Serangan besar-besaran kebijakan Trump terhadap ilmu pengetahuan, membuat para peneliti AS mulai memikirkan opsi lain. Lembaga penelitian Jerman jadi salah satu magnet baru!
Ratusan ribu orang berkumpul dalam protes mendukung ilmu pengetahuan di seluruh dunia, imbas dari kebijakan pemerintahan Trump Foto: Allison Bailey/NurPhoto/dpa/picture alliance
Iklan
Pemutusan hubungan kerja secara massal, pembekuan atau pemotongan dana penelitian, serta polemik arah politik kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap ilmu pengetahuan, kini tidak hanya berdampak pada bidang yang tidak ia sukai, seperti studi iklim, energi, sosial, atau gender. Bidang lain seperti kecerdasan buatan (AI) dan teknologi vaksin mRNA juga terkena dampaknya.
Para kritikus melihat serangan besar-besaran Trump terhadap kebebasan penelitian ini sebagai langkah bermotif politik yang menyerang sistem pluralistik dan tatanan demokrasi liberal. Mereka juga berpendapat, Trump menargetkan metode ilmiah yang membantah klaim dan mitos dengan fakta serta analisis.
Ketidakpastian akibat kebijakan Trump ini begitu besar sehingga banyak peneliti ingin meninggalkan AS untuk bekerja di Kanada dan Asia, bahkan Eropa.
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Langkah Trump merugikan ilmu pengetahuan global
Eropa, terutama Jerman, bisa mendapatkan manfaat besar dari fenomena "brain drain" yang terjadi di AS saat ini.
Iklan
Namun, tidak ada alasan untuk bersorak. Serangan Trump terhadap ilmu pengetahuan ini ternyata berdampak ke seluruh dunia, karena banyak riset bergantung pada pertukaran internasional.
Sebagai contoh, jika pengembangan obat terhambat di AS, kemajuan medis global juga akan melambat. Bahkan, jika data tentang penyakit menular, seperti kasus flu burung yang saat ini sedang merebak di AS tidak tersedia, dunia juga tidak akan siap menghadapi potensi pandemi baru.
"Kami harus tetap menjaga solidaritas dengan mitra kami di AS karena pada akhirnya, kami membutuhkan ilmu pengetahuan yang berkembang kuat di sana. Kekosongan yang kini muncul dalam penelitian iklim, kesehatan global, atau transisi energi ini tidak bisa begitu saja ditambal di kemudian hari," kata Otmar Wiestler, Presiden Helmholtz Association, kepada DW. "Semakin besar gangguan pada perkembangan ilmu pengetahuan ini, semakin besar pula konsekuensi globalnya, termasuk bagi AS sendiri."
Helmholtz Association, dengan lebih dari 46.000 karyawan dan anggaran tahunan sekitar 6,3 miliar euro (sekitar Rp113 triliun), merupakan organisasi penelitian terbesar di Jerman.
Dirjen DW Limbourg Desak Trump Pertimbangakan Pemotongan Dana USAGM
01:04
This browser does not support the video element.
Peneliti AS tertarik berkarier di Jerman
Kebijakan Trump ini telah membuka peluang bagi Eropa untuk menarik para peneliti terbaik untuk masuk. Lembaga penelitian Eropa juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Namun, Eropa dilema, karena tidak ingin merusak kerja sama yang selama ini terjalin baik dengan mitranya, AS.
Saat ini, belum ada data pasti mengenai jumlah peneliti AS yang tertarik pindah ke Eropa. Namun, lembaga penelitian terkemuka di Jerman telah menerima lebih banyak lamaran dari AS, termasuk para peneliti terkemuka yang sangat ingin mereka rekrut.
Pada awal Februari 2025, Presiden Max Planck Society, Patrick Kramer, melaporkan bahwa jumlah lamaran peneliti dari AS setidaknya meningkat dua kali lipat, bahkan dalam beberapa kasus meningkat tiga kali lipat.
Selain itu, mahasiswa pascadoktoral, seperti dari India, Korea Selatan, dan Cina, juga melihat Jerman sebagai alternatif menarik dibandingkan AS, menurut Christina Beck dari Max Planck Society.
"Jerman sebagai lokasi penelitian secara fundamental merupakan alternatif menarik bagi AS, terlepas dari perkembangan saat ini," kata Wiestler. "Kami dapat berasumsi, semakin banyak peneliti internasional kini mempertimbangkan untuk berkarier di sini. Ini tidak hanya berlaku bagi ilmuwan yang saat ini bekerja di AS, tetapi juga bagi peneliti berbakat di seluruh dunia yang mencari alternatif lain. Tren serupa pernah juga terlihat setelah Brexit."
Tim peneliti mengamati perilaku kupu-kupu di Amazon Ekuador dan menarik kesimpulan tentang dampak perubahan iklim terhadap populasi serangga. Sayangnya, hasilnya tidak begitu menggembirakan.
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
Kupu-Kupu sebagai Bioindikator
Suaka Margasatwa Cuyabeno di hutan Amazon Ekuador terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Sejak Agustus tahun lalu, tim ahli biologi dan penjaga hutan memantau populasi kupu-kupu di taman tersebut. Riset itu perlu dilakukan karena kupu-kupu merupakan bioindikator, yakni organisme hidup yang kondisinya memberikan ukuran kesehatan ekosistem di sekitarnya.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Jebakan Bau
Seekor kupu-kupu tertarik dengan umpan yang terdiri dari ikan busuk dan pisang yang difermentasi — campuran yang berbau busuk ini menjadi makanan lezat bagi serangga. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menangkap serangga tersebut dengan jaring.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Pengujian Sangat Hati-hati
Dipimpin ketua ekspedisi Elisa Levy (ka.), tim memeriksa kupu-kupu yang ditangkap. Para peneliti dengan hati-hati memegang perut kecil serangga tersebut dengan pinset dan memberi label pada sayapnya. Setelah terdokumentasi, sebagian besar kupu-kupu diepaskan terbang kembali.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Kaya Keragaman Hayati di Negara Kecil ini
Para periset meneliti beragam spesies kupu-kupu. Ada yang berwarna merah cerah dan biru, sedangkan pola pada spesimen ini menyerupai garis zebra. Kupu-kupu lainnya setransparan kaca. Ekuador, negara yang relatif kecil namun sangat kaya spesies, adalah habitat bagi sekitar 4.000 spesies kupu-kupu.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Keseimbangan yang Rentan
Kepala tim peneliti Elisa Levy kepada kantor berita AFP mengatakan, tanaman tropis – tidak seperti tanaman di wilayah dengan musim yang berbeda – tidak terbiasa dengan fluktuasi cuaca ekstrem. Jika flora gagal beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat, tanaman ini bisa mati, bersama larva kupu-kupu yang memakan tanamannya.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Keanekaragaman yang Terancam
Dan itulah yang sebenarnya sedang terjadi, seperti yang ditunjukkan oleh riset para peneliti: Meskipun jumlah spesies di Cuyabeno hanya berkurang sebesar 10%, jumlah absolut kupu-kupu telah menurun sebesar 40% hingga 50%.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Alarm Bahaya Penurunan Populasi
Ahli biologi Maria Fernanda Checa dari Universitas Katolik di Quito menggambarkan penurunan populasi kupu-kupu sebagai hal yang “sangat signifikan.” Menurut ahli biologi ini, kupu-kupu bereaksi sangat sensitif terhadap perubahan kecil sekalipun dalam ekosistem seumur hidupnya yang pendek mulai dari telur, ulat, hingga dewasa. “Penurunan ini mengkhawatirkan kami,” kata Checa.
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
Jenis yang Langka
Di beberapa bagian wilayah Amazon, “laju penemuan spesies baru lebih lambat dibandingkan laju kepunahan,” kata Checa. PBB memperingatkan: 40% penyerbuk invertebrata –terutama lebah dan kupu-kupu– di dunia terancam punah. Akibatnya bisa berrisiko bagi manusia, karena tiga perempat tanaman buah-buahan dan benih bergantung pada hewan penyerbuk ini. (ap/as- Sumber: AFP)
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
8 foto1 | 8
Haruskah Jerman merekrut peneliti AS?
Dari sudut pandang Max Planck Society, tidak ada yang salah jika Jerman secara aktif ingin menarik para ilmuwan terkemuka dari AS itu. Peluang ini tidak boleh dilewatkan, menurut Dr. Christina Beck.
Namun, Presiden Helmholtz Association, Wiestler, tidak sependapat: "Saya menganggap seruan untuk secara aktif merekrut peneliti top dari AS sebagai tindakan yang kurang tepat. Bagi kami, AS adalah mitra ilmiah yang sangat berharga, dan kami berharap ini tetap berlanjut di masa depan."
Fraunhofer Society for the Advancement of Applied Research memiliki pandangan serupa. "Fraunhofer selalu berupaya menarik para pemikir terbaik," kata juru bicara Patrick Dieckhoff kepada DW. Namun, "saat ini tidak ada program khusus untuk merekrut peneliti AS sebagai respons terhadap perkembangan terbaru ini."
Leibniz Association, yang menaungi 96 institusi penelitian independen, juga tidak berencana secara aktif menarik peneliti dari AS.
"Yang paling penting saat ini adalah memperkuat kerja sama dan mendukung rekan-rekan kami di AS. Jika secara aktif merekrut mereka, justru berisiko semakin melemahkan sains di AS," kata Presiden Leibniz, Martina Brockmeier, kepada DW.
Namun, jika ada peneliti yang ingin pindah, "kami akan dengan senang hati mendukung mereka," tambahnya.
Riset Paus Tunjukkan Parahnya Dampak Perubahan Iklim
03:47
This browser does not support the video element.
Bagaimana kapasitas lembaga riset Jerman?
Penelitian menghasilkan inovasi, mendorong pertumbuhan, dan membantu mengatasi tantangan besar saat ini, dan bahkan di masa depan. Jerman telah banyak berinvestasi dalam sains dan penelitian selama beberapa dekade terakhir. Berlin bahkan berencana mengalokasikan lebih dari 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk penelitian dan pengembangan di masa mendatang.
Pemerintah Jerman memberikan dukungan finansial yang stabil bagi ilmu pengetahuan melalui pendanaan federal dan negara bagian. Selain itu, otonomi ilmu pengetahuan dijamin dalam konstitusi, memastikan bahwa penelitian di Jerman bebas dan independen.
Kekuatan riset unggulan Jerman juga terlihat dalam publikasi ilmiah, Seperti dalam "Nature Index" 2023, yang mengevaluasi kinerja publikasi ilmu alam dari institusi penelitian dan universitas, Jerman meraih menduduki peringkat terbaik di Eropa dan menempati peringkat ketiga dunia setelah AS dan Cina.
Peneliti Indonesia Berbagi IImu di Lindau Nobel Laureate Meetings
01:00
This browser does not support the video element.
Hambatan birokrasi
Meskipun penelitian di Jerman bersaing secara internasional, Brockmeier mengatakan ada hambatan birokrasi dalam menarik para ilmuwan itu untuk masuk ke Jerman, dan itu membutuhkan reformasi mendesak.
"Ini mencakup pengurangan birokrasi yang berlebihan, peningkatan inisiatif mandiri, jaminan pendanaan jangka panjang yang stabil, peningkatan daya tarik karier akademik, serta kemudahan dalam transfer teknologi dan kerja sama dengan industri," katanya.
Presiden Helmholtz Wiestler juga menyerukan agar "budaya ramah-tamah Jermn lebih kuat dan ada pengurangan birokrasi dalam ilmu pengetahuan," serta ia menegaskan bahwa pemerintah federal baru harus segera bertindak.
"Hanya dengan cara ini kita bisa menciptakan lingkungan yang dapat menarik talenta terbaik dari seluruh dunia secara berkelanjutan," katanya.
Untuk menarik peneliti AS, solusi cepat dan tanpa hambatan diperlukan, seperti percepatan proses visa dan perekrutan, kata juru bicara Max Planck, Beck.
"Pemerintah federal yang baru sebaiknya tidak menghapus aturan kewarganegaraan ganda yang ada saat ini. Aturan ini sudah menarik bagi para peneliti internasional setelah Brexit," tambahnya.