Israel dan Lebanon resmi menggelar pembicaraan di AS. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendorong Israel dan Lebanon untuk memanfaatkan apa yang disebutnya sebagai “kesempatan bersejarah” bagi perdamaian keduanya.
“Harapan kita hari ini adalah agar kita dapat merumuskan kerangka kerja yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan,” kata RubioFoto: Jacquelyn Martin/AP Photo/dpa/picture alliance
Iklan
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyebut pertemuan Israeldan Lebanon sebagai "kesempatan bersejarah” untuk perdamaian, ketika para duta besar kedua negara untuk Amerika Serikat bertemu dalam pembicaraan diplomatik tatap muka pertama sejak tahun 1993.
"Harapan hari ini adalah agar kita dapat merumuskan kerangka kerja yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian yang aktual dan langgeng,” kata Rubio.
AS mendesak sekutunya, Israel, untuk mengakhiri operasi militer terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Tujuannya agar Israel dapat memusatkan perhatian untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden Lebanon Joseph Aoun pada hari Selasa (14/04) menyampaikan harapannya bahwa pembicaraan ini akan “menandai awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon.”
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Sejak konflik dimulai, ribuan warga Lebanon telah tewas, ribuan lainnya terluka, dan lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi. Banyak perdebatan muncul mengenai apakah Lebanon seharusnya ikut serta dalam gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sementara itu, Hizbullah menolak semua kesempatan berdialog dengan Israel dan dilaporkan meningkatkan serangan saat berlangsungnya pembicaraan antara Lebanon dan Israel di AS.
Israel dan Lebanon lawan Hizbullah
Dalam pernyataan kepada wartawan usai pembicaraan antara Israel dan Lebanon pada Selasa (14/04), Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter mengatakan, "kami berada di pihak yang sama dalam persoalan ini dan itu merupakan hal paling positif yang bisa kami dapatkan.”
Leiter juga menegaskan kedua belah pihak ingin melihat kehancuran Hizbullah, kelompok militan Syiah yang didukung Iran.
"Pemerintah Lebanon telah menegaskan bahwa mereka tidak akan lagi dikuasai oleh Hizbullah, dan itu akan melemahkan Iran. Hizbullah melemah secara signifikan, ini adalah peluang,” lanjut Leiter.
Gelombang Serangan Israel Mengguncang Lebanon
01:05
This browser does not support the video element.
Leiter menyoroti beberapa titik kesepakatan, tetapi menegaskan bahwa Israel perlu melihat komitmen Lebanon untuk "sepenuhnya” memisahkan diri dari Teheran dan Hizbullah. Ia juga memuji perwakilan Lebanon atas kerja sama yang dilakukan meski ada tekanan dari Hizbullah untuk memboikot pertemuan itu.
Iklan
Dubes Lebanon: Pembicaraan berlangsung konstruktif
Dalam sebuah pernyataan, Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad mengatakan bahwa pembicaraannya dengan Duta Besar Israel serta Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio berlangsung secara “konstruktif.”
Dubes Moawed juga mengatakan bahwa ia telah "menyerukan gencatan senjata” selama pertemuan berlangsung dan menuntut agar warga Lebanon yang mengungsi diizinkan kembali ke rumah mereka, seraya menekankan pentingnya "kedaulatan penuh negara” atas seluruh wilayah Lebanon.
Wilayah selatan Lebanon telah menjadi sasaran serangan selama berminggu-minggu dan menurut laporan, lebih dari satu juta penduduk terpaksa mengungsi akibat serangan Israel.
Sementara itu, sejumlah politisi Israel yang bersikap radikal telah menyerukan pencaplokan (aneksasi) sebagian wilayah Lebanon.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris