1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Israel Mulai Bebaskan Aktivis Yang Ditahan

2 Juni 2010

Israel telah mendeportasi lebih 400 orang di antara sekitar 600 aktivis asing yang ditahan setelah di kapal bantuan untuk Gaza disergap dalam operasi berdarah militer Israel.

Seorang aktivis asal Yordania disambut keluarganya ketika melewati perbatasan AllenbyFoto: AP

Sekitar 450 aktivis yang ikut dalam konvoi kapal Bebaskan Gaza sudah meninggalkan penjara Ela di Israel Selatan, Rabu pagi (02/06). Sebagian besar dipulangkan melalui bandara udara Ben Gurion dengan 3 pesawat Turki. Sebelumnya, Selasa malam (01/06), 123 warga negara-negara Arab dideportasi dengan bis melalui perbatasan Allenby, antara Israel dan Yordania. Di perbatasan Allenby, para aktivis yang kembali dengan bis itu disambut sebagai pahlawan.

Sementara di kota Beersheba, juru bicara di penjara Ela menyebutkan, 186 aktivis lainnya belum selesai proses pembebasannya. Namun diperkirakan proses itu akan rampung dalam waktu 48 jam.

Sejak menyerang kapal Mavi Marmara, Israel menuai kritik internasional atas terbunuhnya belasan orang aktivis. Meski begitu, keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanjahu untuk segera memulangkan aktivis internasional, sempat menjadi perdebatan di kabinet. Harian "Yedioth Achronoth" melaporkan, dua anggota kabinet menganggap pembebasan aktifis akan memberikan isyarat keamanan yang salah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Yuval Steinitz dari partai Likud, membela operasi militer itu. "Aksi-aksi militer atau keamanan seperti ini tidak bisa 100 persen mulus. Tak mungkin bisa memperhitungkan semua kejadian dan harus siap untuk segala hal. Kita jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Menteri pertahanan dan militer Israel telah mengambil keputusan yang benar dan melakukan tindakan yang tepat, guna menghindari dibukanya blokade terhadap Gaza.“

Perdana Menteri Netanjahu yang satu partai dengan Steinitz juga menegaskan bahwa Israel akan mempertahankan blokade laut terhadap Jalur Gaza. Disebutkan, blokade itu penting untuk menghambat penyelundupan senjata ke Gaza. Tukasnya, flotilla "Bebaskan Gaza" bukan damai, tapi merupakan tindak kekerasan.

Namun di dalam negeri, kecaman terhadap serangan itu juga terdengar. Banyak warga menganggap badan intelijen dan militer Israel bisa melakukan operasi tanpa jatuh korban. Sedangkan penyelundupan senjata untuk Hamas, tetap terjadi melalui terowongan-terowongan ke Mesir.

Mantan Duta Besar Israel di Ankara, Alon Liel, menyimpulkan dampak serangan itu bagi Israel, "Di panggung internasional kita mudah dilukai. Dengan peristiwa ini, posisi kita di luar negeri bertambah sulit. Saya kira, bahwa kita di Israel memerlukan pertanggungan jawabnya. Kita harus melakukan sesuatu untuk menjaga posisi dan citra kita secara internasional. Dan satu-satunya cara, agar kita bisa kembali bernafas lega di panggung internasional, adalah melalui perundingan perdamaian. Karenanya sekarang, segalal sesuatu harus diarahkan kepada perundingan perdamaian itu."

Di tingkat internasional, Turki dan sejumlah negara lain sudah menuntut Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas dan tidak membiarkan Israel bertindak semena-mena, tanpa hukuman. Amerika Serikat, yang berusaha tetap netral, mendesak blokade terhadap Gaza dibuka dan agar dilakukan pengsusutan atas operasi itu. Sementara Presiden Palestina, Mahmud Abbas hari Selasa (1/6) menyatakan, bahwa ia siap menjalankan pembicaraan tidak langsung dengan Israel. Presiden Abbas akan berkunjung ke Washington bulan Juni ini dan menemui Presiden AS Barack Obama untuk membicarakan hal tersebut.

Verenkotte/dpa/afp/Koesoemawiria

Editor: Hendra Pasuhuk

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait