1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Israel dan Lebanon: Damai tanpa Hizbullah?

7 Mei 2026

Meski Israel dan Lebanon kembali ke meja perundingan, pertempuran masih berkecamuk di selatan. Diragukan, apakah kedua negara bisa menjalin kesepakatan, tanpa melibatkan Hizbullah yang tidak diundang.

Asap mengepul dari sebuah desa di selatan Lebanon yang diserang Israel, 6 Mei 2026
Serangan Israel di selatan LebanonFoto: Ammar Awad/REUTERS

Diplomasi bergerak, tetapi perang belum berhenti. Di Washington, Israel dan Lebanon baru-baru ini memulai putaran perundingan yang diklaim bernilai historis. Secara hukum internasional, kedua negara masih berada dalam status perang sejak lebih dari setengah abad lalu.

Namun di Lebanon selatan, pertempuran tetap berlangsung. Dalam beberapa hari terakhir, milisi Syiah Hizbullah kembali terlibat bentrokan dengan militer Israel—konflik yang selama puluhan tahun terus berulang dengan intensitas berbeda-beda.

Pemerintah Israel dan Lebanon kini sama-sama mencari jalan keluar. Namun ada satu persoalan mendasar: Hizbullah, kekuatan militer paling dominan di Lebanon yang oleh banyak negara Barat dikategorikan sebagai organisasi teroris, tidak dilibatkan dalam perundingan tersebut.

Meski begitu, pembicaraan yang dimulai pada pertengahan April bersamaan dengan gencatan senjata tetap dianggap sebagai kemajuan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, wakil Israel dan Lebanon berbicara langsung satu sama lain. Tetapi diplomasi itu berlangsung di tengah suara senjata yang belum benar-benar reda.

Pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon di bawah mediasi Presiden AS Donald TrumpFoto: Brendan Smialowski/AFP

Negosiasi tanpa aktor utama

Pengamat politik Hanna Voß dari Friedrich-Ebert-Stiftung di Beirut melihat kelemahan utama proses ini justru terletak pada absennya Hizbullah.

"Padahal Hizbullah adalah salah satu pihak utama dalam perang,” kata Voß kepada Deutsche Welle.

Menurut dia, negosiasi berlangsung tanpa melibatkan salah satu aktor paling menentukan dalam konflik tersebut. Ketimpangan ini membuat peluang keberhasilan sejak awal menjadi terbatas dan dapat mempersoalkan legitimasi hasil perundingan nantinya.

Masalahnya, milisi yang didukung Iran itu selama ini menolak keras segala bentuk negosiasi langsung dengan Israel.

Ketimpangan lain juga terlihat jelas. Pakar Timur Tengah Stefan Lukas, pendiri lembaga analisis Middle East Minds di Berlin, Jerman, menilai kapasitas politik dan militer kedua pihak sangat tidak seimbang.

"Israel memiliki kemampuan eskalasi—dan mereka menggunakannya,” ujarnya.

Dominasi Israel

Israel tidak hanya unggul secara militer, tetapi juga secara ekonomi. Ilmuwan politik Houssein el Mouallem bahkan menyebut proses diplomasi ini sebagai "penguatan ketimpangan kekuasaan di balik kedok diplomasi”.

Menurut dia, negosiasi tidak benar-benar diarahkan untuk menyelesaikan konflik, melainkan berlangsung dalam kondisi yang justru mempertahankan struktur kekuatan yang sudah ada.

Lebanon sendiri dinilai hampir tidak memiliki posisi tawar.

"Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘Lebanon'?” kata Lukas.

Pemerintah di Beirut dianggap tidak memiliki basis kekuasaan yang kuat, sementara Hizbullah tetap menjadi aktor utama yang bisa bergerak secara independen meski mengalami kerugian militer. Banyak analis meyakini kekuatan militer Hizbullah bahkan masih melampaui tentara resmi Lebanon—padahal militer negara itulah yang secara teori bertugas melucuti kelompok tersebut.

"Negara Lebanon pada dasarnya tidak punya alat tekanan,” kata Voß.

Gelombang Serangan Israel Mengguncang Lebanon

01:05

This browser does not support the video element.

Tuntutan agar Hizbullah dilucuti dinilai hampir mustahil diwujudkan. "Dengan apa negara akan menghadapi mereka?” ujarnya.

Situasi ini menciptakan dilema besar dalam negosiasi. Israel mengaitkan kemajuan diplomatik dengan syarat-syarat yang hampir mustahil dipenuhi Lebanon tanpa mengguncang stabilitas negaranya sendiri.

Tekanan Amerika dan bayang-bayang Iran

Di luar kedua pihak, aktor asing juga memainkan peran besar. Menurut Lukas, Washington memberikan tekanan yang kuat, tetapi pengaruh Amerika akan tetap terbatas selama pemerintahan Donald Trump belum mencapai kesepakatan dengan Iran.

Voß menilai situasi itu semakin melemahkan Lebanon.

"Negara ini terjebak di antara beberapa kutub dan hampir tidak memiliki ruang gerak,” katanya.

Amerika Serikat mendukung Israel, sementara Iran dan Hizbullah memiliki agenda masing-masing. Akibatnya, ruang manuver pemerintah Lebanon yang sejak lama dianggap lemah semakin menyempit.

Iran sendiri tampaknya melihat konflik Lebanon sebagai kartu strategis dalam persaingan regional.

"Iran tahu bagaimana mempengaruhi negosiasi dengan biaya minimal,” ujar Lukas.

Dengan demikian, Lebanon bukan hanya menjadi objek negosiasi, tetapi juga arena perebutan pengaruh geopolitik yang lebih luas.

Hizbullah tetap berpengaruh

Dalam situasi tersebut, Hizbullah memainkan dua peran sekaligus: sebagai musuh militer Israel dan sebagai kekuatan politik domestik yang tertanam kuat dalam masyarakat Lebanon.

Selain memiliki jaringan militer, Hizbullah juga aktif di bidang sosial dan mengklaim diri sebagai representasi komunitas Syiah Lebanon.

"Mereka sangat mengakar di masyarakat,” kata Voß.

Basis sosial itu membuat Hizbullah memiliki pengaruh politik yang besar sekaligus sulit dikendalikan.

Militer Lebanon Mundur akibat Gempuran Israel

00:59

This browser does not support the video element.

Namun peran Hizbullah di Lebanon yang multikonfesional juga semakin diperdebatkan. Menurut Lukas, citra kelompok itu kini "bercampur aduk”.

Data lembaga riset Arab Barometer menunjukkan kondisi yang serupa. Sebanyak 28 persen warga Lebanon menyebut penghentian kehadiran militer Israel di Lebanon sebagai prioritas utama, sementara 20 persen menginginkan pelucutan senjata kelompok nonnegara—yang merujuk pada Hizbullah.

Artinya, penolakan terhadap Israel dan kecurigaan terhadap Hizbullah hidup berdampingan dalam masyarakat Lebanon, mencerminkan keterbelahan internal negara tersebut.

Ketakutan warga sipil

Bagi banyak warga Lebanon selatan, pembicaraan di Washington belum memberi harapan besar.

"Saya tidak percaya pemerintah Lebanon bisa mengembalikan tanah saya,” kata Hanaa Zalghout, warga desa di Lebanon selatan.

Rumahnya hancur dan desanya diduduki tentara Israel.

"Kalaupun ada kesepakatan, saya takut itu akan dibayar dengan hilangnya desa kami,” ujarnya.

Petani bernama Ahmad Ismail menggambarkan situasi yang tak kalah suram.

"Mungkin saya hanya bisa melihat kampung halaman saya dalam mimpi,” katanya.

Banyak warga yang mengungsi khawatir "garis kuning”—wilayah yang kini dikuasai Israel di Lebanon selatan—akan menjadi batas permanen yang tidak lagi bisa mereka lewati bahkan setelah tercapai kesepakatan politik.

Risiko pendudukan jangka panjang

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Israel berulang kali menegaskan Hizbullah harus sepenuhnya keluar dari wilayah selatan Sungai Litani untuk mencegah serangan ke Israel utara.

Sebagian pengamat melihat Israel mungkin mencoba melakukan secara langsung apa yang dinilai tidak mampu dilakukan tentara Lebanon: memastikan tidak ada lagi serangan Hizbullah dari wilayah tersebut.

Menurut Hanna Voß, jika tidak dipaksa mundur, Israel kemungkinan akan membentuk "zona penyangga”. Hal ini dapat menciptakan fakta politik baru yang sulit dibalikkan dalam jangka panjang.

Sejumlah pernyataan pejabat Israel memperkuat dugaan tersebut. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich beberapa kali berbicara mengenai kemungkinan penataan ulang wilayah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga tidak menutup kemungkinan kehadiran militer jangka panjang di Lebanon.

Israel, kata Netanyahu, akan tetap bercokol di selatan Lebanon "untuk masa yang dapat diperkirakan” atau sampai ditemukan pengaturan keamanan baru.

Apakah ini mengarah pada aneksasi? Voß menilai kemungkinan itu tidak bisa dikesampingkan.

"Israel menggunakan bahasa keamanan untuk menciptakan fakta-fakta teritorial baru,” ujarnya—pola yang menurut dia pernah terlihat di wilayah konflik lain.

Bagi Lebanon, situasi ini membuat kemungkinan kesepakatan damai justru mengandung risiko besar. Bahkan jika suatu hari tercapai perjanjian bersejarah di Washington, baik Israel maupun Hizbullah masih dapat menggunakan kekuatan militer untuk menggagalkan implementasinya.

Di tengah tarik-menarik dua kekuatan itu, pemerintah Lebanon berisiko kembali terjepit di antara dua kutub yang saling bermusuhan.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya