Steinmeier Nahost
17 Juni 2008
Waktu untuk mencari solusi perdamaian bagi Timur Tengah berjalan cepat. Posisi pihak yang bertikai makin lemah. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menghadapi tuntutan mundur karena tudhan korupsi. Sementara Presiden Palestina Mahmud Abbas, tak bisa mengakhiri kekuasaan organisasi radikal Hamas. Meski begitu, Menlu Jerman Frank Walter Steinmeier masih melihat kesempatan bagi solusi dua negara.
Bagi Menlu Frank-Walter Steinmeier tidak alasan untuk melihat Timur Tengah dengan euforia, tapi juga tidak dengan pasrah. Dalam dialog Jerman-Israel yang diselenggarakan di Berlin hari Selasa (17/06), Steinmeier mengatakan, ia sadar ada banyak rintangan menuju perdamaian. Masalah utama, seperti perbatasan, masa depan Yerusalem dan pengungsi, masih belum terjawab. Tetapi:
"Saya akan katakan, yang mungkin mengejutkan Anda, walau ada bermacam kesulitan, namun situasi untuk tercapainya solusi perdamaian di Timur Tengah saat ini, lebih baik daripada 10 tahun terkahir, menurut saya.“
Konferensi di Annapolis membawa dinamika baru dalam perundingan Israel-Palestina. Presiden Mahmud Abbas bahkan mengatakan, sudah ada solusi yang bisa dirundingkan bagi 80% konflik. Namun, masih banyak juga rintangan menuju persetujuan Timur Tengah yang belum dibereskan. Pemerintah Palestina yang lemah di Ramallah dan Hamas di Jalur Gaza, di satu pihak, dan berlanjutnya politik pemukiman Israel dan pembatasan kebebasan bergerak warga Palestina di pihak lain, membahayakan solusi tunggal bagi konflik Timur Tengah, yaitu solusi dua negara.
"Karena itu pertanyaannya masih selalu: apakah betul-betul ada perspektif yang realistis bagi solusi dua negara ini? Dan tentu pertanyaan ini sangat penting diajukan, karena bukan hanya di konferensi dan di acara ini ia dipertanyakan, tapi terutama di wilayah Timur Tengah sendiri. Saya akan katakan, dan ini jawaban saya untuk pertanyaan itu, ya, masih ada kesempatan, tetapi waktunya semakin sempit,“ demikian Steinmeir.
Jerman mendukung kedua pihak dalam upaya untuk mencapai solusi perdamaian. Misalnya dengan konferensi Timur Tengah yang akan berlangsung di Berlin, awal pekan depan. Pertemuan tersebut akan membahas bantuan bagi angkatan bersenjata Palestina, karena, kata Steinmeier, lebih banyak keamanan bagi rakyat Palestina juga berarti lebih banyak keamanan bagi Israel.
"Pemerintah Jerman memperjuangkan perbatasan yang aman dan sah bagi negara Israel. Ini hal yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi jika saya mengatakannya, dan ini tetap merupakan politik luar negeri Jerman. Namun tetap penting untuk mengatakan hal itu, mengingat di kawasan itu masih ada penyangkalan terhadap Holokaust dan penolakan akan hak eksistensi Israel, misalnya oleh Iran,“ ungkap Steinmeir.
Jerman memiliki komitmen terhadap eksistensi dan keamanan Israel, kata Steinmeier. Jerman bertanggungjawab atas negara Israel karena Jerman masih menanggung akibat dari pembantaian warga Yahudi di Eropa.