Jerman, Inggris, dan Prancis Desak Akses Bantuan ke Gaza
6 Maret 2025
Tiga negara di Eropa ini mendesak Israel untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza dan memperingatkan agar bantuan tidak dijadikan sebagai alat politik.
Israel telah memutus akses bantuan kemanusiaan untuk penduduk GazaFoto: Mahmoud İssa/Anadolu/picture alliance
Iklan
Para Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, Prancis dan Jerman mendesak Israel untuk memastikan penyediaan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza "terpenuhi, cepat, aman, dan tanpa hambatan", ungkap mereka dalam pernyataan bersama, Rabu (05/03).
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza pada Minggu (02/03).
Kantor Netanyahu menyatakan, langkah itu diambil sebagai respons terhadap "penolakan Hamas" untuk menerima usulan perundingan kembali gencatan senjata yang disampaikan oleh utusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
"Sangat penting bahwa gencatan senjata dipertahankan, semua sandera dibebaskan, dan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza terus berlanjut," ungkap pernyataan Inggris, Prancis, dan Jerman tersebut.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Israel ingin perpanjangan gencatan senjata, Hamas desak tahap kedua
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel-Hamas, yang dilaksanakan secara bertahap, mulai berlaku sejak 19 Januari lalu. Kesepakatan itu mencakup peningkatan jumlah bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Namun, tahap pertama dari kesepakatan itu sudah berakhir pada Sabtu (01/03).
Iklan
Kedua belah pihak berselisih mengenai langkah selanjutnya dalam kesepakatan gencatan senjata. Israel ingin lebih banyak sandera dibebaskan dalam perpanjangan tahap pertama, sementara Hamas mendesak dimulainya tahap kedua yang akan membuka jalan bagi diakhirinya perang Israel-Hamas secara permanen.
Lebih dari 250 orang disandera oleh kelompok militan Hamas dalam serangan pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan, yang memicu konflik saat ini di Gaza.
Program Pangan Dunia PBB menyatakan, mereka hanya memiliki cukup pasokan makanan di Gaza untuk menjaga dapur umum dan pabrik roti tetap beroperasi kurang dari dua pekan.
Organisasi Internasional untuk Migrasi memiliki sekitar 22.500 tenda saat ini di gudangnya di Yordania. Truk-truk mereka terpaksa membawa kembali muatan yang tidak dapat dikirim, setelah akses masuk ke Gaza ditutup oleh Israel.
Komisi Penyelamatan Internasional juga memiliki 6,7 ton obat-obatan dan perlengkapan medis yang masih menunggu izin untuk masuk ke Gaza.
Kembali Berkuasa, Trump Bikin Kebijakan Baru yang Kontroversial
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Trump ancam Hamas jika para sandera tidak segera dibebaskan
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (05/03) malam mengatakan, ia akan meningkatkan dukungan militer untuk Israel, jika Hamas tidak segera membebaskan para sandera yang masih ditahan.
"Anda (Hamas) bisa memilih. Bebaskan semua sandera sekarang juga, bukan nanti, dan segera kembalikan semua jenazah orang yang kalian bunuh, atau semua ini akan BERAKHIR," tulis Trump dalam unggahan di jejaring sosialnya, Truth Social, yang ditujukan kepada militan Hamas.
"Saya akan mengirimkan semua yang Israel butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini, tidak satu pun anggota Hamas akan selamat jika kalian tidak mengikuti apa yang saya katakan," tegas Trump memperingatkan.
Trump juga tampaknya mengancam warga Gaza.
"Kepada Rakyat Gaza: Masa depan yang indah menanti kalian, tapi tidak jika kalian menahan para sandera. Jika kalian melakukannya, kalian MATI!" Kata Trump.
Ia bertekad akan ada "harga yang harus dibayar", jika Hamas tidak membebaskan segera para sandera.
Eskalasi Kekerasan Israel-Palestina Korbankan Rakyat di Kedua Pihak
Aksi kekerasan terus memuncak antara Israel dan kelompok Hamas. Kehancuran melanda Jalur Gaza, roket menghantam Tel Aviv. Korban terbanyak adalah warga sipil, di kedua belah pihak.
Foto: Mahmud Hams/AFP/Getty Images
Gaza hadapi horor
Asap membumbung dan api membakar perumahan di Khan Yunis di Jalur Gaza yang jadi target serangan Israel Rabu (12/5). Aksi kekerasan dan saling serang kembali memuncak sejak beberapa hari terakhir.
Foto: Youssef Massoud/AFP/Getty Images
Warga mengungsi dalam kepanikan
Warga dievakuasi dari gedung di Jalur Gaza yang jadi target serangan Israel. Sedikitnya 56 warga Palestina di Jalur Gaza tewas akibat serangan Israel. Roket yang ditembakkan militan dari Jalur Gaza menewaskan 6 orang di Israel.
Foto: Mahmud Hams/AFP/Getty Images
Kehancuran di Gaza City
Israel menurut pernyatan sendiri menyebutkan, miiternya menyerang secara terarah bangunan di Gaza City yang dijadikan kantor kelompok militan atau dihuni pimpinannya.
Foto: Suhaib Salem/REUTERS
Roket di langit Tel Aviv
Kelompok militan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza menembakkan sejumlah roket ke Tel Aviv. Sistem pertahanan rudal Israel melindungi kota dan menghancurkan sebagian besar proyektil di udara atau mengalihkan jalurnya, untuk meminimalkan kerusakan.
Foto: AnAs Baba/AFP/Getty Images
Berlindung dengan cemas
Tapi sistem pertahanan udara "Iron Dome" tidak mempu melindungi 100%. Jika sirene mengaung, itu tanda bagi warga Israel untuk secepatnya mengamankan diri di "shelter perlindungan", tidak peduli apakah itu tengah malam atau dinihari.
Foto: Gideon Marcowicz/AFP/Getty Images
Bahaya tetap mengancam
Juga jika roket bisa dihancurkan atau dihalau, runtuhan puing bangunan tetap berbahaya. Seperti sebuah rumah di Yehud dekat bandara Ben Gurion yang hancur dihantam roket. Militer Israel melaporkan, sejak Senin (10/5) sedikitnya 1.000 roket ditembakkan dari Jalur Gaza ke wilayah Israel.
Foto: Gil Cohen-Magen/AFP/Getty Images
Cari perlindungan
Jika saat alarm berbunyi, warga tidak sempat mencari bunker perlindungan, mereka berusaha melindungi diri sebaik mungkin. Seperti warga di kota Ashkelon sekitar 10 km di utaraperbatasan ke Jalur Gaza ini.
Foto: Jack Guez/AFP/Getty Images
Batu dilawan gas air mata
Dalam beberapa hari terakhir, aksi bentrokan berat antara demonstran Palestina melawan militer Israel terjadi di berbagai kota. Di Hebron, kota di tepi barat Yordan yang diduduki Israel, demonstran melemparkan batu yang dibalas tembakan gas air mata oleh tentara Israel.
Foto: Hazem Bader/AFP/Getty Images
Ambil posisi dan bidik
Aparat keamanan Israel menembakkan gas air mata, peluru karet dan granat kejut untuk membubarkan demonstran. Pemicu demonstrasi warga Palestina antara lain ancaman pengusiran paksa di kawasan timur Yerusalem. Aksi ini akhirnya bermuara pada konflik terbuka.
Foto: Hazem Bader/AFP/Getty Images
Sampai kapan konflik berlangsung?
Saat ini tidak terlihat ada pertanda deeskalasi kekerasan. Warga Palestina di Gaza City ini mencari perindungan di halaman kantor perwakilan PBB, karena ketakutan akan jadi sasaran serangan Israel berikutnya.
Foto: Mahmud Hams/AFP/Getty Images
10 foto1 | 10
Afrika Selatan tuduh Israel gunakan "kelaparan sebagai senjata perang"
Dalam pernyataan terpisah, Afrika Selatan menuduh Israel menggunakan "kelaparan sebagai alat senjata perang."
"Warga Gaza mengalami penderitaan yang tak terbayangkan dan sangat membutuhkan makanan, tempat tinggal, serta pasokan medis," kata Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan.
"Afrika Selatan menyerukan kepada komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel," tambahnya.
Pretoria mengajukan kasus ini ke Mahkamah Internasional pada Desember 2023, menuduh Israel melakukan genosida di Gaza. Israel dengan tegas menolak tuduhan tersebut.
Sejumlah negara lain, termasuk Irlandia, Spanyol, Bolivia, Kolombia, Meksiko, Turki, Cile, dan Libya, telah menyatakan dukungan terhadap proses hukum tersebut.
Otoritas Palestina menyatakan, sedikitnya 48.000 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel sejak serangan balasan 7 Oktober 2023. PBB melaporkan, sekitar 90% dari 2 juta penduduk Gaza telah terpaksa mengungsi, bahkan beberapa kali berpindah tempat.