Iran: Krisis Lingkungan Perparah Ketegangan Sosial
Josh Axelrod
29 Januari 2026
Krisis ekonomi dan tingginya angka inflasi mendorong jutaan pengunjuk rasa turun ke jalan. Perencanaan lingkungan yang buruk menjadi salah satu kelemahan terbesar pemerintah.
Tehran pernah menjadi kota dengan polusi udara terburuk di dunia.Foto: Sobhan Farajvan/Pacific Press/picture alliance
Iklan
Krisis lingkungan di Iran kian telanjang. Negeri para mullah itu kehabisan air bersih dan bergulat dengan polusi udara terburuk di dunia. Bagi para pengkritik, bencana lingkungan ini bukan semata soal iklim, melainkan cermin kegagalan tata kelola rezim teokratis yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
"Jika saya harus menggunakan satu kata, itu adalah pengelolaan yang salah," kata Hamid Pouran, seorang peneliti teknologi lingkungan yang menempuh studi di Iran dan kini berbasis di Inggris, kepada DW.
Iran tengah menjalani kekeringan terparah dalam beberapa dekade. Krisis ini memasuki tahun keenam dan kian akut. Pada November lalu, Presiden Masoud Pezeshkian bahkan melontarkan gagasan memindahkan ibu kota dari Teheran ke wilayah selatan dekat Teluk Persia, sebuah usulan yang dinilai para kritikus lebih sebagai pengalihan isu ketimbang solusi.
Para peneliti lingkungan menegaskan, meski Iran memang beriklim kering dan bergunung, akar krisis terletak pada korupsi serta kebijakan yang mengejar keuntungan jangka pendek. Hal tersebut diperburuk dengan meningkatnya suhu global yang meningkatkan risiko kekeringan di Iran hingga sepuluh kali lipat.
Donald Trump telah secara resmi menarik AS dari perjanjian nuklir internasional dengan Iran. Pemerintah AS terdahulu telah dengan susah payah menegosiasikannya selama bertahun-tahun dengan lima mitra internasional.
Foto: picture-alliance/epa/D. Calma
Yang menjadi masalah
Fasilitas nuklir Iran Bushehr adalah salah satu dari lima fasilitas yang dikenal oleh pengamat internasional. Israel, Amerika Serikat dan negara-negara sekutu telah sepakat bahwa usaha Iran memperkaya uranium - untuk keperluan energi domestik, menurut para pejabat di Teheran - dapat menjadi ancaman bagi kawasan jika hal itu berujung pada pengembangan senjata nuklir.
Foto: picture-alliance/dpa
Akhir dari masalah
Pada 2006, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Cina, Rusia, Prancis, Inggris) dan Jerman (P5+1) memulai proses negosiasi yang melelahkan dengan Iran yang akhirnya mencapai kesepakatan pada 14 Juli 2015. Negara-negara tersebut sepakat memberikan kelonggaran sanksi pada Iran. Sebagai gantinya, pengayaan uranium Iran harus terus dipantau.
Foto: picture alliance / landov
Rakyat Iran setuju
Di Teheran dan kota-kota lain di Iran, warga merayakan apa yang mereka yakini sebagai akhir dari isolasi ekonomi bertahun-tahun yang memberi efek serius pada kesehatan dan gizi masyarakat karena kurangnya akses ke pasokan medis dan makanan untuk warga biasa. Banyak juga yang melihat perjanjian itu sebagai bukti bahwa Presiden Hassan Rouhani berusaha untuk membuka Iran ke dunia dengan cara lain.
Foto: picture alliance/AA/F. Bahrami
Peran IAEA
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ditugaskan untuk memantau kepatuhan Iran kepada kesepakatan itu. Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano (kiri) pergi ke Teheran untuk bertemu dengan Rouhani pada bulan Desember 2016, hampir satu setengah tahun setelah kesepakatan itu ditandatangani. Dalam laporan yang disampaikan setiap tiga bulan, IAEA berulang kali menyertifikasi kepatuhan Iran.
Foto: picture alliance/AA/Iranian Presidency
Sang oponen
Setelah delapan tahun dengan Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu menemukan sosok presiden AS yang ia inginkan dalam Donald Trump. Meski Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi dan ilmu nuklir, ia menyebut perjanjian internasional tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan." Hal ini juga menjadi pokok kampanye pemilunya di 2016.
Foto: Reuters/R. Zvulun
Siapa yang masih ada?
Meskipun ada sertifikasi IAEA dan protes dari Kemlu AS, Trump tetap menarik AS dari perjanjian pada 8 Mei. Pihak-pihak lain telah berjanji untuk tetap berada dalam kesepakatan. Diplomat top Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri), sudah melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari (ki-ka) Iran, Prancis, Jerman dan Inggris.
Foto: picture-alliance/Photoshot
6 foto1 | 6
Air tidak cukup untuk pertanian
Hampir seluruh cadangan air Iran disedot untuk sektor pertanian. Terisolasi dari perdagangan global, pemerintah mengejar swasembada pangan dengan membiarkan petani mengebor sumur hingga lapisan akuifer terdalam.
Iklan
Akibatnya, jumlah sumur di Iran bertambah hingga dua kali lipat dibandingkan dua dekade lalu. Penelitian menunjukkan lebih dari 300 dari 609 akuifer berada dalam kondisi kritis. Sekitar 70% dari total permintaan air negara berada di daerah dengan akuifer yang telah dieksploitasi secara berlebihan.
Petani di Iran bergantung pada air untuk menanam padi.Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/picture alliance
"Sekitar 10 tahun yang lalu, sumur-sumur kering karena semua akuifer sekarang habis, dan ada kebun pistasio yang luas yang kini menjadi seperti arang hitam. Matahari membakar pohon-pohon itu," jelas Houchang Chehabi, sejarawan Boston University yang secara khusus mempelajari politik Iran.
Dan bukan sekadar pohon pistasio yang menderita. Iran tidak lagi memiliki sumber daya air yang cukup untuk mendukung produksi tanaman utamanya: gandum, jelai, beras, dan jagung.
Ketika akuifer dieksploitasi berlebihan tanpa memberi jeda untuk terisi kembali secara alami, tanah pun perlahan turun. Sekitar 3,5% wilayah Iran telah mengalami penurunan tanah, yang dapat merusak jalan, bangunan, dan pipa.
Ada juga dorongan untuk membangun ratusan bendungan di seluruh negeri dalam beberapa dekade terakhir, meski selama 20 tahun terakhir, lebih dari setengah kapasitas waduk tidak terisi. Proyek-proyek ini mengganggu aliran sungai dan mempercepat penguapan air dari waduk.
"Seringkali, bendungan itu dibangun di tempat yang seharusnya tidak dibangun," kata Alex Vatanka, pendiri program Iran di lembaga think tank Middle East Institute. "Studi kelayakan tidak dilakukan, dan mereka telah menciptakan kerusakan ekologis dalam skala dan proporsi yang belum pernah kita lihat sebelumnya."
"Bendungan dibangun karena ada uang yang bisa dihasilkan, negara memfavoritkan hal tersebut," tambahnya.
Lebih dari 30 bendungan dibangun di Barat Laut Iran pada sungai-sungai yang mengalir ke Danau Urmia, yang dulunya merupakan danau air asin terbesar di Timur Tengah. Kini, danau itu hampir seluruhnya mengering.
Sekitar sepertiga populasi kini tinggal di daerah yang kekurangan air. Hasil panen yang menurun mendorong harga pangan naik, dan petani meninggalkan lahan mereka dalam jumlah besar menuju pusat-pusat kota, ini turut memeras sumber daya air di kota-kota.
Hidropolitik: Bendungan di Antara Air dan Kekuasaan
Di seluruh dunia, kehadiran bendungan raksasa dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan berfungsi sebagai simbol status dan kekuasaan. Namun, bagaimana nasib masyarakat yang tinggal di hilir?
Foto: GUILLERMO ARIAS/AFP/Getty Images
Bendungan Raksasa Etiopia GERD: Simbol kebanggaan
Dengan tinggi 145 meter dan panjang hampir 2 kilometer, Bendungan Grand Ethiopian Renaissance mampu memproduksi 5GW listrik. Dibangun tanpa persetujuan dari negara-negara tetangga yakni Mesir dan Sudan, GERD ditolak pendanaannya dari Bank Dunia. Anggaran proyek senilai US$4,8 miliar (Rp67,2 triliun) berasal dari sumbangan pribadi dan obligasi pemerintah. GERD pun jadi kebanggaan rakyat Etiopia.
Foto: Gioia Forster/dpa/picture alliance
Kehidupan di Sungai Nil
Mesir dan Sudan khawatir adanya GERD bisa mengurangi akses air dari Sungai Nil. Etiopia akan punya kendali atas Sungai Nil sebagai sumber irigasi pertanian. Sebagai proyek PLTA, air harus terus mengalir, tetapi negara-negara di hilir tak yakin dengan jaminan Etiopia bahwa mereka tak akan menggunakan GERD untuk kepentingan sendiri, terutama karena ancaman perubahan iklim membuat air semakin langka.
Foto: Joerg Boethling/imago images
Bendungan raksasa di Sungai Mekong
Sejak tahun 1990-an, Cina telah membangun 11 bendungan raksasa di Sungai Mekong, yang membantu menjadikan negara itu produsen PLTA terbesar di dunia. Air pun jadi sumber listrik terbesar kedua setelah batu bara di negara ini. Namun, karena Laos, Thailand, Vietnam, dan Kamboja juga bergantung pada Sungai Mekong, pembangunan bendungan besar-besaran ini telah menimbulkan kekhawatiran di hilir.
Foto: Yang Zheng/Imaginechina/picture alliance
Kekeringan di Kamboja
Di hilir, Delta Mekong menderita karena bendungan-bendungan Cina mengubah waktu dan aliran airnya. Kekeringan menjadi lebih sering terjadi dan stok ikan berkurang menyebabkan komunitas nelayan dan petani di Thailand dan Kamboja merugi, bahkan ketika data satelit menunjukkan mencairnya salju dan rata-rata curah hujan di Sungai Mekong di Cina di atas normal.
Foto: Heng Sinith/AP/picture alliance
Investasi global Cina
Cina juga berinvestasi dalam ratusan proyek PLTA di luar negeri, dari Laos hingga Portugal, dari Kazakhstan hingga Argentina, dan di Afrika termasuk bendungan Souapiti di Guinea. Sebelumnya, proyek infrastruktur besar-besaran ini sering dibiayai oleh Bank Dunia, tetapi kini Cina semakin mengambil alih. Cina tidak memerlukan kesepakatan dari negara-negara yang berbagi wilayah sungai yang sama.
Foto: Sadak Souici/Le Pictorium/imago images
Tergusur karena bendungan
Bendungan Souapiti di Guinea, yang dibiayai China International Water and Electric Corporation, akan memproduksi listrik 450MW di mana hanya sebagian kecil masyarakat di sana yang memiliki akses ke pasokan listrik yang andal. Tetapi untuk membuat bendungan raksasanya yang membanjiri 253 kilometer persegi tanah, sekitar 16.000 orang dari lebih dari 100 desa telah mengungsi, kata Human Rights Watch.
Foto: CELLOU BINANI/AFP
Jadi jembatan di perbatasan?
Pembangunan bendungan Itaipu di Sungai Paraná antara Brasil dan Paraguay membuat sebanyak 65.000 orang harus pindah. Kehadiran bendungan juga menyebabkan ketegangan antara kedua negara, yang menandatangani perjanjian untuk bekerja sama dalam proyek PLTA yang dimiliki bersama pada tahun 1973 itu. Tetapi dengan sebagian besar listrik mengalir ke Brasil, bendungan Itaipu tetap kontroversial.
Foto: Fotoember/imago images
Bendungan Colorado
Perbatasan Meksiko-Amerika Serikat (AS) mungkin menyulap gambaran migrasi dan impian Trump membangun tembok untuk membagi kedua negara. Tetapi selain ketegangan atas mereka yang bermigrasi ke utara, ada kekhawatiran atas aliran Sungai Colorado ke arah berlawanan. Saat sungai mencapai Meksiko, ia telah melewati tujuh negara bagian AS dan banyak bendungan yang mengalihkan airnya untuk perkebunan AS.
Foto: Elliot Spagat/AP/picture alliance
Mengairi Lembah Mexicali
Tetapi kedua negara telah bekerja sama menggunakan Bendungan Morelos di perbatasan mereka untuk mengairi Lembah Mexicali, dengan sistem "denyut" yang meniru aliran alami sungai ke Delta Colorado. Pakar politik air Scott Moore mengatakan hal itu menunjukkan "kerja sama antara AS dan Meksiko, tetapi juga antara kelompok lingkungan, petani, distrik irigasi, dan pengelolaan ekologi." (rap/vlz)
Foto: GUILLERMO ARIAS/AFP/Getty Images
9 foto1 | 9
Polusi udara mencemari kota-kota Iran
Hampir 80% penduduk Iran tinggal di wilayah perkotaan, di mana udara sangat tercemar. Data pemerintah menunjukkan hampir 60.000 orang meninggal akibat udara beracun pada 2024, setara dengan 161 orang per hari.
Sekolah dan kantor pemerintah sering ditutup pada hari-hari dengan polusi tinggi, dan Teheran sering menempati peringkat kota paling tercemar di dunia.
Sebagian besar polusi Teheran berasal dari kendaraan, yang menggunakan bahan bakar berkualitas rendah dan menurut para ahli kendaraan tersebut memiliki teknologi usang.
"Produsen mobil di Iran bisa membuat mobil yang lebih bersih, tapi mereka berhasil masuk pasar karena pasar tertutup dan tidak ada persaingan dengan produk asing, jadi mereka bisa menjual apa pun yang mereka mau," kata Vatanka.
Selain mobil, polusi berasal dari mazut (minyak bakar berat), produk sampingan minyak bumi yang sangat kotor, yang digunakan Iran untuk memasok pembangkit listrik di musim dingin.
Krisis air juga berperan. Saat danau dan sungai mengering, angin mengangkat partikel debu dan pasir berbahaya dari dasar yang terbuka dan membawanya ke seluruh negara.
Meskipun Teheran hampir dikelilingi pegunungan, yang membuat udara kotor terjebak di dalamnya, para peneliti lingkungan mengatakan tata kelola yang buruk adalah penyebab utama polusi.
"Tidak ada yang membuat udara Iran secara alami kotor," kata Vatanka. "Ini masalah kebijakan yang buruk, ketidakpedulian, dan isolasi."
Kekuasaan Berdarah Ayatollah Khomeini
Ayatollah Khomeini mengobarkan revolusi 1979 buat mengakhiri kekuasaan monarki yang represif dan sarat penindasan. Ironisnya negara agama yang ia dirikan justru menggunakan cara-cara serupa untuk bisa bertahan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/FY
Reformasi Setengah Hati
Iran pada dekade 1970an mengalami perubahan besar lewat "Reformasi Putih" yang digenjot Syah Reza Pahlevi. Program yang antara lain berisikan reformasi agraria dan pendidikan itu sebenarnya diarahkan untuk mempersempit pengaruh kaum Mullah dan tuan tanah. Namun Reformasi Putih menciptakan ketegangan sosial yang justru ingin dihindari pemerintah. Seluruh negeri tiba-tiba bergejolak.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Monarki Tanpa Oposisi
Iran pada era Pahlevi membungkam oposisi lewat penculikan, pembunuhan, penyiksaan dan eksekusi mati. Pada demonstrasi massal 1963, sekitar 15.000 mahasiswa tewas terbunuh. Antara 1971 hingga Revolusi Islam 1979, sebanyak 100 tokoh oposisi melepas nyawa di tiang gantungan. Sampai 1975 pemerintah menahan hampir semua jurnalis, seniman, sastrawan, ulama dan akademisi yang bersimpati pada oposisi
Foto: picture alliance/Herbert Rowan
Arus Balik Khomeini
Ayatollah Khomeini yang awalnya mendukung kekuasaan terbatas Monarki Iran, berbalik arah memperkenalkan sistem pemerintahan Islam berbasis kekuasaan Ulama, Wilayatul Faqih. Oleh Pahlevi ia dikucilkan. Putra Khomeini, Mostafa, dibunuh oleh pasukan rahasia Syah Iran, Savak, setahun sebelum revolusi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/FY
Sekulerisme Islam
Namun begitu Khomeini tidak serta merta membangun pemerintahan Mullah di tahun pertama revolusi. Sebaliknya ia mengakui peran kelas menengah dalam menjatuhkan Pahlevi dengan membentuk pemerintahan sekuler di bawah tokoh liberal dan moderat Mehdi Bazargan (gambar) sebagai perdana menteri dan kemudian Abolhassan Banisadr yang merupakan aktivis HAM Iran.
Foto: Iranian.com
Kebangkitan Islam Militan
Tapi menguatnya militansi pengikut Khomeini yang ditandai dengan penyerbuan Kedutaan Besar Amerika Serikat menyudahi peran kaum liberal. Terutama sejak perang Iran-Irak, Khomeini banyak memberangus oposisi. Antara 1981 dan 1985, pemerintah Islam Iran mengeksekusi mati 7900 simpatisan oposisi.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Pengkhianatan Ayatollah
Untuk mempertahankan idenya tentang kekuasaan Ulama, Khomeini tidak cuma mengucilkan perdana menterinya sendiri, ia juga memenjarakan ulama besar Syiah, Ayatollah Sayid Muhammad Kazim Shariatmadari (gambar) dengan tudingan makar dan calon penggantinya, Ayatollah Hossein-Ali Montazeri karena menentang tindakan represif pemerintah.
Foto: tarikhirani.ir
Dekade Berdarah
Dekade 1980-an menandai kekuasaan berdarah Khomeini. Dalam Tribunal Iran, PBB menuding rejim Islam Iran melakukan "pelanggaran berat Hak Azasi Manusia." Selama tahun 1980-an, sebanyak 20.000 tahanan politik meninggal dunia di penjara dan lusinan media diberangus paksa.
Foto: sarafsazan.com
Derita di Balik Jeruji
Pengadilan Kejahatan HAM Iran yang digelar di Den Haag tahun 2012 silam mengungkap berbagai kesaksian mantan tapol. Sebagian besar mengabarkan penyiksaan di penjara, antara lain digantung terbalik selama berhari-hari dan dipaksa melihat adegan penyiksaan terhadap rekannya, serta dikurung di sel isolasi tanpa sinar matahari selama berminggu-minggu.
Foto: iranwebgard.ir
Eksekusi Massal
Hingga kini Iran menjadi salah satu negara dengan jumlah hukuman mati tertinggi di dunia terhadap tahanan politik. Setahun menjelang kematiannya (3 Juni 1989), Khomeini menggulirkan gelombang eksekusi massal terhadap tokoh oposisi. Tidak jelas berapa jumlah tahanan politik yang tewas. Sebuah sumber menyebut jumlah tapol yang dieksekusi mati mencapai 30.000 orang.
Foto: picture-alliance/dpa
9 foto1 | 9
Ada solusi tapi tidak implementasi
Meskipun ada solusi yang dapat memperbaiki masalah lingkungan Iran, Vatanka mengatakan kurangnya kemauan politik untuk melaksanakannya. Para kritikus juga mengatakan beberapa solusi hanya mengatasi gejala, bukan akar masalah.
Mereka menyoroti rencana rezim untuk membangun pipa guna mengalirkan air laut yang telah didesalinasi dari Teluk Persia ke Iran tengah sejauh 800 km sebagai contoh.
Para ahli lingkungan menyerukan Iran untuk fokus pada perbaikan jangka panjang, seperti daur ulang air limbah.
"Yang bisa dilakukan adalah program darurat pengelolaan air limbah untuk menangkap sebagian air limbah Teheran dan menggunakannya kembali," kata Chehabi. "Tapi dalam situasi saat ini, itu memerlukan tingkat perencanaan, koordinasi, dan lainnya, yang sama sekali tidak ada."
Para aktivis lingkungan juga menyerukan reformasi pertanian untuk beralih dari tanaman yang membutuhkan banyak air dan perbaikan qanats, teknologi terowongan kuno Persia yang bantu menyalurkan air dari akuifer, yang kini runtuh akibat dipompa berlebihan.
Bendungan Amirkabir setelah krisis kekeringan di Tehran, IranFoto: Majid Asgaripour/WANA/REUTERS
'Melewatkan kesempatan'
Meskipun dua pertiga Iran menerima sinar matahari selama 300 hari setahun, negara ini menghasilkan kurang dari 4% listrik dari energi terbarukan, menurut laporan International Renewable Energy Agency 2022. Ini terjadi meski mitra dagang terbesar Iran yakni Cina, tengah jadi nomor satu di dunia untuk produksi panel surya.
Meskipun Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, sering terjadi pemadaman listrik dan kekurangan energi akibat kurangnya investasi pada jaringan listrik, infrastruktur yang menua, dan proyek pembangunan yang didasarkan kedekatan politik bukan keahllian.
"Kesempatan bagi Iran sangat besar, tapi selama Anda tidak memiliki visi dan pendekatan serius untuk pembangunan ekonomi, Anda akan melewatkan peluang seperti tenaga surya dan angin," kata Vatanka. "Anda butuh fokus, butuh visi ekonomi, dan itu tidak ada dengan rezim ini," tegasnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris