Pemerintah baru Jerman menyatakan akan menolak sebagian besar pencari suaka di perbatasan. Pemerintah di Berlin berupaya membatasi imigrasi ilegal, dan meredam kebangkitan sayap kanan ekstrem.
Gambar ilustrasi perbatasan bagi imigranFoto: Michael Bihlmayer/CHROMORANGE/picture alliance
Iklan
Langkah ini menjadi bagian penting dari rencana kanselir baru Jerman, Friedrich Merz untuk merebut kembali kendali dari partai antiimigrasi Alternative für Deutschland (AfD), yang menempati posisi kedua raihan suara dalam pemilu bulan Februari lalu, dan dalam jajak pendapat teranyar terus menunjukkan peningkatan jumlah dukungan secara signifikan.
Merz mengatakan kepada Welt TV, ia telah memberi tahu Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk terlebih dahulu, dan lebih lanjut mengatakan, langkah-langkah "sementara" ini "diperlukan selama tingkat migrasi ilegal di Uni Eropa masih setinggi ini."
Banyak Jihadis ISIS Sembunyi Nyaman di Jerman
02:03
This browser does not support the video element.
Jumlah polisi perbatasan diperbanyak
Pemerintah baru Jerman, yang mulai menjabat pada hari Selasa (07/05), telah mengambil langkah untuk menambah kekuatan petugas kepolisian di perbatasan. "Kami memerintahkan petugas untuk menolak migran tanpa dokumen, termasuk pencari suaka," demikian ditegaskan Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt.
Namun pengecualian akan diberikan kepada "kelompok rentan" termasuk perempuan hamil dan anak-anak, tambahnya.
Untuk melaksanakan langkah ini, Dobrindt membatalkan keputusan dari tahun 2015 — pada puncak krisis migrasi Eropa — saat Jerman menerima lebih dari satu juta imigran, terutama dari Suriah dan Afganistan.
Kanselir Jerman yang baru terpilih Friedrich Merz berbicara selama konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk selama kunjungan Kanselir ke Polandia pada hari pertamanya menjabat untuk hadiri pertemuan bilateral di Kanselir Perdana Menteri Polandia di Jalan Ujazdowska.Foto: Dominika Zarzycka/SOPA Images/ZUMA Press/picture alliance
Harian Bild melaporkan, Dobrindt telah memerintahkan pengiriman tambahan 2.000 hingga 3.000 petugas polisi federal ke perbatasan Jerman, memperkuat 11.000 petugas yang sudah ditempatkan di sana.
Media Der Spiegel melaporkan, polisi harus bekerja dalam shift hingga 12 jam per hari untuk menegakkan aturan baru ini.
Kepala Kepolisian Jerman Andreas Rosskopf, kepada surat kabar Rheinische Post mengatakan, "penguatan... telah dimulai" sesuai dengan instruksi pemerintah baru.
Iklan
Rasa kemanusiaan harus ditegakkan
Dobrindt mengatakan lebih lanjut, tujuan kebijakan ini adalah untuk menjamin "rasa kemanusiaan dan ketertiban" dalam migrasi, dan bahwa ketertiban harus "diberi bobot dan kekuatan lebih besar daripada yang terlihat di masa lalu."
Langkah pemerintah baru ini membuat beberapa negara tetangga kecewa, dengan Swiss menyatakan bahwa mereka "menyesalkan" bahwa langkah-langkah ini diambil "tanpa konsultasi".
Berbicara bersama Merz dalam konferensi pers di Warsawa, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mendesak Jerman untuk "memusatkan perhatian pada perbatasan eksternal Uni Eropa" dan menjaga zona Schengen.
Merz menekankan, Jerman akan menerapkan politik migrasi yang lebih ketat, namun pengendalian ini akan dilakukan "dengan cara yang tidak akan menimbulkan masalah bagi negara tetangga", dan menambahkan, Jerman ingin "menyelesaikan masalah ini bersama" negara-negara Uni Eropa lainnya.
Di dalam negeri, Merz berargumen bahwa tindakan tegas diperlukan untuk meredakan kekhawatiran pemilih dan menghentikan kebangkitan AfD.
AfD mencatat rekor dengan meraih lebih dari 20 persen suara dalam pemilu lalu, dan menempati posisi kedua setelah aliansi konservatif Partai Kristen Demokrat (CDU), Partai Kristen Sosialis (CSU), yang dipimpin Merz, dan sejak itu terus naik dalam jajak pendapat, bahkan kadang menempati posisi pertama.
Panduan bagi Pencari Suaka
Pendatang baru di Jerman kerap kesulitan dalam mengikuti praktik budaya dan pemerintah Jerman. Negara bagian Sachsen mengeluarkan brosur untuk membantu mengorientasikan pencari suaka.
Foto: SMI Sachsen
Membantu Orientasi
Hingga November 2013, 115.576 orang mencari suaka di Jerman. Negara bagian Sachsen merilis panduan untuk membantu mereka melewati rimba institusi Jerman: sebuah brosur seperti komik tersedia dalam tujuh bahasa. Tips diberikan tentang berbagai aspek kehidupan, mulai dari kunjungan ke dokter hingga mendaftar sekolah.
Foto: SMI Sachsen
Menjelaskan Norma-Norma
Pengungsi diberitahu, misalnya, bahwa memberi hadiah kepada petugas institusi pemerintah Jerman akan mengakibatkan kesalahpahaman. Mereka dilarang menerima hadiah, seperti digambarkan oleh ilustrasi. Kelompok pengungsi Jerman, Pro Asyl, mengkritik gambar ini karena dianggap melanggengkan stereotipe negatif.
Foto: SMI Sachsen
Pertimbangan dan Ketenangan
Panduan juga menjelaskan aturan untuk akomodasi bersama yang disediakan bagi pencari suaka. Tamu hanya boleh datang pada siang hari, dan tidak boleh menginap. Gambar merekomendasikan tetangga baru untuk memperkenalkan diri kepada yang lain sehingga bisa saling mengenal. Waktu tenang juga harus diperhatikan untuk mempertahankan kesunyian yang sangat dihargai di Jerman.
Foto: SMI Sachsen
Tepat Waktu
Warga Jerman dikenal tepat waktu. Apabila Anda tidak bisa datang ke janji dokter, dan tidak punya alasan yang baik atau membatalkan sebelumnya, ini bisa menjadi dasar untuk menolak penjadwalan janji berikutnya, menurut brosur. Memenuhi tenggat waktu sangat menentukan untuk dapat menerima dokumen penting atau uang, demikian dijelaskan dalam buklet.
Foto: SMI Sachsen
Wajib Hadir Sekolah
Semua anak berusia lebih dari 3 tahun berhak untuk masuk taman kanak-kanak - pihak imigrasi menutupi biaya sekolah anak-anak pencari suaka. Mulai usia 6 tahun, setiap anak harus bersekolah - seperti dijelaskan pada gambar. Pencari suaka juga berkesempatan untuk belajar bahasa Jerman.
Foto: SMI Sachsen
Kunjungan ke Dokter
Pasien harus memperlihatkan kartu chip pribadi atau sertifikat asuransi saat berkunjung ke dokter. Terapi juga ditawarkan bagi pengungsi yang mempunyai masalah psikologis, seperti trauma akibat konflik atau perang. Seorang penerjemah siap membantu di sejumlah lokasi apabila bahasa menjadi kendala.
Foto: SMI Sachsen
6 foto1 | 6
Perjanjian aliansi yang picu kontroversi
Perjanjian koalisi antara CDU/CSU dan Partai Sosial Demokrat (SPD) menyatakan, semua orang yang tiba di perbatasan Jerman tanpa dokumen akan ditolak masuk, termasuk mereka yang mengajukan suaka.
Poin terakhir ini memicu kontroversi, karena sebagian anggota SPD khawatir, kebijakan tersebut mungkin tidak sesuai dengan hukum Uni Eropa.
Perjanjian itu juga menyebutkan, pemeriksaan perbatasan yang ditingkatkan akan tetap diberlakukan hingga "perlindungan efektif terhadap perbatasan eksternal UE tercapai."
Di tengah serangkaian serangan kekerasan menjelang pemilu Februari, yang sebagian besar pelakunya adalah imigran pencari suaka, Merz menjadikan penindakan terhadap migrasi ilegal sebagai tema utama kampanyenya.
Misteri Tentara Jerman Yang Menyamar Sebagai Pengungsi Suriah
Letnan berusia 28 tahun, Franco A., jalani kehidupan ganda dengan menyamar sebagai pengungsi yang akan lancarkan serangan teror. Skandal meluas setelah tersangka diketahui sejak lama memiliki pandangan ekstrim kanan.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Sauer
Terungkap Berkat Sidik Jari
Tiga bulan sebelum ditangkap, Franco A. berada di Wina Austria. Menurut harian Die Welt, ia menyembunyikan pistol berpeluru di toilet bandara Wina. Ia tidak ditahan karena tidak cukup bukti. Tapi sidik jarinya diperiksa oleh polisi Austria, dan identik dengan sidik jari "David Benjamin" yang tercatat sebagai pencari suaka di Jerman. Kepolisian Jerman langsung dihubungi.
Foto: picture-alliance/dpa/U. Anspach
Penjual Buah David Benjamin
Berprofesi tentara, ayahnya dari Italia dan ibunya Jerman, menyamar menjadi penjual buah asal Damaskus bernama "David Benjamin" yang beragama Katolik, keturunan Yahudi, dan melarikan diri dari ISIS. Permohonannya sebagai pengungsi disetujui, walau tidak bisa berbahasa Arab, Ia mendapat fasilitas tempat tinggal dan uang tunjangan bulanan dari pemerintah Jerman. (Foto simbol)
Foto: picture-alliance/dpa/F. von Erichsen
Ditangkap Saat Latihan Militer
Polisi menangkap Letnan Franco A. di kamp pelatihan militer dekat Hammelburg, kota kecil di negara bagian Bayern Rabu malam (26/04). Ia bergabung dengan militer Jerman-Bundeswehr 8 tahun yang lalu dan telah melewati pemeriksaan keamanan secara rutin.
Foto: Getty Images/AFP/F. Florin
Target Sasaran Muslim dan Pengungsi
Bersamaan dengan penangkapan Franco A., polisi merazia apartemen temannya, mahasiswa teknik industri Matthias F., 24 tahun. Keduanya berkomuniksi via SMS untuk menjadikan pencari suaka dan muslim sebagai target serangan teror. Di apartemen Mathias, petugas menemukan granat dan dinamit.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Rampfel
Berpaham Ekstrim Kanan
Skandal meluas, setelah majalah berita Der Spiegel melaporkan, tersangka mengekspresikan pandangan ekstrim kanannya pada makalah akademis 2014, namun tidak mendapat hukuman disipliner. Dinas intelijen militer Jerman MAD saat ini sedang menginvestigasi anggota Bundeswehr yang dituduh mendukung aliran ekstrim kanan.
Foto: picture alliance / Marcel Kusch/dpa
"Nol Toleransi"
Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen menegaskan kepada stasiun TV ZDF: "Kami bisa mentolerir banyak hal, tetapi tidak memberi toleransi bagi pandangan ekstrimisme politik, ekstrim kanan, atau ektrimis bermotivasi agama".
Foto: picture-alliance/dpa/I. Fassbender
6 foto1 | 6
Pada satu kesempatan, ia bahkan mengandalkan dukungan AfD di parlemen untuk meloloskan mosi yang menuntut pengetatan imigrasi — sebuah langkah yang secara luas dianggap melanggar "tembok api" (prinsip nonkerja sama) terhadap partai tersebut.
Penetapan itu didasarkan pada laporan internal BfV setebal 1100 halaman, yang diserahkan kepada kementerian dalam negeri namun tidak dipublikasikan.
Media der Spiegel melaporkan, laporan tersebut mengutip pernyataan dari ratusan anggota AfD di berbagai tingkatan, yang menunjukkan bahwa partai ini melakukan "agitasi terus-menerus" terhadap migran, pengungsi, dan muslim.
Laporan itu juga menyoroti penggunaan slogan "remigrasi” oleh tokoh-tokoh AfD — sebuah istilah yang merujuk pada deportasi massal terhadap warga asing.
Langkah BfV itu memicu seruan baru untuk melarang partai tersebut, serta memicu reaksi keras dari AfD, yang telah mengajukan gugatan hukum terhadap penetapan itu pada hari Senin (05/05).