Jerman dan Cina Sepakati Solusi Politik Krisis Suriah
29 Oktober 2015Dalam kunjungan resmi ke Beijing, Kanselir Jerman Angela Merkel hendak berusaha menekan pimpinan Cina agar memanfaatkan relasinya dengan Rusia untuk membantu mencari solusi krisis Suriah. “Kita memerlukan solusi politik dan diplomatik,” ujar Merkel. PM Cina Li Keqiang juga mengamini tuntutan kanselir Jerman untuk secepatnya mencari pemecahan dari krisis berkepanjangan itu.
PM Cina kembali tegaskan sikapnya menolak penggunaan kekuatan militer untuk menghentikan krisis di Suriah. “Yang paling penting adalah membuka peluang bagi penerapan resolusi politik, dengan menggelar dialog yang terbuka, inklusif dan setara,” ujar Li kepada wartawan di Beijing. Dengan pernyataan itu, Beijing menyasar aksi militer Rusia yang dimulai bulan lalu, serta kekerasan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan koalisinya sejak empat tahun ini di Suriah.
Selain membahas masalah politik Suriah, kunjungan Merkel ke Cina selama dua hari itu terutama juga membahas perluasan kerjasama ekonomi diantara kedua negara. Kunjungan Merkel kali ini bertepatan dengan menurunnya konjunktur ekonomi di Cina. Namun kanselir Jerman menyatakan tetap yakin ekonomi Cina akan bangkit dan mendominasi.
Jerman kewalahan hadapi arus pengungsi
Kanselir Merkel mendapat tekanan politik berat di dalam negeri, terkait politiknya dalam penanganan krisis pengungsi. Karena itu Merkel berusaha mencari solusi di akar permasalahnnya yakni mengakhiri konflik di Suriah. Berlin memperkirakan antara 800.000 hingga satu juta pengungsi akan menyerbu ke Jerman hingga akhir tahun ini. Setiap hari puluhan ribu pengungsi masuk ke Jerman, terutama lewat perbatasan Austria dengan negara bagian Bayern di selatan.
Jumlah pengungsi yang diprediksi akan masuk ke Jerman itu dua kali lipat dari perkiraan yang dilontarkan pemerintah Jerman pertenganan tahun 2015. PM Negara Bagian Bayern Horst Seehofer sudah melontarkan ultimatum pembatasan kuota pengungsi. Kini Merkel harus secepatnya menemukan pemecahan masalah pengungsi Suriah yang mengancam keutuhan koalisi pemerintahannya.
Konferensi Internasional Suriah
Bersamaan dengan itu, di Wina, Austria, Kamis ini (29/10), dimulai sesi awal perundingan solusi krisis Suriah. Peserta perundingan awal adalah pemain kunci dalam krisis itu yakni Amerika Serikat, Rusia, Arab Saudi dan Turki.
Perundingan di Kamis merupakan persiapan bagi konferensi internasional Suriah yang akan digelar mulai Jumat (30/10) di ibukota Austria itu yang melibatkan semua aktor di kawasan termasuk Uni Eropa yang mendapat imbasnya berupa krisis pengungsi. Untuk pertama kalinya Iran juga diundang untuk menghadiri konferensi internasional tersebut. Pemerintah di Teheran menyatakan akan mengirim Menlu Mohammad Javad Zarif ke konferensi di Wina itu.
Cina bersama Rusia adalah mitra Presiden Suriah Bashar al Assad yang berulangkali menyerukan pentingnya dialog dengan penguasa Suriah saat ini untuk mencari solousi konflik yang telah menelan 300.000 korban jiwa itu. Namun Barat, dengan aliansi yang dipimpin Amerika Serita dan Arab Saudi tetap ngotot menjatuhkan Assad dan mulai mendukung kelompok sempalan Al Qaida, Front Al Nusra yang disebut moderat. Rusia sudah menolak pemisahan istilah “teroris” moderat dan ekstrimis.
as/yf(rtr, dpa, afp)