1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Israel Gempur Lebanon, Iran Ancam Kembali Berperang

Midhat Fatimah sumber: AFP, dpa
9 April 2026

Gencatan senjata antara AS, Israel, dan Iran dinilai mulai retak, salah satunya akibat perbedaan pendapat soal apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan atau tidak.

Kepulan asap setelah serangan udara Israel ke sebuah gedung di Beirut, Lebanon, 8 April 2026
Israel menegaskan akan terus mengejar tujuan melucuti senjata Hizbullah di LebanonFoto: Hassan Ammar/AP Photo/picture alliance

Setelah serangan Israel di Lebanon pada Rabu (08/04) yang menewaskan dan melukai ratusan orang, Iran mengancam akan melanjutkan pertempuran. Menurut otoritas kesehatan Lebanon, setidaknya 182 orang meninggal dunia dan 900 lainnya terluka akibat serangan itu.

Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran berselisih mengenai perpanjangan kesepakatan gencatan senjata ke Lebanon.

Seorang pejabat senior AS mengatakan proporsal gencatan senjata yang berisi 10 poin dari Iran bukanlah serangkaian syarat yang sama dan telah disetujui AS untuk menghentikan perang. 

"Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka, dan yang tidak pernah sekali pun disebut AS sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka," tambah Wakil Presiden AS JD Vance.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang diduga dilakukan AS. Dalam unggahannya di X, ia mengatakan "dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk bernegosiasi sudah dilanggar, sehingga pembicaraan lanjutan menjadi tidak masuk akal."

Ghalibaf menuding ada tiga pelanggaran oleh AS yakni pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone, serta pelanggaran terhadap hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.

Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan, mereka akan "memenuhi kewajiban dan memberikan tanggapan" jika Israel tidak menghentikan serangannya. Kelompok militan Hizbullah menegaskan mereka memiliki "hak" untuk menanggapi serangan Israel.

PBB: Serangan Israel ke Lebanon bisa jadi 'risiko serius' gencatan senjata

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, lewat juru bicaranya memperingatkan bahwa serangan Israel di Lebanon bisa menimbulkan "risiko serius" terhadap gencatan senjata AS-Iran.

"Aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata dan upaya menuju perdamaian yang komprehensif di kawasan ini. Sekretaris Jenderal mengulangi seruannya kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan," kata juru bicara Sekjen PBB dalam sebuah pernyataan, Rabu (08/04).

"Sekretaris Jenderal mengutuk keras hilangnya nyawa warga sipil dan sangat prihatin dengan meningkatnya jumlah korban sipil, serta menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan jalur diplomatik dan menekankan tidak menggunakan militer untuk konflik ini," kata juru bicara tersebut.

Hizbullah serang balik Israel

Hizbullah mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke Israel sebagai tanggapan atas serangan yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata AS-Iran, Kamis (09/04).

Kelompok militan yang didukung Iran itu mengatakan mereka meluncurkan serangan roket ke kibbutz Manara di Israel utara "sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh."

Iran mengatakan gencatan senjata harus berlaku untuk Lebanon, mengutip pernyataan dari Pakistan, yang menjadi mediator gencatan senjata tersebut. Namun, AS dan Israel mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak berlaku untuk Lebanon.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait