1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jejak Jerman di Indonesia

14 Oktober 2003

Setahun yang lalu Radio Deutsche Welle memperkenalkan proyek multi-media hasil karya Redaksi siaran Bahasa Indonesia yang berjudul ‚Jejak Orang Jerman di Indonesia'. Redaksi siaran Bahasa Indonesia menampilkan 10 tokoh Jerman yang memainkan peranan penting dalam hubungan Jerman-Indonesia. Profil dan riwayat hidup mereka disajikan dalam paket siaran berbentuk feature radio . Profil dan riwayat ke-10 tokoh Jerman itu juga diterbitkan sebagai buku. Edisi bahasa Jerman, berjudul Deutsche Spuren in Indonesien, diterbitkan oleh Penerbit Horlemannn di Bad Honnef. Sementara edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Katalis di Jakarta. Naskah untuk proyek multi media ini ditulis oleh Rüdiger Siebert yang ketika itu Kepala Redaksi siaran Bahasa Indonesia Deutsche Welle.
Setahun telah berlalu sejak proyek multi media tsb diluncurkan. Bagaimana reaksi dan respon para pendengar dan pembaca dan kalangan media terhadap karya multi media tsb.
Berikut ulasan Rüdiger Siebert:
Sepuluh tokoh dari empat abad yang lalu diperkenalkan dalam proyek multi media ini. Dari profil Gubernur Jendral VOC Gustav Wilhelm van Imhoff sampai ke Romo Franz Magnis-Suseno, pakar etika politik yang ikut berpartisipasi dalam menciptakan kerukunan kehidupan beragama di Indonesia. Biografi lainnya mengenai Franz-Wilhelm Junghuhn, Ludwig Nommensen, Hans Overbeck, Max Dauthendey, Walter Spies, Karl Helbig, Emil Helfferich, dan Dr. Werner Meyer. Sepuluh tokoh ini ikut mewarnai hubungan Jerman-Indonesia dan yang kehidupannya erat berkaitan dengan Indonesia. Mereka adalah aktor dan korban, perintis dan idealis, pemberani dan penakut, yang terlibat dalam dramatika dan pergolakan di zamannya.

Versi radio dari Jejak Orang Jerman di Indonesia telah disiarkan menjelang ahir tahun 2002 , dan direncanakan akan disiar-ulang pada akhir tahun ini. Lebih dari 30 setasiun radio mitra di Indonesia juga telah menyiarkan serial tsb. Seluruh acara siaran yang terdiri atas 10 bagian yang durasinya masing-masing sekitar 20 menit, juga diproduksi dalam bentuk CD. Redaksi Indonesia menyediakan paket Jejak Orang Jerman di Indonesia yang terdiri atas 3 CD dengan cuma-cuma bagi mereka yang berminat.
Ternyata bahan siaran ini dijadikan bahan pelajaran dan bermanfaat bagi para mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia baik di Goethe Institut mau pun di universitas-universitas di Jerman. Misalnya, bahan siaran Jejak Orang Jerman pada semester musim panas tahun ini, digunakan untuk pelajaran sejarah dan bahasa di jurusan Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt am Main. CD dengan bahan siaran itu juga digunakan di Universitas Bayreuth. Dan banyak universitas lainnya yang punya jurusan bahasa Indonesia menaruh minat pada CD itu. Naskah siarannya dalam bahasa Indonesia dapat diakses di Internet.

Proyek multimedia tsb juga diperkenalkan di Indonesia dan Jerman, lewat berbagai acara yang terbuka bagi publik internasional. Buku Jejak Orang Jerman di Indonesia berikut CD-.nya tahun lalu dipresentasikan di Goethe Institut di Jakarta dan Bandung . Hal yang sama dilakukan di Museum Antropologi di Hamburg dan Heidelberg. Dalam kerja sama dengan berbagai Lembaga Persahabatan Indonesia- Jerman, penulis buku Jejak Orang Jerman, Rüdiger Siebert mengadakan berbagai ceramah mengenai bukunya ini. Lewat gambar-gambar slides, dokumen suara, film dan catatan otentik ditelusuri jejak orang Jerman Jerman di Indonesia. Ceramah itu diadakan di Köln, Hamburg, Kiel. Braunschweig, dan Siegen. Dan di beberapa panti dan lembaga pendidikan lainnya di Jerman. Dalam diskusi setelah ceramah sering timbul saran dan gagasan dari para penonton , agar serial tentang biografi tokoh-tokoh Jerman dilanjutkan. Terutama orang Jerman yang di masa mudanya pernah tinggal di Indonesia, memberikan saran seperti itu dan informasi mengenai nara sumbernya kepada penulisnya, Rüdiger Siebert .

Dr. Heinrich Seemann, mantan duta besar Jerman di Indonesia dalam kata pengantarnya dalam buku Jejak Orang Jerman di Indonesia menekankan: Ke-sepuluh profil dan riwayat hidup bukan hanya mencerminkan sikap pribadi dan tantangan zaman. Namun juga menceritakan sejarah dan keterlibatan masing-masing individu, di mana ada yang berhasil mengatasinya, dan ada pula yang gagal. Rüdiger Siebert secara obyektif menggambarkan nasib para tokoh yang hidup di masa silam . Para tokoh itu bukanlah orang zaman kini. Siebert juga tidak menilai mereka menurut tolok ukur zaman kini. Buku Rüdiger Siebert dalam bahasa Indonesia dan Jerman, yang kaya akan ilustrasi dan gambar telah mengundang reaksi dan respons, baik di Jerman mau pun di Indonesia. Antara lain majalah TEMPO di Jakarta meresensi buku itu dengan judul Antara Junghuhn, Spies dan Magnis-Suseno. Juga harian JAWA POS di Surabaya mengulas buku Rüdiger Siebert itu dengan judul Kisah Sepuluh Tokoh Jerman ke Indonesia. Dan koran TEMPO di Jakarta juga mengulas Jejak Orang Jerman Tempo Doeloe. Nada komentarnya , baik di Indonesia mau pun di media Jerman tidak berbeda. Watch Indonesia di Berlin menulis, buku itu merangsang utuk mempelajari sejarah hubungan Jerman-Indonesia, yang sampai sekarang belum banyak ditulis oleh kalangan akademisi.

Yang juga menarik, banyak media cetak di Jerman mengulas tema Siebert ini dalam rubrik lokalnya, berkaitan dengan tokoh Jerman yang berasal dari kawasannya. Misalnya, ulasan harian Ostfriesland terutama menonjolkan Baron von Imhoff, tokoh yang berasal dari kota Leer di Ostfriesland. Di tempat kelahirannya sendiri Gubernur Jendral VOC van Imhoff nyaris dilupakan. Harian Rheinpfalz di Ludwigshafen , terutama menonjolkan Emil Helfferich, tokoh yang berasal dari Rheinpfalz, di di bagian barat daya Jerman. Harian Hildesheimer Zeitung mengingatkan pada Karl Helbig, putra kota Hildesheim. Dan Thüringer Allgemeine, sehubungan dengan bukunya Rüdiger Siebert itu, memberitakan tentang dokter Werner Joachim Meyer, seorang warga Erfurt yang meninggalkan jejak di Indonesia.
Memang mengenai tokoh-tokoh Jerman yang dilukiskan dalam buku itu, telah sering dipublikasikan. Tetapi baru untuk pertama kali kesepuluh tokoh yang sangat berbeda itu, menggambarkan jalannya sejarah yang mencakup empat abad . Itulah kekhasan buku tsb. Memberi wajah kepada sejarah. Peristiwa politik dan ekonomi, yang terjadi pada zaman yang bersamaan , kebudayaan di waktu itu secara khusus mempengaruhi cara berpikir dan kehidupan orang asing di Indonesia dan perjumpaannya dengan orang Indonesia. Rüdiger Siebert mengisahkan apa yang mendorong mereka pergi ke negeri nan jauh itu, perasaan mereka dan pikirannya selama berada di Indonesia , dan bagaimana Indonesia mengubah kehidupannya, demikian tulis majalah Südostasien di Essen. Para pembaca sekaligus juga dapat mengikuti sejarah Indonesia bukan hanya lewat fakta dan angka-angka, melainkan dapat menghayatinya lewat kisah hidup nyata. Du balik peristiwa sejarah itu adalah manusia yang punya perasaan , yang masing-masing mengalami dunia dengan caranya sendiri. Buku yang memang patut dibaca.

Harian Kölner Stadtanzeiger menulis: Rüdiger Siebert berhasil menulis buku sejarah dan kisah yang sangat menarik, tidak hanya bagi para penggemar tulisan mengenai Asia Tenggara. Harian Frankfurter Rundschau menandaskan, sungguh buku yang bagus di mana Rüdiger Siebert membawa para pembaca ke dunia yang asing. ... apakah semua itu telah berlalu, terhembus angin , telah dilupakan? Sama sekali tidak!
Misalnya para pelancong Bali di riwayat hidup pelukis dan pemusik Walter Spies dapat memperoleh gambaran dan pengalaman yang fantastis. Rüdiger Siebert, seorang pakar Indonesia melukiskan pesona yang senantiasa mendorong ahli ilmu bumi Karl Helbig , berangkat ke negeri 17 ribu kepulauan. Meski untuk membayar tiket kapal ia harus bekerja keras sebagai pemanas api di kapal uap , yang membawanya ke Indonesia.
10 tokoh Jerman menemukan nasibnya di Indonesia. Dari riwayat mereka diketahui hal-hal yang aneh dan mengerikan, dapat menyimak situasi politik dan agama ketika itu, dan hubungan antara Jerman dan Indonesia. Juga bagi mereka yang tidak suka bepergian jauh, dengan membaca buku ini dapat berkenalan dengan Indonesia dan menyimak sejarahnya.--