Jelang KTT Iklim di Braisl, dewan menteri lingkungan hidup Uni Eropa mencapai konsensus pengurangan emisi gas rumah kaca blok tersebut. Meskipun demikian, negara-negara UE masih 'berseberangan' seputar kredit karbon.
Eropa memanas dua kali lebih cepat dibanding belahan dunia lainnya.Foto: Pedro Pascual/Anadolu Agency/IMAGO
Iklan
Setelah negosiasi alot selama berbulan-bulan, yang diselingi pertemuan-pertemuan panjang, dewan menteri lingkungan hidup Uni Eropa menyepakati target iklim yang baru. Kesepakatan ini dibuat tepat sebelum KTT Iklim Internasional COP30 yang bakal diselenggarakan pekan depan di Belém, Brasil.
Dalam pertemuan tersebut para menteri menyetujui rencana yang telah lama diusulkan oleh Komisi Eropa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di Uni Eropa sebesar 90% pada tahun 2040. Namun, para menteri masih memperdebatkan sejauh mana mana kredit karbon dapat digunakan untuk mencapai target pengurangan emisi tersebut.
Kredit karbon merupakan skema pengalihan emisi, di mana perusahaan bisa menukar beban emisinya dengan membiayai proyek penghijauan, transisi energi terbarukan, atau konservasi.
Namun, kredit karbon dikritik karena membuka celah bagi korporasi untuk melakukan praktik Greenwashing, serta tidak mendorong pengurangan emisi.
Jerman berharap hanya sekitar 3% target pengurangan emisi dicapai lewat kredit karbon di luar negeri seperti berinvestasi pada proyek pengembangan energi terbarukan atau proyek penghijauan hutan di luar negeri (offset). Namun negara-negara UE lainnya seperti Prancis dan Polandia ingin presentase offset ditingkatkan.
Target tahun 2040 yang telah disepakati ini menjadi fondasi penting penyusunan target 2035. Penyusunan target 2035 yang tepat sasaran dapat menuntun UE mencapai target iklim 2040 bahkan mencapai target bebas karbon di tahun 2050 sesuai Perjanjian Iklim Paris.
Sejauh ini Uni Eropa berencana untuk mengurangi emisi antara 66,25% hingga 72,5% pada tahun 2035 dengan membandingkannya dengan tingkat emisi tahun 1990.
Berdasarkan ketentuan Perjanjian Paris 2015, 195 pemimpin dunia berjanji untuk membatasi kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat Celsius, menekan kenaikan pada angka 1,5 derajat.
Negara-negara juga sepakat untuk memperbarui dan mengumumkan target mereka setiap lima tahun. Batas waktu pengajuan terbaru sebenarnya jatuh pada awal tahun ini, namun banyak negara yang telah melewati batas waktu tersebut, termasuk di antaranya Cina dan UE. Kini kian sedikit waktu yang tersisa bagi negara-negara lainnya untuk mengumumkan komitmen terbaru mereka pengurangan emisi nasionalnya.
Emisi dari pembakaran batu bara, gas, dan minyak menjadi penyebab utama perubahan iklim Bumi dan menyebabkan peningkatan kekeringan, banjir, badai, dan gelombang panas mematikan.
Filipina hingga Sri Lanka, Banjir Merusak Secara Global
Peristiwa bencana mematikan seperti banjir kerap dan intensif terjadi lantaran terjadinya perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.
Foto: AP
Sri Lanka terendam
Setidaknya tiga orang tewas saat banjir melanda Sri Lanka, sementara ibu kota Colombo mengalami dampak terparah. Banjir menyebabkan sejumlah daerah berisiko mengalami tanah longsor, sementara hujan lebat diprediksi bakal terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Foto: Pradeep Dambarage/NurPhoto/picture alliance
Pakistan dilanda penyakit dan kekurangan gizi
Hujan monsun dan bajir yang tak pernah terjadi sebelumnya sebabkan lebih dari setengah juta orang di Pakistan memgungsi dan 1,700 nyawa melayang. Banjir perlahan surut, tetapi warga di Sindh dan Balochistan menghadapi risiko penyakat yang terkandung di air. Hal itu disebabkan oleh rusaknya fasiltas kesehatan, genangan air, minimnya persediaan obat hingga sedikitnya sanitasi.
Foto: Sabir Mazhar/AA/picture alliance
Banjir hal lumrah di Filipina
Di beberapa negara bagian Filipina, penyedia jasa ojek motor memodifikasi kendaraannya agar dapat bertahan akibat banjir yang terjadi berulang kali. Di Hagonoy, di luar ibu kota Manila, ketinggian hujan mencapai dua meter saat musim hujan. baru-baru ini, topan tenggelamkan desa dan daerah pertanian di bagian utara Filipina.
Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
Perubahan iklim jadi penyebabnya?
Malapetaka bencana cuaca jadi sering terjadi akibat perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat menahan uap air sehingga menghasilkan curah hujan tinggi. Meskipun sulit dibuktikan berapa besar perubahan iklim berperan dalam satu kejadian, tetapi tren keseluruhannya terbukti. Korbannya, banyak negara rentan.
Foto: Sanjev Gupta/dpa/picture alliance
Apa yang bisa kita lakukan?
Agar tetap bisa memenuhi target Perjanjian Paris, manusia harus segera mengurangi emisi, setidaknya mendekati nol emisi dalam waktu 50 tahun ke depan. Negara yang berisiko perlu membangun sistem peringatan dini dan sistem penanggulangan banjir agar mengurangi dampak bencana iklim, termasuk banjir. Membuat sistem seperti ini bakal jadi fokus utama PBB dalam konferensi iklim selanjutnya.
(mh/ap)
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa jika rencana iklim nasional yang diajukan untuk tahun 2035 diterapkan, proyeksi kenaikan suhu akan turun dari sekitar 2,6 derajat Celsius menjadi 2,3. Langkah yang disebut Guterres sebagai "kemajuan, meski jauh dari cukup.”
"Komitmen kita sekarang masih mengacu pada perubahan iklim,” katanya dalam pidato video terkait peluncuran Laporan Kesenjangan Emisi PBB, laporan yang memantau upaya mencegah pemanasan global.
Guterres menambahkan bahwa bahwa "tidak dapat dipungkiri” dunia melewati ambang batas kenaikan suhu 1,5 derajat yang telah disepakati. Ini bukan alasan untuk menyerah tetapi untuk mempercepat dan meningkatkan upaya iklim.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizki Nugraha
Terik Ekstrem! Eropa Hadapi Gelombang Panas Bersejarah
Gelombang panas ekstrem melanda Eropa lebih awal dari biasanya. Di Jerman, suhu yang diperkirakan bisa mencapai 40°C menambah kekhawatiran akan dampaknya pada kesehatan warga dan infrastruktur.
Foto: Michael Nguyen/NurPhoto/picture alliance
Berenang di kolam dingin jadi solusi
Gelombang panas merambat hingga ke Jerman. Pada Selasa (01/07), suhu melonjak antara 30 - 38°C dan menyelimuti hampir seluruh penjuru negeri. Beberapa wilayah di North Rhine-Westphalia dan Baden-Württemberg bahkan telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Di banyak tempat, satu-satunya cara meredakan panas adalah dengan berenang di kolam dingin, seperti di kolam renang Swabian Alb ini.
Foto: Thomas Warnack/dpa/picture alliance
Memecahkan rekor suhu panas
Seperti jamur warna-warni, payung-payung bertebaran di Pantai Almanda, Costa da Caparica, Portugal. Gelombang panas yang datang lebih awal membuat warga di Semenanjung Iberia mencari tempat berteduh di mana pun mereka bisa. Di El Granado, kota di selatan Spanyol yang berbatasan dengan Portugal, tercatat rekor suhu baru untuk bulan Juni: 46°C, menurut layanan cuaca Spanyol, Aemet.
Foto: CARLOS COSTA/AFP/Getty Images
Suhu panas berlanjut hingga malam hari
Tak hanya terasa menyiksa di siang hari, suhu panas berlanjut hingga malam. Di wilayah selatan Spanyol, seperti Sevilla, suhu udara sepanjang akhir pekan tak pernah turun di bawah 30°C. Kondisi serupa diperkirakan terjadi di barat daya Jerman, dengan suhu malam hari tetap di atas 20°C. Tanpa pendingin udara, tidur malam yang nyenyak terasa mustahil.
Foto: CRISTINA QUICLER/AFP/Getty Images
Menara Eiffel ditutup akibat panas terik
Matahari terik menyinari kota Paris pada Selasa (01/07), saat Prancis untuk pertama kali dalam lima tahun terakhir menetapkan tingkat peringatan panas tertinggi untuk ibu kotanya. Suhu diperkirakan akan mencapai 41°C. Akibat cuaca ekstrem ini, lantai atas Menara Eiffel, ikon terkenal Paris, ditutup untuk pengunjung hingga Rabu (02/07).
Foto: Thibaud Moritz/AFP/dpa/picture alliance
Gondola berpayung hingga jalan melembung
Akibat panas terik, para turis di Venesia terpaksa berlindung di balik payung saat menaiki gondola. Di Veneto, sebuah jalan raya bahkan harus ditutup karena permukaannya melengkung akibat suhu ekstrem. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jerman mengeluarkan imbauan agar warganya menunda perjalanan ke Italia karena gelombang panas yang terus berlanjut.
Foto: ANDREA PATTARO/AFP/Getty Images
Tanpa pendinginan, cuaca panas bisa mematikan
Tanpa upaya pendinginan, suhu tinggi bisa membahayakan kesehatan. Menurut Kantor Statistik Federal Jerman, dalam sepuluh tahun terakhir, sekitar 1.400 orang dirawat di rumah sakit setiap tahunnya akibat gangguan kesehatan yang disebabkan oleh paparan panas atau sinar matahari. Rata-rata, 22 orang meninggal setiap tahun akibat kondisi tersebut.
Foto: Peter Kneffel/dpa/picture alliance
Olahraga saat cuaca panas? Pilih waktu yang tepat!
Olahraga luar ruangan tidak disarankan saat cuaca panas. Karenanya, pelari ini memilih berlari pagi di Berlin, saat udara masih relatif sejuk. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling rentan. Untuk terhindar dari dampak buruk, masyarakat dianjurkan berlindung dari paparan sinar matahari, banyak minum air putih, dan mencari tempat sejuk.
Foto: Christoph Soeder/dpa/picture alliance
Cuaca makin panas, olahraga air jadi pilihan
Olahraga air seperti wakeboarding menjadi cara ideal untuk menghadapi teriknya cuaca. Puncak gelombang panas diperkirakan akan terjadi di Jerman pada Rabu (02/07). Badan Cuaca Jerman memprediksi suhu akan berkisar antara 33 - 39°C, meliputi hampir seluruh wilayah, dari Laut Baltik di utara hingga Black Forest di selatan.
Foto: Henning Kaiser/dpa/picture alliance
Yunani hadapi panas ekstrem, laut mediterania menghangat
Di Yunani, seorang gadis tampak menyempatkan diri menyejukkan tubuh di air mancur Athena. Rekor suhu juga tercatat di perairan Laut Mediterania. Di lepas pantai Kepulauan Balearic, suhu air laut mencapai 26°C. Sementara itu, meski angin kencang sedikit membantu meredam panas, risiko kebakaran hutan justru meningkat ke level tertinggi di negara tersebut.
Foto: Stelios Misinas/REUTERS
“Ini belum pernah terjadi sebelumnya”
Di Provinsi Izmir, Turki, 1.000 petugas pemadam kebakaran dan 14 helikopter dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan yang terjadi pada Minggu (29/06). Sementara itu di Prancis, kebakaran hutan menghanguskan 400 hektar lahan. Peringatan panas pun diberlakukan di 84 dari 95 wilayah. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Menteri Transisi Ekologi Prancis, Agnes Pannier-Runacher, kepada AFP.
Foto: Mehmet Emin Menguarslan/Anadolu/picture alliance
Dari manusia hingga hewan, cuaca ekstrem ancam kehidupan
Panas ekstrem tak hanya berdampak pada manusia, tapi juga pada tumbuhan dan hewan. Seekor anjing dan pemiliknya tampak berusaha mendinginkan diri di Sungai Danube. Menurut penelitian, kini gelombang panas terjadi lebih sering, lebih lama, dan semakin intens akibat perubahan iklim. Di Jerman, suhu tinggi diperkirakan akan bertahan hingga Kamis (03/07), saat hujan diperkirakan akan turun.