Iran Lancarkan Permainan Berbahaya
28 Maret 2007
Dua tema yang dikomentari, yakni penangkapan 15 serdadu marinir Inggris oleh Iran dan Konferensi Puncak Liga Arab di Riyadh. Kita awali dengan penahanan 15 serdadu Inggris oleh Iran. Harian Swiss Tages-Anzeiger yang terbit di Zürich berkomentar : Penangkapan serdadu Inggris itu tujuannya untuk mencegah keputusan resolusi baru. Pemerintah di Teheran menyatakan, diperlukan waktu untuk menjelaskan insiden penangkapan tsb. Di sisi lainnya pemecahan konflik atom dengan Iran semakin menjauh, selama pemerintah neo-konservatif di Washington atau pemerintah di London mengancam akan melancarkan aksi kekerasan militer.
Sementara harian Austria Salzburger Nachrichten berkomentar : Iran melancarkan permainan berbahaya. Teheran mungkin berharap, dengan penangkapan serdadu Inggris itu, dapat menekan pemerintah di London berkaitan dengan resolusi baru PBB. Ketika taktik itu gagal, Iran tetap mempertahankan posisinya. Pesan yang disampaikan amat jelas. Barang siapa melakukan agitasi terhadap Iran, mereka harus membayar mahal. Teheran memperhitungkan, risikonya lebih kecil jika memprovokasi konfrontasi terbuka dengan Inggris. Sebab, kecil kemungkinannya London melancarkan aksi balas dendam secara militer.
Sementara harian Jerman Braunschweiger Zeitung menulis : Konflik antara Iran dan barat dapat meningkat menjadi eskalasi kekerasan. Berkaitan dengan penangkapan serdadu Inggris, PM Tony Blair sudah mengatakan, pihaknya dapat bertindak tegas. Bukan hanya menyangkut formulasi sanksi PBB yang lebih tajam, tapi juga aksi kekerasan militer. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad mengambil risiko cukup besar, juga dengan penahanan serdadu Inggris, untuk menunjukan kepada dunia, bahwa negaranya tidak mau tunduk terhadap tekanan sanksi PBB.
Tema lainnya yang diamati dengan seksama oleh harian-harian Eropa adalah konferensi puncak Liga Arab yang digelar di ibukota Arab Saudi, Riyadh. Harian liberal kiri Perancis Liberation yang terbit di Paris dalam tajuknya menulis : Arab Saudi kini bertindak sebagai pemimpin di kawasan itu. Arab Saudi mengangkat kembali rancangan perdamaian Timur Tengah dari tahun 2002 ke meja perundingan. Riyadh juga melancarkan prakarsa perdamaian antara Hamas dan Fatah, karena khawatir situasi di kawasan Palestina akan lepas kendali. Juga Hamas yang dilindungi Arab Saudi, setelah menang pemilu demokratis tahun 2006 lalu dan dibokikot AS serta Eropa, kini semakin mendekat ke Teheran. Tapi, diikutsertakannya Hamas dalam pemerintahan persatuan nasional Palestina, tidak menjadi jaminan bahwa perundingan perdamaian dapat digelar kembali.
Terakhir harian Perancis lainnya La Charente Libre berkomentar : Menjelang konferensi puncak Liga Arab, sekjen PBB Ban Ki Moon dan menteri luar negeri As, Condoleezza Rice berusaha keras, agar perundingan antara Israel dan Palestina dapat dilanjutkan kembali. Tuntutan agar seluruh kawasan pemukiman Yahudi dibongkar atau menjadikan Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina, tidak merepotkan Israel. Akan tetapi rencana Liga Arab bagi pemulangan kembali seluruh pengungsi Palestina ke kawasan asalnya, juga ke Israel, ditolak tegas oleh pemerintah Israel.