1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Facebook Tutup Puluhan Akun Fake News Ekstrem Kanan Eropa

22 Mei 2019

Facebook menutup 27 akun di Polandia dan 23 akun di Italia dengan hampir 5 juta pengikut. Akun-akun itu memuat fake news dan hoaks dan menyebarkan propaganda anti-Islam, anti-migran dan anti-Yahudi. Apa taktik mereka?

Symbolbild Facebbok vs Datenschutz Risse im Straßenbelag mit erodiertem Facebook Logo
Foto: imago/Ralph Peters

"Kami telah menutup banyak akun palsu dan akun duplikat yang melanggar aturan kami," kata Facebook di situsnya. Minggu lalu, kelompok aktivis internet "Avaaz" melaporkan akun-akun Polandia itu kepada Facebook. Menurut Avaaz, akun-akun itu punya sekitar dua juta pengikut (followers).

Bulan April lalu, Facebook juga menutup 23 akun dari Italia dengan hampir 2,5 juta followers karena menyebarkan berita palsu dan hoaks. Kelompok Avaaz menyambut "tanggapan cepat" Facebook. Namun dengan mendekatnya pemungutan suara untuk Parlemen Eropa, Avaaz meminta Facebook menyisir jaringannya di Eropa atas konten-konten berita palsu dan yang menghasut.

"Ini semua kembali membuktikan bahwa kebohongan yang secara sengaja dirancang untuk menyulut kebencian dan perpecahan di antara masyarakat memang disebarkan dengan cepat lewat jalur media sosial," kata Direktur Kampanye Avaaz, Christoph Schott.

Aksi unjuk rasa kelompok ultra kanan di PolandiaFoto: Reuters/A. Gazeta

Disinformasi secara sistematis

"Yang kita lihat ini adalah disinformasi secara sistematis. Jadi berita palsu itu tidak muncul secara spontan satu di sana, lalu satu lagi di sini, melainkan ini adalah jaringan (penyebar) yang sekali terbit mencapai jutaan followers, jutaan orang, lalu dari jutaan pengikut itu tersebar lagi ke lebih bayak orang, agar makin banyak orang yang percaya kebohongan yang disebarkan," Christoph Schott memaparkan.

Selanjutnya dia menjelaskan, berita bohong yang tersebar itu pada akhirnya akan dianggap "fakta" oleh para pengikut, yang tidak membaca lagi berita dari sumber lain.

"Apa yang kami temukan mengejutkan kami sendiri", kata Christoph Schott tentang penyelidikan yang dilakukan kelompok Avaaz. "Kami menemukan jaringan disinformasi ini di hampir semua negara (Eropa). Kami memberi informasi tentang akun-akun ini kepada Facebook, yang selama tiga bulan terakhir sudah mengakumulai 500 juta views."

Aksi anti-migran kelompok ultra kanan Jerman di BerlinFoto: imago/C. Mang

Klip video dan penyebaran kebencian

Sebagai contoh propaganda sayap kanan, Avaaz menunjuk halaman Italia yang mendukung partai Liga Matteo. Halaman itu menerbitkan video yang seakan memperlihatkan para migran sedang menghancurkan mobil polisi. Video itu sebenarnya adalah adegan film, dan posting tersebut sudah dibantah beberapa kali, tetapi masih tetap "dibagikan secara luas," kata Avaaz. Juga sebuah halaman dalam bahasa Polandia menggunakan tangkapan layar (screenshot) dari sebuah film untuk mendukung berita berita palsu tentang pengemudi taksi migran yang memerkosa seorang perempuan.

Taktik lain digunakan oleh halaman kelompok ultrakanan Spanyol dengan mengubah nama grup. Misalnya mereka memulai grup yang memakai nama  tidak mencolok, seperti "watchmoviesforfree.es" dan kemudian secara bertahap mengubah namanya menjadi "Watch Movies", lalu "Movies of Spain" dan kemudian "Fight for Spain". Konten yang disajikan adalah konten-konten ultra kanan. Taktik serupa juga ditemukan Avaaz di Italia.

"Aktor-aktor jahat rupanya mengambil contoh dari Rusia; mereka sudah mengerti bagaimana mereka harus melakukannya," kata Christoph Schott. "Mereka membangun kelompok, kadang-kadang memulai sebagai kelompok gaya hidup, kelompok musik dan kemudian perlahan tapi pasti mulai menempatkan posting-posting ultra kanan," tulis Avaaz dalam laporan di situsnya yang memaparkan hal itu juga dilakukan jaringan ultra kanan di Jerman.

hp/ts  (ap, afp, avaaz)