1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman dan AS Sepakati Pertukaran Data Personal

11 Maret 2008

Terkait perang melawan teror internasional dan kriminalitas lintas negara, Jerman dan Amerika Serikat sepakat memperbaiki pertukaran data. Kesepakatan ini ditanda-tangani di Berlin hari Selasa (11/03).

Foto: AP

Kesepakatan itu ditanda-tangani oleh para wakil dari Jerman dan Amerika Serikat. Nantinya pertukaran data dan informasi antara kedua negara ini akan menjadi lebih mudah.

Sebelumnya pada tahun 2005 di kota Prüm, sejumlah negara Eropa telah sepakat akan melakukan kerja sama ini, yang bertujuan memerangi terorisme dan berbagai tindak kriminal berat. Rakyat Jerman sangat peka terhadap kegiatan ilegal Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) karenanya Menteri Dalam Negeri Jerman Wolfgang Schäuble menegaskan bahwa pasal-pasal mengenai perlindungan data personal yang tercantum dalam kesepakatan Prüm dulu akan diambil alih.

“Dan saya ingin ingatkan, bahwa para pelindung data juga telah menyatakan bahwa peraturan yang disepakati sehubungan perlindungan data ini sangat baik.”

Pernyataan Schäuble ini langsung dikonfirmasi Menteri Kehakiman Jerman Brigitte Zypries. Ia juga secara khusus menekankan, bahwa tidak ada perubahan pada prosedur maupun peraturan mengenai bantuan hukum. Disebutkan, perbedaannya hanya bahwa nanti Amerika Serikat bisa bertanya apakah sidik jari seseorang yang dicari di Jerman sudah terdokumentasi.

Brigitte Zypries menerangkan, “Artinya, masing-masing pihak bisa bertanya, apakah mitranya memiliki data mengenai seseorang tertentu dan bila ya, maka proses permohonan informasi akan digulirkan seperti sediakala, supaya prosedur hukum akan tetap terjaga.”

Pertukaran data yang terkait dengan sidik jari genetik sampai sekarang belum bisa dilakukan, karena Amerika belum memiliki azas hukum mengenai hal itu. Demikian dikatakan Menteri Dalam Negeri AS Michael Chertoff. Kemampuan Amerika Serikat dalam penyimpanan data DNA belum secanggih di Eropa. Namun secara prinsip, kesepakatan baru ini memungkinkan pembandingan DNA. Michael Chertoff menyambut kesepakatan ini, “Kita memerangi musuh yang memiliki jaringan internasional, dan karenanya kami harus merespons dengan jaringan global yang khusus.“

Kesepakatan ini juga memberi peluang bagi pihak-pihak yang bermitra untuk memberikan informasi mengenai orang-orang yang diduga terkait dengan terorisme dan kegiatan kriminal berat lain. Bagi Chertoff ini merupakan poin penting, karena hal ini menunjukkan kepada para pelaku kejahatan bahwa mereka tidak bisa bersembunyi lagi dan akan diburu sampai dapat.

Sementara di pihak Jerman, pejabat khusus untuk perlindungan data Peter Schaar menyatakan kekhawatirannya mengenai lingkup perlindungan yang bisa dipertahankan sehubungan dengan informasi pribadi dari orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Meski ia juga menyambut kesepakatan itu, ia mengingatkan bahwa pertukaran informasi ini harus benar-benar dibatasi pada data orang-orang yang telah terbukti melakukan pelanggaran hukum. (ek)