Jerman Anugrahi Orang Asing Yang Berjasa
2 Oktober 2008
Tahun 1969 Teodore Calvo memutusakan mengadu nasib dari Spanyol ke Jerman. Untuk memacu perekonomiannya, Jerman dulu mencari para tenaga kerja, juga tanpa kualifikasi.
"Di Spanyol ada sebuah kantor dimana orang dapat mendaftar dan mengatakan: Saya ingin ke Jerman. Beberapa pekan kemudian orang sudah mendapat kontrak kerja. Dan selanjutnya mendapat pemeriksaan kesehatan dari dokter Jerman, dokter Spanyol, jika hasilnya baik orang kemudian berangkat ke Jerman. Itu seperti sebuah petualangan. Saya dulu berusia 23 tahun, dan tidak banyak menyusun rencana. Saya hanya berkata, jika orang lain pergi, saya pergi juga."
39 tahun kemudian, tanggal 1 Oktober kemarin, Teodoro Calvo diundang ke Berlin untuk suatu acara yang diselenggarakan Kanselir Merkel dengan motto Jerman mengucapkan terima kasih. Yang mengejutkan Calvo ketika ia melihat fotonya di harian-harian Jerman dan secara berturut-turut diwawancara tiga stasiun radio dan televisi. Di Kantor Kanselir mula-mula ia mendengar pidato pejabat urusan integrasi Jerman Maria Böhmer.
"Hari ini adalah hari penting bagi Anda, karena kanselir mengundang Anda, karena kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda. Karena Anda semua telah bekerja kerja, telah berpartisipasi yang membuat perkembangan demikian baik bagi Jerman, sehingga kami mencapai kemakmuran di negara ini."
Agar dapat tiba tepat waktu di kantor kanselir di Berlin, hari Rabu (01/10) di Hannover, Teodoro Calvo bangun pukul lima pagi. Hampir seperti tahun 1969 ketika ia mula-mula bekerja di pabrik makanan dan kemudian di pabrik mobil Volkswagen. Ketika mulai bekerja di Jerman, Calvo tinggal di sebuah asrama dan berbagi kamar dengan pekerja dari Spanyol lainnya. Tahun 1973 ia berlibur ke Spanyol, menikah di sana dan memboyong istrinya ke Jerman.
satu tahun kemudian lahir putranya Andres, yang menempuh pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai universitas di Jerman dan menjadi penerjemah untuk bahasa Jerman, Inggris dan Spanyol. Jauh lebih dini dibanding pekerja dari negaranya, keluarga Calvo menyadari bahasa adalah kunci di dunia kerja dan menjalin kontak sosial. Seusai kerja, Calvo dan istrinya mengambil kursus bahasa Jerman dan menempuh ujian sekolah susulan.
Dalam kesempatan bertemu dengan Kanselir Merkel, Teodoro Calvo juga menceritakan kegiatan sukarelanya di organisasi Caritas di Hannover. Tepatnya di rumah bagi imigran dari Spanyol yang dikunjungi para pekerja migran generasi pertama, seperti Teodoro Calvo. Kebanyakan mereka yang berkunjung ke pusat senior yang didirikan 9 tahun lalu, penguasaan bahasa Jermannya jauh lebih buruk dari Calvo. Hal terburuk bagi para imigran di usia pensiun adalah kehidupan yang terisolir. Pemerintah Jerman diharapkan lebih banyak mendorong pusat-pusat senior seperti itu. (dk)