Banyak negara masih pontang-panting memenuhi komitmen dekarbonisasi, dan sejauh ini belum mengajukan target pengurangan emisi (NDC). Padahal, KTT Iklim COP30 akan dilangsungkan pekan depan di Brasil.
Cuaca ekstrem adalah dampak dari peningkatan suhu globalFoto: Johannes P. Christo/Andalou/picture alliance
Iklan
Sudah 10 tahun sejak dunia berjanji — di Paris, pada tahun 2015 — untuk menahan panas Bumi agar tak melampaui 1,5 derajat. Namun, direktur program iklim PBB (UNFCCC) mengatakan meski telah menghasilkan kemajuan nyata, "Perjanjian Paris harus diberlakukan lebih cepat dan adil.”
"Walaupun tren membaik setiap tahunnya, kita didesak untuk melangkah lebih cepat dan membantu lebih banyak negara mengambil tindakan iklim,” kata Simon Stiell dalam pernyataan yang dirilis bersamaan dengan laporan analisa target iklim PBB terbaru. Laporan tersebut menganalisa target iklim yang disampaikan oleh negara-negara yang menyepakati Paris Agreement.
Dalam Perjanjian Paris yang disepakati bersama pada tahun 2015 tersebut, para pemimpin dunia berjanji untuk menekan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius dan menahannya di angka 1,5 derajat.
Di bawah perjanjian tersebut, negara-negara di dunia sepakat memperbarui dan menginformasikan target iklim mereka setiap lima tahun. Tenggat pengajuan target iklim nasional sebenarnya jatuh pada awal tahun 2025, tetapi masih banyak negara yang belum menyampaikan target iklim dan komitmen mengurangi emisi nasional.
Emisi dari pembakaran batu bara, gas, dan minyak mendorong perubahan iklim Bumi serta menyebabkan peningkatan kekeringan, banjir, badai, dan gelombang panas mematikan.
Negara-negara yang tertinggal dalam penyampaian target
Dengan waktu kurang lebih satu minggu sebelum konferensi iklim internasional COP30 dimulai di Kota Belém, Brasil, baru 65 negara yang menyerahkan target iklim mereka. Jumlah ini mewakili sekitar 36% dari total emisi global, menurut analis World Resources Institute (WRI) yang memantau pengajuan tersebut.
Para demonstran di Brasil jelang COP30, menyampaikan pesan mereka untuk para negosiator.Foto: Eraldo Peres/AP Photo/picture alliance
Jika target-target tersebut dilaksanakan, maka akan terjadi pengurangan sekitar 10% emisi global pada tahun 2035, menurut laporan PBB.
"Transisi sedang berlangsung, progres sedang berlangsung,” kata Melanie Robinson, Direktur Program Iklim Global, Ekonomi, dan Keuangan WRI, sambil menyinggung investasi energi surya, kendaraan listrik, dan pembiayaan iklim. Namun, ia menambahkan bahwa progres tersebut belum cukup cepat.
Konsekuensi melewati ambang batas 1,5 derajat
Dalam wawancara eksklusif dengan media Inggris, The Guardian, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa "tidak dapat dipungkiri” dunia melewati ambang batas kenaikan suhu 1,5 derajat yang telah disepakati.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa meskipun target 1,5 derajat Celsius tidak tercapai, dunia tetap perlu bertindak cepat.Foto: Mike Segar/REUTERS
"Mari kita akui kegagalan kita. Faktanya, kita telah gagal mencegah kenaikan suhu di atas 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Melampaui 1,5°C punya konsekuensinya yang merusak. Konsekuensinya adalah titik krisis bencana baik di Amazon, Greenland, Antarktika bagian barat, juga terumbu karang,” ujarnya.
Uni Eropa, Cina, dan India termasuk di antara penghasil emisi terbesar yang belum secara resmi menyerahkan target nasional mereka.
Uni Eropa mengeluarkan pernyataan pada bulan September yang menunjukkan rencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 66,25% hingga 72,5% dibandingkan level emisi di tahun 1990. Direktur regional WRI untuk Eropa, Stientje van Veldhoven, mengatakan pernyataan tersebut menunjukkan UE memberi "ruang untuk progres,” tetapi pernyataan niat tersebut belum memiliki kepastian dan dapat "mengirim pesan yang membingungkan, mengikis kepercayaan investor, serta melemahkan lapangan kerja, keamanan energi, dan daya saing.”
Iklan
Siapa yang sudah menetapkan target baru dan siapa yang belum
Selama Pekan Iklim di New York pada bulan September, Presiden Cina Xi Jinping juga mengumumkan niat Cina untuk mengurangi emisi sebesar 7% hingga 10% dari puncaknya. Target tersebut dikritik terlalu rendah. Analis mengatakan kepada DW bahwa Cina kemungkinan akan memenuhi bahkan melampaui komitmennya.
Indonesia telah menyampaikan target iklim nasionalnya pada sekretariat UNFCCC pada 20 Oktober lalu. Dalam dokumen terbaru, Indonesia tidak lagi menargetkan penurunan emisi berdasarkan skenario business as usual (BAU), melainkan menetapkan jumlah absolut emisi Gas Rumah Kaca pada 2035 dengan acuan jumlah emisi di tahun 2019.
Indonesia mengajukan tiga skenario, dua skenario bersyarat justru menunjukkan kenaikan emisi hingga 2030, dengan puncak emisi baru terjadi sekitar 2035. Pada skenario pertumbuhan ekonomi tinggi (8%), emisi bersih diproyeksikan mencapai 1,49 miliar ton setara karbon dioksida, sementara tanpa penyerapan sektor kehutanan bisa mencapai 1,7 miliar ton.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai rencana Indonesia masih tergolong tinggi karbon karena terlalu bergantung pada serapan hutan dan menunda upaya nyata penurunan emisi hingga setelah 2035.
Filipina hingga Sri Lanka, Banjir Merusak Secara Global
Peristiwa bencana mematikan seperti banjir kerap dan intensif terjadi lantaran terjadinya perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.
Foto: AP
Sri Lanka terendam
Setidaknya tiga orang tewas saat banjir melanda Sri Lanka, sementara ibu kota Colombo mengalami dampak terparah. Banjir menyebabkan sejumlah daerah berisiko mengalami tanah longsor, sementara hujan lebat diprediksi bakal terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Foto: Pradeep Dambarage/NurPhoto/picture alliance
Pakistan dilanda penyakit dan kekurangan gizi
Hujan monsun dan bajir yang tak pernah terjadi sebelumnya sebabkan lebih dari setengah juta orang di Pakistan memgungsi dan 1,700 nyawa melayang. Banjir perlahan surut, tetapi warga di Sindh dan Balochistan menghadapi risiko penyakat yang terkandung di air. Hal itu disebabkan oleh rusaknya fasiltas kesehatan, genangan air, minimnya persediaan obat hingga sedikitnya sanitasi.
Foto: Sabir Mazhar/AA/picture alliance
Banjir hal lumrah di Filipina
Di beberapa negara bagian Filipina, penyedia jasa ojek motor memodifikasi kendaraannya agar dapat bertahan akibat banjir yang terjadi berulang kali. Di Hagonoy, di luar ibu kota Manila, ketinggian hujan mencapai dua meter saat musim hujan. baru-baru ini, topan tenggelamkan desa dan daerah pertanian di bagian utara Filipina.
Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
Perubahan iklim jadi penyebabnya?
Malapetaka bencana cuaca jadi sering terjadi akibat perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat menahan uap air sehingga menghasilkan curah hujan tinggi. Meskipun sulit dibuktikan berapa besar perubahan iklim berperan dalam satu kejadian, tetapi tren keseluruhannya terbukti. Korbannya, banyak negara rentan.
Foto: Sanjev Gupta/dpa/picture alliance
Apa yang bisa kita lakukan?
Agar tetap bisa memenuhi target Perjanjian Paris, manusia harus segera mengurangi emisi, setidaknya mendekati nol emisi dalam waktu 50 tahun ke depan. Negara yang berisiko perlu membangun sistem peringatan dini dan sistem penanggulangan banjir agar mengurangi dampak bencana iklim, termasuk banjir. Membuat sistem seperti ini bakal jadi fokus utama PBB dalam konferensi iklim selanjutnya.
(mh/ap)
Foto: Branden Camp/AP Photo/picture alliance
5 foto1 | 5
Negara penghasil emisi besar yang telah secara resmi menyampaikan komitmen mereka di bawah UNFCCC seperti Australia dan Jepang turut dikritik karena dianggap belum cukup ambisius dan belum melakukan bagian mereka secara adil.
Melanie Robinson dari WRI menambahkan bahwa meskipun pengajuan resmi dari para penghasil emisi besar seperti Cina dan Uni Eropa diharapkan akan datang sebelum atau selama konferensi COP dan akan membantu menurunkan emisi, masih ada kesenjangan yang perlu ditutup.
"Kami menilai para pemimpin dunia harus menyepakati respons global yang tegas untuk kembali ke jalur yang benar,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara-negara perlu menegaskan kembali target 1,5 derajat, mempercepat strategi pengurangan emisi secara lebih spesifik per sektor, dan memperjelas jalur menuju target net zero domestik.
Namun, dalam analisisnya, PBB menyebut bahwa NDC (kontribusi nasional) terbaru menunjukkan "kemajuan dalam hal kualitas, kredibilitas, dan cakupan ekonomi.”
Meskipun janji pengurangan emisi sering menjadi sorotan utama, dalam pertemuan COP ini negara-negara juga menyertakan target untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim serta menyediakan pendanaan bagi negara berkembang.
"Gambaran yang lebih luas adalah dunia yang sudah membayar harga mahal akibat pemanasan global, namun juga sedang mendekati titik balik ekonomi yang positif, menuju dunia yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih sejahtera, didukung oleh energi bersih dan ketahanan iklim,” ujar Stiell.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizky Nugraha
Manusia di tengah 'Gempuran' Sampah Plastik
Anak-anak bermain di tengah sampah plastik, sungai membawa sampah-sampah ke laut, hewan memakannya. Plastik ada di mana-mana. Produksinya kian berkembang pesat dan membahayakan manusia dan lingkungan.
Foto: Channi Anand/AP Photo/picture alliance
Pemandangan indah yang dipadati sampah
Plastik, bahan yang serbaguna, sangat diperlukan dalam konstruksi dan pengemasan. Tapi, plastik juga jadi bahaya global. Berton-ton sampah, termasuk botol plastik, ban bekas dan berbagai bahan non-organik, mengapung di Sungai Drina dan membentuk tempat pembuangan sampah terapung di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina.
Foto: Armin Durgut/AP Photo/picture alliance
Dilarang bermain? Sayangnya tidak!
Di sebuah pantai di Filipina, anak-anak berjalan tanpa alas kaki di atas sampah plastik, sisa bencana topan lalu. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan, melintasi sungai hingga ke berakhir di laut dan terdampar di pantai. Bukan hanya terbawa air, sampah-sampah ini pun turut tertelan hewan-hewan.
Foto: Aaron Favila/AP Photo/picture alliance
Berkurang satu kantong plastik
Nina Gomes mengambil satu kantong plastik yang dibuang di laut dekat pantai Copacabana, pantai yang terkenal di Rio de Janeiro, Brasil. Setiap tahun, Brazil menghasilkan sekitar 11,3 juta ton sampah plastik. Hanya 1,2 persen yang didaur ulang. Sampah plastik yang berakhir di lautan dan membahayakan ekosistem laut.
Foto: Bruna Prado/AP Photo/picture alliance
Jaring penghalang yang rusak
Di kota Alexandra, Afrika Selatan, sebuah jaring dibuat untuk menahan sampah plastik di Sungai Jukskei. Tiga orang sukarelawan dengan hati-hati menyingkirkan sampah yang menumpuk di jaring. Langkah-langkah ini menghambat sampah terbawa arus hingga ke laut, tapi tidak menghentikan sumbernya. Sampah masih menjadi tantangan - tidak hanya di Afsel, tapi juga di Indonesia, India dan di seluruh dunia.
Foto: Jerome Delay/AP Photo/picture alliance
Sebelumnya adalah pantai berpasir
Orang-orang berjalan melewati sampah plastik yang menutupi pasir pantai Badhwar Park di pesisir Laut Arab Kota Mumbai, India. India, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, adalah salah satu konsumen plastik terbesar di dunia. India diperkirakan menghasilkan sekitar 3,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang.
Foto: Rajanish Kakade/AP Photo/picture alliance
Daerah pemukiman miskin di New Delhi yang dibangun di atas sampah
Di sebuah pemukiman miskin di ibu kota India, New Delhi, nampak setiap jengkal lanskapnya dipenuhi sampah plastik. Kantong-kantong sampah mengantre untuk disortir para pengepul sebelum dijual.
Foto: Manish Swarup/AP Photo/picture alliance
Protes terus berlanjut
“Hentikan polusi plastik!”, demikian bunyi poster-poster para aktivis lingkungan di Seoul. Mereka memprotes gagalnya negosiasi perjanjian global PBB melawan sampah plastik di Korea Selatan, awal Desember lalu. Beberapa negara penghasil minyak telah menolak pembatasan produksi plastik. Perundingan kembali dilangsungkan 5-14 Agustus 2025 di Jenewa.
Foto: Jung Yeon-je/AFP
Kaos di Jakarta
Di Jakarta, tumpukan sampah plastik menumpuk di pinggir jalan dan menghalangi lalu lintas. Pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan setidaknya 10,8 juta ton sampah plastik. Sebagian besar sampah tersebut tidak dibuang pada tempatnya. Di tahun yang sama, tercatat sekitar 359.000 ton sampah berakhir di lautan.
Foto: Dita Alangkara/AP Photo/picture alliance
Berharap dan segera beraksi
Seorang pendeta duduk di antara sampah yang ditinggalkan oleh para jemaat yang menghadiri festival “Kuse Aunsi” di kuil Gokarneshwor di Kathmandu, Nepal. Satu hal yang jelas: krisis plastik membutuhkan keputusan politik yang tegas dan pemikiran global. Tanpa adanya tindakan, plastik akan terus mencemari sungai dan lautan, mengancam kehidupan, dan mencegah masa depan yang berkelanjutan.