1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman dan Prancis Hentikan Program Jet Tempur Gabungan

Felix Tamsut AFP, dpa, Reuters
9 Juni 2026

Proyek jet tempur generasi keenam Jerman-Prancis akhirnya resmi dibatalkan. Pemicunya adalah perselisihan antarperusahaan yang tak terjembatani. Pembatalan ini dipandang sebagai pukulan bagi masa depan keamanan Eropa.

Replika pesawat FCAS (Future Combat Air System) yang dipamerkan di Paris Air Show, sebuah Sistem Senjata Generasi Berikutnya (NGWS) dan Pesawat Tempur Generasi Baru (NGF) yang direncanakan sebagai pesawat tempur generasi keenam yang sedang dikembangkan oleh Dassault Aviation, Airbus, dan Indra Sistemas dalam kemitraan serta dukungan dari Angkatan Udara Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Model tiruan jet tempur di pameran Future Combat Air System pada Paris Air Show 2023Foto: Nicolas Economou/NurPhoto/picture alliance

Setelah bertahun-tahun diwarnai konflik internal, proyek bersama Prancis dan Jerman untuk membangun jet tempur generasi baru akhirnya runtuh. Kanselir Jerman, Friedrich Merz dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron pekan lalu sepakat bahwa perusahaan manufaktur Dassault Aviation dan Airbus gagal menyelesaikan perselisihan besar antarperusahaan, demikian dikonfirmasi otoritas di Berlin dan Paris pada Senin (08/06). 

Program Future Combat Air System (FCAS) yang diluncurkan pada 2017 ikut membidik pengembangan pesawat tempur generasi keenam sebagai pengganti pesawat Eurofighter dan Rafale yang akan beroperasi sekitar tahun 2040. 

Keputusan menghentikan salah satu proyek pertahanan terbesar di Eropa ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pejabat militer di sana terhadap ancaman dari Rusia, serta tekanan dari Amerika Serikat agar Eropa lebih mandiri dalam bidang pertahanan. 

Apa yang menyebabkan FCAS gagal? 

Proyek bernilai lebih dari €100 miliar (sekitar 2 triliun Rupiah) itu sebelumnya dianggap menjadi simbol persatuan militer Prancis dan Jerman. Namun, program tersebut terus dihantui perselisihan politik dan industri selama bertahun-tahun. 

Raksasa industri pertahanan Prancis, Dassault Aviation, menuntut kendali yang jauh lebih besar atas proyek terebut dibandingkan mitranya, konsorsium Eropa Airbus Defence and Space. Kedua perusahaan berselisih dalam mengendalikan fase lanjutan proyek, akses terhadap hak kekayaan intelektual, dan utamanya perbedaan pengembangan desain pesawat. 

Hingga kini, Airbus maupun Dassault Aviation belum melontarkan komentar resmi terkait hal tersebut. 

Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat untuk membatalkan program pesawat tempur FCAS.Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance

Upaya menyelamatkan proyek 

Peningkatan kekuatan militer sebenarnya merupakan prioritas bagi ke27 negara anggota Uni Eropa . Banyak negara menyuarakan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan sejak serangan militer Rusia ke Ukraina

Kandasnya proyek jet tempur Jerman-Prancis tidak lantas membunuh proyek FCAS. Merz dan Macron sebelumnya telah berjanji untuk memastikan proyek modernisasi pertahanan udara itu tetap berjalan dengan sukses. 

“Keahlian dalam membuat pesawat militer ada di Jerman. Industri Jerman kini harus membuktikan kemampuannya,” ujar Merz, menyerukan kerja sama dengan mitra lainnya. 

Thomas Erndl, juru bicara kebijakan pertahanan dari partai konservatif pimpinan Merz di dewan perwakilan Jerman atau Bundestag, mengatakan bahwa keputusan untuk menghentikan proyek pada akhirnya merupakan langkah yang tepat. 

Sementara itu, Franziska Brantner, salah satu pemimpin Partai Hijau Jerman, menilai kegagalan tersebut sebagai kemunduran serius bagi kebijakan keamanan dan pertahanan Eropa

“Ketika industri menghambat kemajuan, maka menjadi tugas para politisi untuk menunjukkan kepemimpinan dan memastikan proyek tetap berjalan,” ungkapnya kepada surat kabar Handelsblatt. 

Fokus baru dalam kerjasama Combat Cloud 

Jerman dan Prancis kini berencana mengalihkan fokus kerja sama mereka pada proyek Combat Cloud, sebuah sistem jaringan yang menghubungkan pesawat, drone, dan sensor militer dalam satu ekosistem tempur terpadu. 

Para pejabat pertahanan dijadwalkan bertemu pada pertengahan Juli mendatang untuk merancang ulang kerja sama melalui proyek-proyek yang lebih kecil dan realistis. 

Sementara itu, Cedric Perrin, ketua komite urusan luar negeri dan pertahanan Senat Prancis, mengatakan bahwa Macron “adalah satu-satunya pihak yang masih percaya proyek FCAS masih bisa diselamatkan.” 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Athif Aiman

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait