Jerman dan Resep Penanggulangan Krisis
8 Desember 2008Mengenai rencana pemerintah Jerman, harian tageszeitung yang terbit di Berlin menulis:
Jadi pemerintah akan mengucurkan dana miliaran. Perlu persiapan untuk menghadapi pertarungan kepentingan dalam pembagian dana ini. Karena ada bahaya besar, bahwa akhirnya hanya dilakukan langkah dengan tujuan menyenangkan klien politiknya sendiri. Bagaimana program konjungtur yang baik untuk Jerman? Penerima hadiah nobel Joseph Stiglitz sudah pernah menuliskan resepnya: Negara harus melakukan investasi di bidang infrastruktur dan mendukung konsumsi lapisan masyarakat terbawah.
Harian Tagesspiegel yang juga terbit di Berlin menyoroti dampak krisis pada industri otomotif, yang disebutnya krisis struktural. Harian ini menulis:
General Motors, Ford dan Chrysler sedang mengalami krisis struktural yang juga akan dihadapi oleh sektor-sektor lain di banyak negara. Ini bisa dibandingkan dengan menyusutnya peran industri pertambangan batu bara dan industri baja di Jerman. Perubahan struktur seperti ini tidak bisa dihindari. Perusahaan-perusahaan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ini, dan mereka harus terus-menerus melakukannya. Negara tidak mungkin berperan sebagai penyelamat industri-industri yang memang rapuh.
Mengenai bantuan untuk perusahaan swasta, harian Stuttgarter Zeitung menilai:
Dalam sistem ekonomi pasar, bagaimana pun sosialnya sistem ini dibentuk, perusahaan memang harus bisa pailit. Jika mekanisme pailit tidak ada, jika misalnya pemilik perusahaan, manajer atau pelanggan selalu bisa berharap bahwa negara akan selalu membantu, maka mereka akan bertindak gegabah. Sebab mereka tidak perlu menanggung akibat tindakan gegabah itu. Dampak negatif dari situasi ini pada jangka panjang jauh lebih serius, ketimbang bangkrutnya satu perusahaan.
Harian Denmark Politiken menanggapi berbagai langkah Barack Obama di AS dan menilai, politik AS memang berubah:
Barack Obama mendapat pengakuan penting dari kalangan politik luar negeri kubu Republilk. Mantan menlu AS Henry Kissinger memuji keberanian dan kecerdasannya. Di bidang politik dalam negeri, AS sudah punya agenda baru. Di era Bush, tidak adanya akuntabilitas di bidang keuangan dan pengawasan keuangan telah menjerumuskan negara ini dan dunia ke dalam krisis besar. Jadi sekarang, negara mulai mengambil bagian dalam solusi, setelah ia cukup lama dianggap sebagai bagian dari masalah.
Harian Belanda de Volkskrant menyoroti soal bajak laut di perairan sekitar Somalia, sehubungan dengan dimulainya misi Uni Eropa di kawasan pantai negara itu:
De facto negara Somalia hanya tinggal namanya saja. Di negara yang kalut dilanda perang saudara itu, tidak ada lagi pemerintahan efektif sejak tahun 1991. Karena itu, masalahnya tidak bisa diselesaikan di laut, melainkan hanya di darat. Peluang pemerintah Somalia yang lemah untuk menegakkan ketertiban dan keamanan sangat kecil. Sedangkan kemungkinan masyarakat internasional berniat melakukan intervensi, juga tidak besar. Jadi Somalia akan tetap jadi masalah yang meresahkan. (hp)