030609 Steinmeier Budapest
3 Juni 2009
Hentakan kecil, lembaran kain yang menyelubungi papan dari perunggu pun tersingkap. Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Balasz memandangi papan peringatan di pinggiran jalan ramai di Budapest. Papan itu mengingatkan pada peran Hungaria di musim panas 1989 saat perbatasan antara barat dan timur runtuh:
"Jerman adalah contoh bagi kita semua: Satu negara, yang berdamai dengan tetangganya dan juga berdamai dengan sejarahnya."
Musim semi tahun 1989 pemerintah komunis yang condong reformis mendobrak perbatasan ke Austria dan membuka lubang bagi warga Jerman Timur (DDR) untuk menyelinap ke barat. Lubang di pagar kawat Hungaria menyebabkan tembok perbatasan antara barat dan timur pun sedikit terbuka. Beberapa bulan setelahnya, tembok Berlin runtuh, dan tak lagi memisahkan Jerman Timru dan Barat.
Bagi Menteri Luar Negeri Frank Walter Steinmeier, Hungaria adalah negara pertama dan juga yang paling berani melangkah di jalan yang menuju era baru, satu era tanpa tembok pemisah:
"Saya berada di sini untuk mengucapkan terima kasih", demikian ungkap Steinmeier.
Puluhan ribu orang meninggalkan Jerman Timur melalui Hungaria di tahun 1989. Mereka melewati Austria sampai akhirnya mencapai kawasan Jerman Barat.
Kini, Hungaria sudah menjadi bagian Uni Eropa. Tantangan baru yang muncul saat ini berbeda dengan 20 tahun lalu.
Eforia Eropa yang dulu menyelimuti semua kawasan, di beberapa tempat kini berubah menjadi kejenuhan. Dukungan bagi partai nasionalis dan populis kanan meningkat, juga di Hungaria.
Menteri Luar Negeri Steinmeier memperingatkan, perkembangan ini mungkin menyebabkan kelamahan politik dan ekonomi Uni Eropa. Dan ini sungguh fatal di saat krisis ekonomi merundung dunia.
"Kita tak boleh mempertaruhkan persatuan Eropa dengan kembali pada egoisme nasional. Solidaritas justru harus dibuktikan saat kita berada dalam kesusahan. Solidaritas bukan suatu kemewahan, tapi kebutuhan."
Peringatan Steinmeier terutama ditujukan pada Hungaria. Saat pemilu parlemen Eropa, kaum ektsremis kanan berpeluang merebut satu atau dua mandat. Krisis ekonomi bagai mengipasi posisi kaum populis, kata pakar politik Budapest Zoltan Kiszely. Namun, penyebabnya terkubur lebih dalam. Dan tidak ada kaitannya dengan perubahan di tahun 1989:
"Di Hungaria ada begitu banyak harapan tapi juga salah paham, mungkin sama dengan di banyak negara Eropa Timur. Banyak orang berpikir, mereka dapat bekerja seperti di timur tapi hidup seperti di barat."
Tak heran, bila saat ini di Hungaria tak banyak orang tertarik pada revolusi tahun 1989. Setidaknya itu pendapat pakar politik Kizley:
"Di Hungaria itu bukan saat yang penting. Warga Hungaria bebas berpergian di saat tirai besi belum terkoak sekalipun. Tapi bagi warga Jerman Timur ini adalah kesempatan baru, mereka dapat lari ke Austria setelah perbatasan dibuka. Untuk warga Hungaria ini bukan hal istimewa."
Bicara mengenai negara tetangganya Jerman, warga Hungaria saat ini lebih tertarik pada masa depan Opel. Mereka bertanya-tanya, berapa lapangan kerja yang akan dipangkas akibat pengambil-alihan produsen mobil Opel oleh perusahaan suku cadang Magna. Jawaban Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier:
"Di seluruh Eropa sekitar 10.000 lapangan kerja yang dipangkas. Ini sama dengan konsep yang diajukan peminat lainnya. Yang penting, kami berhasil membatasi jumlah PHK. Ini berkat konsep yang diajukan Magna."
Ini juga menjadi harapan di Hungaria. Karena, sama dengan di Jerman, sejumlah lapangan kerja Opel juga terancam di Hungaria.
Andreas Meyer-Feist/Ziphroa Robina
Editor: Hendra Pasuhuk