1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Olahraga

Jelang Olimpiade, Presiden IOC Temui Penyelenggara di Tokyo

17 Juli 2021

Kurang dari seminggu lagi, Olimpiade akan digelar tanpa penonton dan dengan protokol ketat. Sebagian publik Jepang tetap menentang acara tersebut di tengah meningkatnya infeksi.

Dua petugas polisi berjalan di depan poster Olimpiade Tokyo
Olimpiade Tokyo dijadwalkan akan segera dimulai pada 23 Juli mendatangFoto: Koji Sasahara/AP/picture alliance

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach akhirnya bertemu langsung dengan pejabat Olimpiade Tokyo setelah berbulan-bulan hanya melakukan kontak virtual. Pertemuan ini disebutnya sebagai momen "emosional" yang berlangsung kurang dari seminggu sebelum dimulainya Olimpiade di tengah pandemi corona.

Olimpiade akan dimulai pada 23 Juli, setelah lebih dari satu tahun tertunda akibat pandemi COVID-19. Penyelenggara masih memiliki beberapa permasalahan yang mesti dihadapi untuk memastikan ajang olahraga global ini berjalan aman.

Bach berpidato di pertemuan Dewan Eksekutif IOC di Tokyo sesaat sebelum kasus positif COVID-19 pertama dilaporkan di perkampungan atlet Olimpiade.

"Sambutan yang sangat hangat untuk Anda semua. Ini adalah momen yang cukup emosional bisa kembali melihat Anda secara langsung di meja nyata," kata Bach di awal pertemuan tersebut, Sabtu (17/07).

"Banyak dari Anda tidak bertemu satu sama lain sejak Youth Games di Lausanne (pada Januari 2020) dan ini tampaknya terjadi di zaman yang berbeda.

"Anda dapat melihat sekarang seberapa besar pandemi ini telah mengubah kehidupan semua orang dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan pribadi kita, juga kehidupan organisasi kita.

Olimpiade akan diadakan tanpa penonton dan dengan protokol ketat keamanan COVID-19, tetapi publik Jepang sebagian besar tetap menentang acara tersebut di tengah meningkatnya infeksi.

Bisnis lokal terpaksa tutup

Di sekitar tempat berlangsungnya olimpiade, bisnis lokal yang tengah berjuang di tengah pandemi terpaksa ditutup sementara. Selain itu, pengunjung Olimpiade diperintahkan untuk memasang aplikasi yang dinilai bersifat invasif dan mengizinkan pelacakan GPS. Ada pula alat pengingat untuk mencegah peserta berhubungan dengan orang Jepang biasa atau mengunjungi restoran untuk makan sushi.

Aparat keamanan Jepang juga telah mengajukan keluhan bahwa negara itu selama minggu-minggu berlangsungnya Olimpiade akan lebih menyerupai Korea Utara atau Cina yang otoriter. 

Hiroshi Kato, seorang instruktur anggar, mengatakan dia khawatir dia akan kehilangan lebih banyak bisnis karena telah diperintahkan untuk pindah dari gedung tempat dia bekerja di seberang stadion utama Olimpiade dari 1 Juli hingga 19 September untuk alasan keamanan yang tidak ditentukan.

''Saya merasa tidak berdaya,'' kata Hiroshi Kato. ''Untuk menyelenggarakan pertandingan dengan aman, beberapa batasan dapat dimengerti. Tapi (penyelenggara) tahu ini sejak lama dan mungkin bisa memberikan bantuan untuk kami.''

Restriksi apa yang akan diterapkan?

Para atlet, yang setiap hari akan dites virus corona, nantinya diisolasi di perkampungan atlet dan diharapkan tinggal di sana, atau dalam gelembung yang sama terkunci di tempat pertandingan atau tempat pelatihan. Mereka yang melanggar aturan dapat dikirim pulang atau didenda dan kehilangan hak untuk berpartisipasi dalam pertandingan.

Selama 14 hari pertama di Jepang, pengunjung Olimpiade di luar perkampungan atlet dilarang menggunakan transportasi umum dan pergi ke bar, tempat wisata, dan sebagian besar restoran. Mereka bahkan tidak bisa jalan-jalan atau berkunjung ke mana pun.

Ada beberapa pengecualian yang diizinkan oleh penyelenggara: toko serba ada yang ditunjuk secara khusus, tempat takeaway dan, dalam beberapa kasus, sejumlah restoran yang memiliki kamar pribadi boleh buka.

Selain itu, setiap orang yang berhubungan dengan penyelenggaraan Olimpiade akan diminta untuk menginstal dua aplikasi saat memasuki Jepang. Salah satunya adalah aplikasi pelaporan imigrasi dan kesehatan, dan yang lainnya adalah aplikasi pelacakan kontak yang menggunakan Bluetooth. Mereka juga harus menyetujui untuk mengizinkan penyelenggara menggunakan GPS guna memantau pergerakan dan kontak mereka melalui ponsel jika ada infeksi atau pelanggaran aturan.

Jepang juga berencana untuk menempatkan pemantau manual di tempat-tempat pertandingan dan hotel, meskipun belum jelas berapa jumlahnya.

''Kami akan mengontrol setiap gerakan masuk dan keluar. Kami akan memiliki sistem yang tidak akan mengizinkan siapa pun keluar dengan bebas,'' kata Menteri Olimpiade Tamayo Marukawa.

Sentimen negatif dari warga

Pembatasan keamanan di Jepang ini dinilai akan merepotkan pengunjung, dan bisa memukul ekonomi dan kehidupan penduduk setempat. Seiring meningkatnya jumlah orang yang datang selama berlangsungnya pesta olahraga dunia itu, para pejabat publik di Jepang telah dituduh tidak berbuat banyak untuk keamanan warganya, namun di sisi lain juga dianggap berlebihan.

Pemerintah dan penyelenggara Olimpiade ''memperlakukan pengunjung seolah-olah mereka adalah penjahat potensial,'' ujar Chizuko Ueno, profesor emeritus sosiologi di Universitas Tokyo, di YouTube.

Ada juga rasa sentimen karena untuk mendapatkan pemasukan miliaran dolar, Komite Internasional Olimpiade akan melangsungkan ajang olahraga tersebut terlepas dari bagaimana keadaan penyebaran virus di Jepang.

''Olimpiade diadakan oleh IOC sebagai bisnis. Tidak hanya orang Jepang, tetapi orang lain di seluruh dunia, merasa muak oleh Olimpiade setelah kita semua melihat sifat sebenarnya dari Olimpiade dan IOC selama pandemi,'' pendaki gunung Ken Noguchi mengatakan kepada surat kabar Nikkan Gendai edisi online.

Sementara itu, para editor olahraga senior di perusahaan media internasional besar, telah meminta penyelenggara untuk ''mempertimbangkan kembali beberapa tindakan berlebihan untuk menjaga keselamatan peserta dan penduduk,'' dengan mengatakan mereka ''menunjukkan pengabaian terhadap privasi pribadi dan keamanan teknologi. rekan-rekan kami.''

ae/yp (AP, Reuters)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait