan memaksa lawan mundur.
Narasi resmi juga menekankan bahwa "kemenangan di medan perang" telah diselesaikan lewat jalur politik.
Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Bagi banyak warga, gencatan senjata hanya membawa kelegaan sementara, bukan rasa damai.
Perang memang berhenti sejenak, tetapi sistem politik Iran tetap bertahan. Hal ini justru memicu kekhawatiran bahwa pemerintah petahana yang sempat terpukul oleh perang, akan memperketat represi di dalam negeri.
Situasi gencatan senjata yang masih rapuh juga membuat banyak orang cemas konflik bisa kembali pecah kapan saja. Iran disebut mendekati perundingan dengan sangat hati-hati, sementara pejabat AS menegaskan siap melanjutkan perang jika diplomasi gagal.
Belum ada rasa aman
Seorang warga Iran yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada DW bahwa gencatan senjata belum meredakan ketakutan yang kini dirasakan banyak orang.
"Sekarang ada gencatan senjata dan rezim tidak berubah. Ada kekhawatiran pemerintah akan semakin keras terhadap masyarakat dan situasi akan makin menderita," ujarnya.
Kekhawatiran itu kini banyak dibicarakan di dalam negeri. Warga bertanya-tanya kelanjutan masa depannya.
Warga lain turut mengatakan kepada DW, sebelumnya banyak orang berharap perang akan cepat berujung pada perubahan politik, terutama jika pemimpin senior dan komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas. Namun, harapan itu tidak terwujud.
"Kami kira semuanya akan selesai," katanya. "Sekarang perang memang berhenti sementara, tetapi tidak ada yang benar-benar terselesaikan."
Klaim kemenangan tak dirasakan warga
Media pemerintah dan pejabat Iran mencoba membingkai gencatan senjata sebagai kemenangan, seolah negara berhasil mengubah seolah-olah negara itu telah berhasil mengubah kelangsungan hidup militernya menjadi keberhasilan politik. Namun bagi banyak warga, narasi itu terasa jauh dari kenyataan.
Pemerintah memang masih bertahan, tetapi dampak perang sulit disembunyikan.
Konflik ini menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta merusak infrastruktur vital, dan menunjukkan betapa dekatnya Iran dengan krisis yang lebih besar.
Sistem politik tetap bertahan, tetapi bertahan dengan biaya sebesar itu tidak otomatis terasa sebagai kemenangan bagi masyarakat.
Kondisi ini membentuk suasana publik yang dipenuhi kelelahan, ketidakpastian, dan kecemasan.
Menolak perang bukan berarti dukung pemerintah
Pandangan publik di Iran tidak sesederhana yang sering digambarkan propaganda.
Banyak warga menyalahkan pemerintah atas kondisi yang membawa negara ke titik ini. Namun di saat yang sama, mereka juga menilai Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mendorong perang yang berisiko menimbulkan kehancuran lebih besar.
Warga menolak represi negara, tetapi juga menolak eskalasi militer.
Sejumlah warga yang berbicara kepada DW mengatakan mereka menentang perang, tetapi bukan dalam kerangka yang diinginkan pemerintah. Mereka tidak ingin pemboman dan penderitaan berlanjut, tapi tetap mengkritik sistem politik yang ada.
Kekhawatiran muncul bahwa pemerintah akan memanfaatkan gencatan senjata untuk menampilkan diri sebagai pemenang, lalu memperketat kontrol terhadap masyarakat.
Babak Dorbeiki, mantan pejabat di pusat riset strategis Iran, mengatakan kepada DW bahwa sebagian elemen Garda Revolusi tidak benar-benar ingin perang berakhir.
"Garda Revolusi tidak anti-perang. Sebaliknya, mereka justru menginginkan perang saat ini," sebut Dorbeiki
Menurutnya, sikap anti-perang justru datang dari apa yang ia sebut sebagai "bagian rasional masyarakat."
Dorbeiki menilai penolakan terhadap perang tidak bisa dipisahkan dari penolakan terhadap represi di dalam negeri. Ia mengatakan masyarakat bisa, dan perlu, mengkritik perang, penangkapan, eksekusi, serta sistem otoriter secara bersamaan.
Ia juga menekankan bahwa sikap anti-perang yang bermakna harus disertai tuntutan perubahan cara pemerintah mengelola negara dan bergerak menuju perdamaian.
Pandangan ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas bahwa konflik berkepanjangan dapat membuat batas antara Iran sebagai negara dan sistem politiknya menjadi kabur, sehingga kritik terhadap pemerintah bisa dianggap sebagai ancaman terhadap negara.
Ancaman Trump picu kekhawatiran warga
Menjelang gencatan senjata, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran memicu kekhawatiran besar di kalangan warga.
Seorang sumber di Iran mengatakan kepada DW bahwa setelah peringatan tersebut, harga generator listrik rumah tangga melonjak karena warga berbondong-bondong membelinya.
Menurutnya, yang paling menakutkan bukan hanya kemungkinan serangan lanjutan, tetapi juga perasaan bahwa infrastruktur sipil dasar kini menjadi alat tawar dalam konflik yang tidak bisa mereka kendalikan.
Rasa tidak aman ini semakin diperparah oleh pemadaman internet yang berkepanjangan, membuat banyak warga terputus dari informasi global dan hanya bergantung pada jaringan domestik yang terbatas.
Perang tekan kondisi ekonomi warga
Perang juga memperdalam krisis ekonomi yang sudah berat. Seorang warga Iran mengatakan keluarganya terpaksa menjual tabungan dan emas demi bertahan hidup.
Penghasilannya sebelumnya bergantung pada bisnis melalui Instagram, tapi gangguan internet membuat sumber pendapatan itu hilang.
Warga lain menggambarkan tekanan ekonomi yang semakin parah, hingga pilihan untuk sementara tinggal bersama kerabat pun tidak lagi memungkinkan, karena kondisi mereka sama-sama sulit.
Bagi banyak keluarga, perang berarti pendapatan menurun, harga meningkat, dan kehidupan sehari-hari terganggu. Gencatan senjata dua pekan pun tidak dilihat sebagai kemenangan, melainkan hanya jeda singkat dari tekanan hidup.
Tekanan juga dirasakan jurnalis
Perang juga membuat situasi semakin sulit bagi jurnalis, terutama warga Iran di luar negeri yang ingin menentang perang tanpa dianggap mengikuti narasi pemerintah.
Jurnalis senior Behrouz Tourani mengatakan kepada DW bahwa kesamaan sikap dengan pemerintah dalam beberapa hal bukan masalah utama. Menurutnya, yang lebih penting adalah menjaga independensi dan tidak ikut menyerap narasi tersebut.
Untuk menghindari jebakan, ia menyarankan jurnalis fokus pada dampak kemanusiaan, politik, dan sosial dari konflik.
Meski gencatan senjata menghentikan eskalasi militer untuk sementara, krisis yang lebih dalam belum terselesaikan. Belum jelas bagaimana Amerika Serikat, Israel, dan Iran akan menangani isu penting seperti sanksi, pemulihan, dan represi politik. Ketidakpastian itu membuat situasi di Iran masih terasa rapuh.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Muhammad Hanafi