Jakarta luncurkan program buru tikus got, dengan iming-iming hadiah uang. Pemicunya, populasi tikus got inang penyakit naik drastis tak terkendali.
Foto: picture-alliance/dpa/Andrew Gombert
Iklan
Pemda DKI memburu tikus betulan, bukan "tikus" penggerogot anggaran. Wacana program perburuan tikus berhadiah Rp 20.000 per ekor, menurut Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat berlatar belakang makin banyaknya tikus got di kawasan pemukiman. Dikhawatirkan tikus got ini menjadi inang penyakit berbahaya bagi warga.
Ibukota Indonesia yang termasuk salah satu kota megapolitan paling tinggi populasinya dan paling tinggi beban pencemarannya sedunia, diakui kewalahan menghadapi ledakan populasi tikus got. Tikus got disebut sebagai inang berbagai penyakit seperti leptospirosis, penyakit saluran pernafasan dan salmonellosis.
Tradisi Makan Tikus di India
Terbayangkah Anda jika di piring tersaji masakan dari daging tikus? Bukan hanya di beberapa wilayah di Indonesia, tikus juga menjadi makanan di negara bagian negara lain, seperti di Arunachal Pradesh, India misalnya.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Penelitian Etnologi
Riset tentang kebiasaan makan daging tikus yang biasa dilakukan suku-suku di timur laut India, di antaranya suku Adi dan Apatani dilakukan Victor Benno Meyer-Rochow peneliti di Universitas Oulu, Finlandia. Dalam survei ini, Meyer-Rochow didampingi oleh ilmuwan yang juga merupakan anggota suku Adi, Karsing Megu.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Tradisi Panjang
Tak diketahui secara pasti sejak kapan suku ini menyantap tikus. Peneliti meyakini tradisi panjang ini dilakukan bukan karena masyarakat di sana kekurangan bahan pangan. Karena di wilayah itu juga masih terdapat berbagai jenis hewan buruan lainnya seperti kijang dan kambing. Namun tikus sangat diburu karena masyarakat beranggapan dagingnya lezat.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Cara Menangkap Tikus
Ada berbagai strategi dalam menangkap tikus. Salah satunya dengan menggunakan bambu dengan seutas tali dari kulit pohon yang berfungsi untuk menjerat mangsa yang terpancing umpan. Cara lainnya, adalah dengan pembakaran arang sekam yang diletakkan di dalam bumbung bambu untuk menghasilkan asap. Asap kemudian ditiupkan ke dalam liang tikus yang memaksa tikus keluar dari sarang dan mati lemas.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Rumah Tak Boleh Kemasukan Tikus
Tentu saja orang suku Adi menyadari tikus bisa masuk ke rumah dan merusak produk makanan yang mereka simpan. Maka orang-orang suku Adi membangun rumah sedemikian rupa, agar tikus tidak dapat dengan mudah masuk ke rumah mereka.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Perayaan Tradisional
Meskipun tersedia dan dikonsumsi sepanjang tahun, tikus yang terbaik disajikan pada masa perayaan tradisional, terutama perayaan Unying-Aran, sebuah festival berburu yang jatuh tanggal 7 Maret. Pagi hari di hari raya ini, pemburu memberikan tangkapan mereka pada keluarganya, yang disebut: "Aman ro".
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Sebagai Hadiah
Bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecilpun sudah terbiasa dengan tikus. Dari usia belia mereka sudah biasa menangkap tikus, atau menerima tikus sebagai hadiah. Dalam konteks budaya, penggunaan tikus sebagai hadiah memperkuat hubungan kemasyarakatan suku Adi.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Menu Spesial
Jika tamu datang, tikus juga dihidangkan sebagai menu spesial untuk hormati tamu. Yang paling umum, nama masakannya adalah bule-bulak oying, jeroan tikus sampai kaki dan ekornya juga ikut dimasak dalam sajian ini. Tentu saja ditambah dengan berbagai bumbu pada umumnya. Bagian dari tikus tidak digunakan adalah gigi & tulang.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Tikus Tidak Terancam Punah
Meluasnya penggunaan tikus sebagai makanan didorong pemikiran bahwa tikus belum termasuk spesies terancam punah. Selain itu, tikus merupakan hama bagi produk makanan yang disimpan seperti biji-bijian, umbi-umbian dan lainnya. Makan tikus dianggap lebih masuk akal daripada hanya membunuh dan tidak digunakan atau meracuninya dan meninggalkan bangkainya dimakan oleh organisme lain.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Bukan Hanya di India
Tikus sebagai penganan bukan hanya fenomena di India. Di beberapa negara lain, seperti di sebagian Sulawesi, Indonesia, atau juga di beberapa kawasan di Filipina, Laos, Myanmar, Thailand, Cina dan negara-negara Asia lainnya, daging tikus uuga disantap sebagai makanan lezat. Kebiasaan ini juga bisa dijumpai di kelompok suku Maori di Selandia Baru, dan di beberapa bagian di negara-negara Afrika.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
Memenuhi Kebutuhan Pangan
Meyer-Rochow dan koleganya menyimpulkan, mengingat kebutuhan memenuhi kebutuhan pangan dunia semakin mendesak akibat pemanasan global, maka keberadaan tikus sebagai sumber bahan makanan tak boleh diabaikan. Memanfaatkan tikus sebagai makanan, akan mengurangi perburuan hewan liar yang sudah langka. Ini juga metode yang jauh lebih unggul untuk mengontrol populasi tikus ketimbang meracuninya.
Foto: Meyer-Rochow & Karsing Megu
10 foto1 | 10
"Masalahnya di kota tidak ada predator alami, seperti ular atau burung hantu. Kucing rumahan yang juga predator tikus malahan takut pada tikus got besar," kata wagub DKI itu seperti dikutik Kompas.com. Djarot juga mengimbau warga, jika program dijalankan, jangan memburu tikus menggunakan senjata api. Karena jika sial, pelurunya bisa nyasar mengenai warga lain bukannya tikus sasaran.
Wagub DKI itu juga menekankan, dengan kata bersayap: "Yang kita buru adalah tikus-tikus got yang gede-gede, yang suka gigitin kabel." Beberapa waktu silam Jakarta digegerkan temuan bungkus kabel puluhan ton yang diduga "sengaja" dibuang ke got di kawasan istana negara agar memicu banjir dan digunakan untuk mendiskreditkan Pemda DKI sebagai tidak becus menangani banjir. Siapa dalang pelakunya hingga kini tidak terlacak atau "sengaja tidak dilacak"
Picu pro kontra
Wacana perburuan tikus yang dirilis lewat situs web Pemda DKI itu sontak memicu pro dan kontra di kalangan warga. Ada yang memuji, dan mengatakan inilah kepedulian pemda terhadap warga. Juga ada yang memuji, nantinya warga punya penghasilan tambahan dengan memburu tikus yang menyetornya ke kelurahan.
Lawan TBC dengan Tikus
Selain HIV, tuberkulosis merupakan salah satu penyakit paling berbahaya di dunia. LSM Apopo memanfaatkan daya penciuman tikus untuk membantu mengaatasi masalah TBC.
Foto: Jeroen van Loon
Sang Pahlawan
Organisasi non-pemerintah asal Belgia, Apopo, mengembangbiakkan tikus untuk membantu para petugas kesehatan dalam mendeteksi TBC, salah satu penyakit paling mematikan di Afrika. Gilbert, tikus raksasa di Afrika, bertugas mengendus sampel dahak manusia di pusat penelitian di Morogoro, Tanzania. Ia adalah salah satu dari 40 “tikus pahlawan”, demikian mereka disebut, yang terdaftar dalam program ini.
Foto: Jeroen van Loon
Teknik Pelatihan
Setiap kali Gilbert mencakar dengan kedua kaki depannya pada sampel yang sebelumnya telah diuji positif TBC, ia mendapatkan hadiah makanan yang berupa campuran pisang dan kacang. Ini untuk memotivasi si tikus untuk terus bekerja.
Foto: Jeroen van Loon
Bukan Hanya untuk TBC
Sudah selama beberapa tahun, Apopo telah memanfaatkan tikus untuk mendeteksi ranjau, misalnya di Mozambik, Angola dan Kamboja. Di Mozambik, tikus pelacak ranjau menemukan 2.587 ranjau, lebih dari 1.000 bahan peledak dan sekitar 13.000 amunisi dan senjata ringan.
Foto: Jeroen van Loon
Investasi yang Berharga
Tikus raksasa Afrika (Cricetomys) ini memiliki indera penciuman yang sangat tajam. Perlu waktu sembilan bulan untuk melatih seekor tikus dan menelan biaya sekitar 6.000 Euro. Tikus jenis ini mampu hidup sampai delapan tahun dan mudah dipelihara. Berbeda dengan anjing, tikus ini tidak tergantung pada seorang pelatih saja.
Foto: Jeroen van Loon
Dilatih sejak Kecil
Sebagian besar tikus untuk misi ini dikembangbiakkan sendiri oleh Apopo di pusat penelitian. Ini memudahkan mereka untuk melatih tikus-tikus sejak kecil. Sesekali, Apopo juga menerima tikus liar untuk membantu proses pengembangbiakan.
Foto: Jeroen van Loon
Pengujian Dimulai
Seorang pasien menyerahkan sampel dahak ke RS Mbagala Kuu di Dar es Salaam, kota terbesar di Tanzania. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2012 tuberkulosis, penyakit menular yang menyerang paru-paru, membunuh sekitar 1,3 juta orang di seluruh dunia.
Foto: Jeroen van Loon
Pengujian Ganda
Sampel dari pasien, yang sebelumnya diuji negatif TBC, juga dikirim ke Apopo. Hal ini dilakukan karena banyak klinik memiliki teknologi usang. Lebih dari setengah dari penderita TBC di Afrika tidak terdeteksi. Dampaknya mengerikan: satu penderita TBC yang tidak menjalani perawatan dapat menularkan penyakit ini pada 10 sampai 15 orang per tahun.
Foto: Jeroen van Loon
Penyakit Mematikan
Savera Komba (kiri) batuk-batuk, kehilangan berat badan dan mengeluh kelelahan. Pengujian di rumah sakit menyebutkan ia tidak menderita TBC. Sampel dahaknya dikirim ke Apopo di Morogoro, dan tikus di pusat penelitian ini mendapatkan bahwa ia positif TBC.
Foto: Jeroen van Loon
Memastikan
Petugas laboratorium Apopo menguji ulang sampel yang sebelumnya dinyatakan negatif oleh rumah sakit, tapi dinyatakan positif oleh tikus. Jika tetap positif, pasien diminta kembali ke rumah sakit untuk memulai pengobatan.
Foto: Jeroen van Loon
Mulai Pengobatan
Bobot Savera Komba masih 39 kg, namun sejak ia menjalani pengobatan ia merasa lebih baik. Kepada DW ia mengatakan, “Tanpa tikus, mungkin saya sudah meninggal.”
Foto: Jeroen van Loon
Belum Diakui
Memanfaatkan tikus untuk mendeteksi TBC belum diakui oleh WHO. Namun, sekitar 1.700 pasien yang oleh rumah sakit dinyatakan tidak menderita TBC, terdeteksi TBC oleh Gilbert dan “rekan kerjanya” pada tahun lalu di Tanzania. Hasil ini mendorong Apopo untuk membuka laboratorium lain di Mozambik dan juga direncanakan di Afrika Selatan.
Foto: Jeroen van Loon
Mesin Cepat
Apa kelebihan dari tikus pelacak TBC milik Apopo? Mereka cepat. Seekor tikus mampu memproses sampel dalam waktu tujuh menit, sementara rumah sakit memerlukan satu hari. Oleh karenanya, metode pengujian ini bisa dimanfaatkan di masa depan untuk menguji sampel dalam jumlah besar secara cepat, misalnya di kamp-kamp pengungsi atau penjara yang risiko penularan TBC cukup tinggi.
Foto: Jeroen van Loon
12 foto1 | 12
Namun sejumlah warga lainnya menyatakan kontra dengan program pemburuan tikus berhadiah itu. Seorang warga menciutkan komentarnya lewat Twitter dengan menyebut ia pesimis program bisa berjalan dan sukses. Contohnya ditunjuk program serupa di Hanoi, Vietnam saat penjajahan Perancis. "Warga yang nakal, akhirnya justru membuat peternakan tikus, dan "menjual" hasil panennya kepada pemerintah.
Menanggapi pro-kontra itu, pemda DKI menyatakan masih menyusun teknis pelaksanaannya. Kemungkinan perburuan tikus got akan dikoordinir oleh kelurahan yang mengenal warganya. Dengan begitu, kecurangan bisa diredam dan diminimalkan.
Tikus Pelacak Ranjau
Dalam perang melawan ranjau darat, para petugas pelacak ranjau melatih tikus sebagai pengendus bahan peledak yang banyak memakan korban warga sipil tak berdosa.
Foto: Lieve Blancquaert
Pahlawan Tikus
NGO Belgia APOPO di Morogoro Tanzania melatih sejenis tikus besar Afrika untuk melacak ranjau. Tikus memiliki indera penciuman amat tajam, dan hidungnya yang dekat tanah, diharapkan jauh mengungguli anjing pengendus ranjau. Selain itu, bobotnya yang hanya satu kilogram terlalu ringan untuk memicu ledakan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Hidung Pengendus Harus Dilatih
Tikus-tikus dilatih sejak kecil, untuk melacak jejak bahan peledak TNT. APOPO sejak 2000 melatih hewan pengerat itu di Kampus Universitas Sokoine untuk Ekonomi Pertanian di Tanzania. Tikus pertama pelacak ranjau dikerahkan 2006 untuk pembersihan ranjau di Mozambik. Sebelum diizinkan bertugas, tikus-tikus pelacak harus lulus ujian untuk memenuhi standar internasional pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Pelacakan Sistematis
Tikus-tikus belajar melacak areal secara sistematis. Untuk itu tikus diikat pada poros galah dan dua pelatih berdiri di kedua ujungnya. Tikus bekerja pada garis lurus, dari satu ujung ke ujung lainnya. Pada fase latihan, tikus mula-mula dilatih mengendus TNT murni dalam wadah kecil dari logam.
Foto: DW/A. Schmidt
Melacak Ranjau Dalam Tanah
Setelah itu, tikus dilatih di sebuah lapangan, dimana ranjau sebenarnya yang sumbu peledaknya di non-aktifkan ditanam dalam tanah. Jika tikus mengendus TNT, hewan ini akan menunjukkan lokasinya dengan mencakar-cakar tanah. Pelatihan tikus pelacak ranjau berlangsung sekitar setahun dan ongkosnya 6.000 Dollar.
Foto: APOPO
Sukses Diganjar Hadiah
Dalam pelatihan setiap sukses pelacakan, tikus akan diganjar hadiah, misalnya dengan sepotong pisang. Tikus terlatih bisa melakukan pelacakan areal hingga 400 meter persegi per hari. Sebagai perbandingan, petugas pencari ranjau memerlukan waktu dua minggu untuk melacak areal seluas itu.
Foto: DW/A. Schmidt
Hidung Pengendus Fleksibel
Tikus berbeda dengan anjing, karena tidak terikat pada satu orang pelatih saja. Artinya, pelatih tidak perlu turun sendiri ke lapangan, dan tikus tetap bekerja handal. Dengan itu, tikus-tikus yang dilatih di Tanzania dapat dikirimkan ke Mozambik, Angola, Thailand atau Kamboja untuk tugas pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Misi di Mozambik
Sejauh ini tim pembersih ranjau di Mozambik sudah memeriksa lebih dari 6,5 juta meter persegi areal dan menemukan lebih dari 2000 ranjau darat, 1000 bom yang tidak meledak dan 12.000 senjata api serta amunisinya, yang semuanya dimusnahkan. Saat ini tujuh tim dengan 54 tikus pelacak ranjau yang bertugas dalam misi ini.