Serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran berpotensi menciptakan kerusakan lingkungan jangka panjang. Namun bencana lingkungan akibat perang acap diabaikan.
Kerusakan pada fasilitas nuklir di Isfahan, IranFoto: IDF/GPO/SIPA/picture alliance
Iklan
Sejumlah besar bom penghancur bunker dan rudal jelajah menghantam jantung infrastruktur nuklir Iran selama dua pekan terakhir. Tak ada angka pasti tentang berapa banyak proyektil yang telah dilepaskan. Namun pada Minggu, 22 Juni, saja, dilaporkan sebanyak 14 bom seberat 13,6 ton dan 30 rudal Tomahawk menghujani fasilitas nuklir Fordow, Isfahan, dan Natanz.
Hingga kini, laporan soal dampak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel itu masih simpang siur. "Kami memang melihat beberapa kerusakan lewat citra satelit, tapi kami belum bisa memastikan skala kerusakan dan nilai kerugiannya,” kata Gaukhar Mukhatzhanova, pakar dari Pusat Pelucutan Senjata dan Non-Proliferasi di Wina, kepada Deutsche Welle (DW), 23 Juni lalu.
Lembaga Energi Atom Internasional (IAEA) menduga ada kontaminasi radioaktif dan kimia di sejumlah lokasi. Yang paling mencemaskan adalah kemungkinan kerusakan ribuan sentrifugal di fasilitas bawah tanah Fordow akibat padamnya aliran listrik secara mendadak.
Sentrifugal digunakan untuk memproses uranium heksafluorida (UF6), zat ultrareaktif yang jika bocor bisa membawa risiko kesehatan dan lingkungan serius.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Inspektur dilarang masuk
Sejauh ini belum ada laporan resmi tentang lonjakan radiasi di luar kompleks nuklir Iran. Namun, IAEA tidak memiliki akses langsung ke lokasi terdampak. Sementara dari pihak berwenang di Iran, yang terdengar hanyalah keheningan.
"Masalah terbesar kita adalah ketidaktahuan,” ujar Rozbeh Eskandari, pakar lingkungan asal Iran yang kini menetap di Kanada. Eskandari, yang telah bertahun-tahun meneliti pencemaran lingkungan di negaranya, mengkritik keras kurangnya informasi yang diberikan pemerintah Iran kepada publik.
"Pemerintah selalu mengatakan semuanya terkendali. Tapi mereka juga tidak memberi informasi yang bisa diverifikasi, bahkan kepada warga yang tinggal dekat dengan lokasi ledakan,” katanya.
Donald Trump telah secara resmi menarik AS dari perjanjian nuklir internasional dengan Iran. Pemerintah AS terdahulu telah dengan susah payah menegosiasikannya selama bertahun-tahun dengan lima mitra internasional.
Foto: picture-alliance/epa/D. Calma
Yang menjadi masalah
Fasilitas nuklir Iran Bushehr adalah salah satu dari lima fasilitas yang dikenal oleh pengamat internasional. Israel, Amerika Serikat dan negara-negara sekutu telah sepakat bahwa usaha Iran memperkaya uranium - untuk keperluan energi domestik, menurut para pejabat di Teheran - dapat menjadi ancaman bagi kawasan jika hal itu berujung pada pengembangan senjata nuklir.
Foto: picture-alliance/dpa
Akhir dari masalah
Pada 2006, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Cina, Rusia, Prancis, Inggris) dan Jerman (P5+1) memulai proses negosiasi yang melelahkan dengan Iran yang akhirnya mencapai kesepakatan pada 14 Juli 2015. Negara-negara tersebut sepakat memberikan kelonggaran sanksi pada Iran. Sebagai gantinya, pengayaan uranium Iran harus terus dipantau.
Foto: picture alliance / landov
Rakyat Iran setuju
Di Teheran dan kota-kota lain di Iran, warga merayakan apa yang mereka yakini sebagai akhir dari isolasi ekonomi bertahun-tahun yang memberi efek serius pada kesehatan dan gizi masyarakat karena kurangnya akses ke pasokan medis dan makanan untuk warga biasa. Banyak juga yang melihat perjanjian itu sebagai bukti bahwa Presiden Hassan Rouhani berusaha untuk membuka Iran ke dunia dengan cara lain.
Foto: picture alliance/AA/F. Bahrami
Peran IAEA
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ditugaskan untuk memantau kepatuhan Iran kepada kesepakatan itu. Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano (kiri) pergi ke Teheran untuk bertemu dengan Rouhani pada bulan Desember 2016, hampir satu setengah tahun setelah kesepakatan itu ditandatangani. Dalam laporan yang disampaikan setiap tiga bulan, IAEA berulang kali menyertifikasi kepatuhan Iran.
Foto: picture alliance/AA/Iranian Presidency
Sang oponen
Setelah delapan tahun dengan Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu menemukan sosok presiden AS yang ia inginkan dalam Donald Trump. Meski Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi dan ilmu nuklir, ia menyebut perjanjian internasional tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan." Hal ini juga menjadi pokok kampanye pemilunya di 2016.
Foto: Reuters/R. Zvulun
Siapa yang masih ada?
Meskipun ada sertifikasi IAEA dan protes dari Kemlu AS, Trump tetap menarik AS dari perjanjian pada 8 Mei. Pihak-pihak lain telah berjanji untuk tetap berada dalam kesepakatan. Diplomat top Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri), sudah melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari (ki-ka) Iran, Prancis, Jerman dan Inggris.
Foto: picture-alliance/Photoshot
6 foto1 | 6
Jejak hitam di langit dan bumi
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pada akhir April lalu, sebuah ledakan besar mengguncang pelabuhan Bandar Abbas, selatan Iran. Api membakar zat-zat kimia yang memuntahkan awan pekat berisi jelaga, nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO₂), dan polutan lainnya. Udara di kawasan sekitar memburuk selama beberapa hari.
Eskandari menekankan bahwa polutan seperti ini bukan hanya mengotori udara, tetapi juga menyerap ke dalam tanah. "Pencemaran tanah akibat konflik bersenjata adalah bencana lingkungan yang paling sering diabaikan,” ujarnya. Racun-racun itu bisa menetap selama puluhan tahun di lapisan atas tanah, menurunkan kualitasnya, menghilangkan kesuburan, dan menghambat regenerasi alami.
Iklan
Luka lama yang tak sembuh
Bagi Iran, kerusakan lingkungan akibat konflik bukan cerita baru. Selama delapan tahun perang Iran-Irak (1980–1988), provinsi seperti Chuzestan, Ilam, dan Kermansyah mengalami kehancuran besar.
Chuzestan, wilayah strategis dengan ladang minyak dan kawasan industri utama, dibombardir tanpa henti. Aktivitas militer meninggalkan endapan logam berat dan residu beracun di banyak tempat. Tanah yang dulunya subur menjadi tidak bisa digarap. Penelitian dari universitas-universitas lokal menemukan peningkatan tajam dalam kasus kanker, gangguan pernapasan, dan penyakit kulit di kalangan warga lokal.
Nuklir mengancam secara tidak langsung. Tambang dan pemerkayaan Uranium untuk tujuan sipil atau militer, bencana dan limbah nuklir melepaskan elemen radioaktif ke udara. Ratusan ribu manusia pernah menjadi korban
Foto: picture-alliance/dpa
Lebih dari 2000 Ledakan Nuklir Sejak 1945
Amerika Serikat meledakkan 1039 bom nuklir sejak berakhirnya Perang Dunia II. Sementara Uni Sovyet 718, Perancis 198, Inggris dan Cina 45 ledakan, India dan Korea Utara masing-masing tiga kali, Pakistan dua kali. Puluhan ribu manusia terpapar zat radioaktif secara langsung akibat uji coba tersebut.
Foto: Getty Images/AFP
1945: Bom Atom di Hiroshima
140.000 dari 350.000 penduduk Hiroshima meninggal dunia sebulan setelah ledakan nuklir akibat kanker, jantung atau perubahan hormon dan Chromosom. Hingga kini tingkat pengidap Leukimia di Hiroshima tertinggi di antara penduduk Jepang di kawasan lain.
Foto: picture-alliance/dpa
Seribu Uji Coba Nuklir di Nevada
Uji coba di sekitar kamp Mercury dari 1950 hingga 1992 mengkontaminasi sebagian wilayah AS. Pada gigi balita misalnya ditemukan Strontium yang memancarkan zat radioaktif. Selain itu angka penderita penyakit Kanker juga meningkat tajam. Dari 1963 hingga 1992 pemerintah AS melakukan uji coba nuklir di bawah tanah.
Foto: Getty Images
Kompleks Nuklir Sellafield
Sejak 1952 reaktor pertama Inggris memproduksi Plutonium untuk membuat bom atom. Empat tahun kemudian pemerintah mulai menggunakan energi nuklir buat memproduksi listrik. 1957 salah satu reaktor terbakar yang disusul dengan berbagai insiden. Tanah dari air terpapar zat radioaktif. Sebagian putra putri pegawai di kompleks nuklir Sellafield hingga kini masih menderita Leukimia.
Foto: Getty Images
Tambang Uranium Mematikan
Kawasan Wismut di timur Jerman pernah menjadi tambang Uranium terbesar di dunia antara 1946 hingga 1990. Tambang tersebut mengirimkan bahan baku buat program nuklir Uni Sovyet. Menurut pemerintah Jerman, satu dari delapan buruh tambang meninggal dunia akibat radioaktivitas, keseluruhannya mencapai 7000 orang. Sementara penduduk di sekitar banyak yang menghidap kanker paru-paru.
Foto: Wismut GmbH
Pancaran Radioaktif dari Kota Misterius
Di kota nuklir Tomsk-7 di Siberia yang hingga 1992 masih dirahasiakan terjadi sebuah insiden ketika 1993 sebuah tanki penyimpanan meledak. Zat-zat radioaktif semisal Plutonium dan Sesium meracuni wilayah sekitar. Uni Sovyet tercatat merahasiakan 38 insiden nuklir di kota Tomsk-7 dan Majak. Ratusan ribu buruh dan keluarganya terpapar zat radioaktif.
Foto: imago/ITAR-TASS
1979: Bencana Nuklir Harrisburg
Kebocoran nuklir di pembangkit listrik Three Mile Island di Amerika Serikat adalah bencana nuklir terbesar sebelum Chernobyl dan Fukushima. Zat-zat radioaktif dalam jumlah besar mengotori lingkungan sekitar. Sebuah studi independen membuktikan tingginya angka penduduk berpotensi mengidap penyakit Kanker pasca bencana. Sebaliknya lobi industri nuklir menepis temuan tersebut dengan studi tandingan
Foto: picture-alliance/dpa
1986: Bencana di Chernobyl
Saudara kembar ini dilahirkan setelah bencana. Sang ayah adalah Liquidator, pegawai harakiri yang ditugaskan membersihkan reaktor sesaat setelah ledakan nuklir. Adapun sang ibu hidup di kota yang terkontaminasi. Kebocoran nukilr dan ledakan yang menyertainya melepaskan zat radioaktif dalam jumlah besar ke udara. Journal of Cancer melaporkan lebih dari 15.000 penduduk meninggal dunia akibat kanker.
Foto: picture alliance/dpa
2011: Tsunami Menyusul Insiden Nuklir di Fukushima
Kebocoran nuklir di Fukushima yang disebabkan oleh Tsunami hingga kini masih tercatat sebagai pencemaran radioaktif di laut paling parah. Pakar nuklir memperkirakan 22.000 hingga 66.000 kematian tambahan akibat kanker. Sejak 2011, anak-anak di wilayah sekitar Fukushima menderita kanker tiroid.
Foto: Reuters
Bahaya Limbah Nuklir
Limbah nuklir tingkat tinggi membutuhkan jutaan tahun hingga tidak lagi memancarkan zat radioaktif. Namun Tempat Penyimpanan Akhir untuk limbah atom hingga kini belum ada di seluruh dunia. Jerman menganggarkan miliaran Euro per tahun untuk mengelola tempat penyimpanan sementara limbah nuklir.
Foto: dapd
Irak: Leukimia Lewat Amunisi Uranium
Penggunaan amunisi yang mengandung Uranium selama Perang Teluk di awal dekade 1990-an mengancam nyawa penduduk secara tidak langsung. Hingga kini penduduk kota Bashra mencatat tingginya angka kelahiran cacat dan penderita kanker. Selain itu jumlah anak-anak yang menderita Kanker juga meningkat drastis.
Foto: picture-alliance/dpa
11 foto1 | 11
Ekologi yang rusak ini diperparah oleh tata kelola buruk dan perubahan iklim. Gelombang panas makin sering datang, memaksa banyak warga meninggalkan kampung halaman.
Statistik terakhir menunjukkan, Chuzestan mencatat angka perpindahan penduduk tertinggi di antara seluruh provinsi Iran dalam dua dekade terakhir. Kota Shush — salah satu kota tertua yang terus dihuni sejak ribuan tahun lalu dan pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Elam — serta Shushtar, dengan sistem irigasi kuno yang diakui UNESCO, kini menyusut penduduknya dari tahun ke tahun.
Dampak senyap perang modern
Serangan terhadap instalasi nuklir bukan hanya soal militer atau strategi geopolitik. Dia juga membawa dampak senyap namun mematikan: pencemaran tanah, ancaman kesehatan jangka panjang, dan pergeseran demografi. Dalam diamnya, tanah yang terkontaminasi dan rusaknya ekosistem, tersimpan trauma kolektif bangsa yang belum benar-benar selesai.
Dan hari ini, ketika langit Iran kembali menghitam oleh asap ledakan, satu pertanyaan mengemuka: akankah sejarah kehancuran ekologis kembali terulang, atau bisakah dunia internasional mencegahnya kali ini?
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman