1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jelang KTT Iklim, UE Sepakat Kurangi 90% Emisi Tahun 2040

5 November 2025

Jelang KTT Iklim di Braisl, dewan menteri lingkungan hidup Uni Eropa mencapai konsensus pengurangan emisi gas rumah kaca blok tersebut. Meskipun demikian, negara-negara UE masih 'berseberangan' seputar kredit karbon.

Petugas pemadam kebakaran memerangi kebakaran hutan di Galicia, Spanyol 2025.
Eropa memanas dua kali lebih cepat dibanding belahan dunia lainnya.Foto: Pedro Pascual/Anadolu Agency/IMAGO

Setelah negosiasi alot selama berbulan-bulan, yang diselingi pertemuan-pertemuan panjang, dewan menteri lingkungan hidup Uni Eropa menyepakati target iklim yang baru. Kesepakatan ini dibuat tepat sebelum KTT Iklim Internasional COP30 yang bakal diselenggarakan pekan depan di Belém, Brasil.

Dalam pertemuan tersebut para menteri menyetujui rencana yang telah lama diusulkan oleh Komisi Eropa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di Uni Eropa sebesar 90% pada tahun 2040. Namun, para menteri masih memperdebatkan sejauh mana mana kredit karbon dapat digunakan untuk mencapai target pengurangan emisi tersebut.

Kredit karbon merupakan skema pengalihan emisi, di mana perusahaan bisa menukar beban emisinya dengan membiayai proyek penghijauan, transisi energi terbarukan, atau konservasi.

Namun, kredit karbon dikritik karena membuka celah bagi korporasi untuk melakukan praktik Greenwashing, serta tidak mendorong pengurangan emisi.

Jerman berharap hanya sekitar 3% target pengurangan emisi dicapai lewat kredit karbon di luar negeri seperti berinvestasi pada proyek pengembangan energi terbarukan atau proyek penghijauan hutan di luar negeri (offset). Namun negara-negara UE lainnya seperti Prancis dan Polandia ingin presentase offset ditingkatkan.

Target tahun 2040 yang telah disepakati ini menjadi fondasi penting penyusunan target 2035. Penyusunan target 2035 yang tepat sasaran dapat menuntun UE mencapai target iklim 2040 bahkan mencapai target bebas karbon di tahun 2050 sesuai Perjanjian Iklim Paris.

Sejauh ini Uni Eropa berencana untuk mengurangi emisi antara 66,25% hingga 72,5% pada tahun 2035 dengan membandingkannya dengan tingkat emisi tahun 1990.

Berdasarkan ketentuan Perjanjian Paris 2015, 195 pemimpin dunia berjanji untuk membatasi kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat Celsius, menekan kenaikan pada angka 1,5 derajat.

Negara-negara juga sepakat untuk memperbarui dan mengumumkan target mereka setiap lima tahun. Batas waktu pengajuan terbaru sebenarnya jatuh pada awal tahun ini, namun banyak negara yang telah melewati batas waktu tersebut, termasuk di antaranya Cina dan UE. Kini kian sedikit waktu yang tersisa bagi negara-negara lainnya untuk mengumumkan komitmen terbaru mereka pengurangan emisi nasionalnya.

Emisi dari pembakaran batu bara, gas, dan minyak menjadi penyebab utama perubahan iklim Bumi dan menyebabkan peningkatan kekeringan, banjir, badai, dan gelombang panas mematikan.

Banyak negara belum tetapkan target emisi

Hingga saat ini kurang lebih sepertiga dari 195 negara yang menyepakati perjanjian Paris yang telah secara resmi menyampaikan target iklim mereka.Hal ini mewakili kurang lebih 60% emisi global, menurut analis dari World Resources Institute (WRI), yang memantau penyampaian target tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa jika rencana iklim nasional yang diajukan untuk tahun 2035 diterapkan, proyeksi kenaikan suhu akan turun dari sekitar 2,6 derajat Celsius menjadi 2,3. Langkah yang disebut Guterres sebagai "kemajuan, meski jauh dari cukup.”

"Komitmen kita sekarang masih mengacu pada perubahan iklim,” katanya dalam pidato video terkait peluncuran Laporan Kesenjangan Emisi PBB, laporan yang memantau upaya mencegah pemanasan global.

Guterres menambahkan bahwa bahwa "tidak dapat dipungkiri” dunia melewati ambang batas kenaikan suhu 1,5 derajat yang telah disepakati. Ini bukan alasan untuk menyerah tetapi untuk mempercepat dan meningkatkan upaya iklim.

"1,5 derajat pada akhir abad ini tetap jadi penunjuk arah kita, dan sains memperjelas itu, tujuan kita masih dalam jangkauan. Tetapi hanya jika kita secara signifikan meningkatkan ambisi perlindungan iklim,” tambah Guterres.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha