1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiJerman

Jerman Berencana Gandakan Kapasitas Pusat Data AI

30 September 2026

Jerman melonggarkan aturan demi menjaring investasi AI, terutama dalam pembangunan kapasitas pusat data. Namun, maraknya isu lingkungan dan kebutuhan energi masih mengompori skespsime warga di sekitar lokasi proyek.

Area konstruksi yang dipagari untuk pusat data hyperscale Google di Dietzenbach
Sebuah pusat data hyperscale Google sedang dibangun di Dietzenbach sebagai bagian dari investasi senilai 5,5 miliar euro (sekitar Rp113,8 triliun) yang diumumkan tahun laluFoto: DW

Masa depan digital sudah tiba, dan ia sedang terwujud di kota kecil Dietzenbach.

Google, EdgeConnex, dan Maincubes, dua perusahaan teknologi AS dan satu perusahaan Jerman, masing-masing sudah memesan lahan untuk pusat data di kota kecil dekat Frankfurt am Main ini.

Dietzenbach adalah pusat logistik dekat bandara Frankfurt dan dihuni 35.000 orang.   

Kawasan Frankfurt, pusat industri keuangan Jerman, adalah salah satu lokasi paling diminati oleh operator cloud digital di seluruh dunia. Seiring permintaan kapasitas komputasi yang terus tumbuh, semakin banyak pusat data yang direncanakan untuk kawasan ini.

Warga khawatir soal penggunaan listrik dan air

Namun kabar rencana pusat data keempat disambut penolakan warga setempat. Tumpukan puluhan ribu komputer dalam sebuah pusat data membutuhkan pasokan energi besar untuk beroperasi sepanjang waktu. Komputer-komputer itu memancarkan panas dalam jumlah besar dan membutuhkan pendinginan, yang memerlukan air dalam jumlah sangat besar.

Warga Dietzenbach yang ditemui DW khawatir tagihan air dan listrik mereka akan naik, serta suhu di kota mereka akan meningkat.

"Kami ingin tahu dua hal: Apa manfaatnya bagi komunitas lokal di Dietzenbach? Dan apa dampak lingkungannya?" kata Wilhelm Sauer, warga Dietzenbach, sambil menunjuk empat cerobong asap besar yang menjulang dari pusat data EdgeConnex.

Ia dan aktivis lokal lainnya yakin bahwa beban yang ditimpakan pusat data pada sumber daya kawasan mungkin tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja baru yang dijanjikan.

Namun Wali Kota Dietzenbach, Dieter Lang dari Partai Demokrat Sosial (SPD), optimis. Ia memperkirakan sekitar 100 "pekerjaan bernilai tinggi" akan hadir di kotanya melalui pusat data Google.

Ia juga berharap ini akan menguntungkan kas kota: "Kami mengharapkan kontribusi pajak yang substansial," kata Lang kepada DW.

Namun Tara Merk, peneliti pusat data komunitas di Weizenbaum Institute, skeptis. Ia percaya Jerman kemungkinan akan mendapat sedikit pendapatan dari pusat data yang dioperasikan perusahaan AS, "karena keuntungannya mungkin dikenakan pajak di tempat lain."

"Terutama kalau bicara soal perusahaan teknologi besar, mereka tidak akan membayar pajak di Dietzenbach," katanya kepada DW.

Pusat data dan minimnya informasi 

Pada Agustus 2026, pemerintah Jerman meluncurkan registri pusat data yang mencantumkan konsumsi energi, konsumsi air, dan langkah-langkah efisiensi energi untuk pusat data yang sudah beroperasi.

Namun daftar itu hanya mencakup sekitar 300 pusat data, jauh lebih sedikit dari perkiraan 2.000 pusat data yang menurut pemerintah sedang beroperasi di seluruh negara.

"Beberapa perusahaan melaporkan proyek-proyek kecil mereka, tapi tidak yang besar," kata Werner Neumann, anggota dewan kelompok lingkungan BUND, kepada DW.

Tidak ada gambaran resmi tentang berapa banyak pusat data yang sedang dibangun atau di mana lokasinya. Proyek masyarakat sipil Heisse Luft (Udara Panas) memutuskan untuk mengisi kesenjangan informasi ini dan mengembangkan peta daring pusat data yang direncanakan di seluruh Jerman. Peta itu diperbarui setiap hari berdasarkan informasi dari komunitas lokal.

"Secara teori, kita seharusnya bisa mengakses informasi ini," kata Tiziana von Witzleben, salah satu pendiri inisiatif Heisse Luft, kepada DW. "Mungkin pemerintah Jerman tidak punya kapasitas untuk mengumpulkan dan berbagi informasi ini. Tapi saya percaya ini disengaja, terutama oleh pemain besar seperti Google dan Amazon. Mereka dikenal sangat tertutup tentang apa yang mereka lakukan. Karena mereka tahu bahwa jika mereka memberi tahu orang-orang, mereka akan mendapat banyak protes."

Berbeda dari AS, di mana gerakan nasional memobilisasi protes di seluruh negeri, protes terhadap pusat data di Jerman masih merupakan fenomena komunitas lokal. 

Pada Februari, dewan lokal Groß-Gerau di kawasan Frankfurt memilih menolak pusat data senilai 2,5 miliar euro (sekitar Rp51,7 triliun) yang diusulkan operator AS, setidaknya sebagian akibat protes besar-besaran dari warga yang khawatir soal limbah panas.

Di Maintal, kota lain di kawasan tersebut, pusat data mega EdgeConnex menghadapi protes sengit atas rencananya membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas sendiri. Proyek senilai 1 miliar euro itu kini mencari alternatif pasokan listrik di kawasan yang sudah mencapai batas kapasitas jaringannya.

Banyak warga Dietzenbach memandang pembangunan pusat data raksasa di lingkungan mereka dengan penuh kekhawatiranFoto: DW

Persaingan memperebutkan kekuatan komputasi

Jerman adalah pasar pusat data terbesar di Eropa, baik dari sisi kapasitas maupun jumlah lokasi. Kawasan Frankfurt/Rhine-Main, yang mencakup Dietzenbach, menampung lebih dari sepertiga total kapasitas pusat data negara itu.  

Kedekatannya dengan infrastruktur Commercial Internet Exchange (DE-CIX) di Frankfurt membuat kawasan ini sangat diminati operator cloud digital.

Untuk mencapai target strategis menggandakan kapasitas pusat data pada 2030, pemerintah federal yang merupakan koalisi CDU dan SPD mengusulkan perubahan pada Undang-Undang Efisiensi Energi (EnEfG) yang mengatur konsumsi energi dan perlindungan iklim.

Partai Hijau yang berhaluan lingkungan mempertanyakan apakah target itu didasarkan pada permintaan nyata. Partai Kiri, di sisi lain, skeptis terhadap ekspansi secara keseluruhan. Kedua partai menentang rencana pemerintah untuk melonggarkan aturan demi menarik lebih banyak pusat data.

Di ujung spektrum politik yang berlawanan, AfD mendukung perluasan pusat data tapi mengkritik undang-undang yang mendorong penggunaan energi terbarukan untuk mengoperasikannya.

Mengapa amandemen efisiensi energi kontroversial?

Amandemen yang diusulkan akan mengundur tenggat bagi operator untuk mencapai target energi terbarukan, serta melonggarkan persyaratan untuk penggunaan kembali limbah panas.

Meski demikian, Merk masih menilai dorongan untuk pusat data yang hemat energi di Jerman sebagai contoh yang progresif dalam konteks global.

Namun ia mengkritik bagian undang-undang yang akan memberi perusahaan hak untuk menyatakan data tentang jumlah air dan listrik yang mereka gunakan sebagai rahasia dagang.

"Amandemen yang diusulkan ini menggeser lanskap regulasi sangat jauh ke arah yang menguntungkan operator," katanya kepada DW. "Data yang baik diperlukan untuk mengatur, mengintervensi, dan membangun kepercayaan serta penerimaan dalam komunitas lokal."

"Saya pikir kurangnya transparansi ini pada akhirnya akan menumbuhkan lebih banyak permusuhan antara pusat data dan komunitas lokal, membuat operator semakin sulit untuk berkembang atau bahkan mempertahankan lokasi yang sudah ada," Merk memperingatkan.

Algorithm Watch, lembaga pengawas kecerdasan buatan, berargumen dalam pernyataan publik bahwa perubahan hukum yang diusulkan pemerintah bukan tentang memangkas birokrasi, melainkan lebih tentang menyenangkan raksasa teknologi AS seperti Microsoft, Google, dan Vantage.

"Operator Jerman dan Eropa sebagian besar tidak keberatan dengan aturan saat ini," kata Algorithm Watch. "Amandemen ini justru bertentangan dengan tujuan pemerintah sendiri untuk memperkuat perusahaan Jerman dan Eropa."

Musim panas ini, lembaga pengawas itu meluncurkan kampanye dan mengumpulkan 150.000 tanda tangan menentang amandemen undang-undang, menyerukan agar kewajiban pelaporan publik pusat data tetap dipertahankan.

Amandemen itu dipresentasikan ke Bundestag pada September. Jika undang-undang baru disahkan, pemerintah berharap aturan itu akan berlaku mulai Januari.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Rizki Nugraha