1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Kekurangan Guru

Sandra Pfister9 Maret 2009

Citra profesi guru sekarang boleh dikatakan sedang terpuruk, profesi sebagai guru tidak dihormati dan dianggap tidak menarik. Hal inilah, salah satu penyebab rendahnya minat untuk menjadi guru.

Jugendliche im Unterricht
Foto: picture-alliance/ dpa

Berdasarkan catatan yang ada, usia rata-rata guru sekolah di Jerman tidak dapat dikatakan muda. Dalam beberapa tahun mendatang sekitar sepertiga guru yang ada akan memasuki usia pensiun. Untuk sekitar 100 guru yang pergi, hanya terdapat 60 sampai maksimal 70 guru baru. Sayangnya kementrian-kementrian pendidikan di tingkat negara bagian tidak dapat memastikan berapa banyak kekurangan yang sebenarnya.

Mengingat itu semua, Menteri Pendidikan Jerman Annette Schavan mengeluarkan imbauan, agar tenaga ahli fisika, insinyur dan ahli matematika yang bekerja di berbagai perusahaan bila diperlukan, dapat dibebas-tugaskan selama beberapa waktu untuk mengajar di sekolah. Tetapi usul ini mendapat sanggahan besar. Pada saat bersamaan terdapat studi yang menghasilkan kesimpulan, bahwa sejumlah besar lulusan sekolah lanjutan ingin menjadi guru, tetapi sebenarnya angka-angka mereka di bawah nilai rata-rata.

Seorang peneliti masalah pendidikan dari kota Essen, Klaus Klemm, sejak lama menggeluti tema kekurangan tenaga guru di Jerman. Menurut perkiraannya, setiap tahun Jerman membutuhkan 22.000 guru baru. Hanya saja di pasaran kerja untuk guru, tidak terdapat perencanaan yang sistematis melainkan kekacauan.

Pertanyaan utamanya adalah, mengapa dalam tahun-tahun belakangan ini hanya sedikit orang yang mau menjadi guru? Citra profesi ini sekarang boleh dikatakan sedang terpuruk. Masyarakat menyalahkan guru-guru, bahwa tingkat pendidikan di Jerman dapat dikatakan sangat tidak memuaskan. Hal itu terlihat dari studi perbandingan internasional yang disebut PISA, singkatan dari “Programme for International Student Assesment”. Berdasarkan studi tersebut, para murid sekolah di Jerman disimpulkan tergolong malas, karena sore hari mereka bebas dan liburan musim panas mereka mencakup enam minggu.

Kata Klaus Klemm: "Motivasi untuk menjadi guru sangat beragam. Ada yang menganggap profesi guru yang sering dinilai sebagai kerja setengah hari itu akan mudah dipadukan dengan rencana berkeluarga. Atau memang karena seseorang senang berhadapan dengan anak-anak. Tetapi ada pula para calon guru yang sebenarnya tidak suka dengan anak-anak. Mungkin mereka tidak diterima magang di bank atau di toko serba ada, sehingga kemudian berpikir, apa boleh buat, saya akan studi untuk jadi guru."

Tambahan lagi banyak guru yang kewalahan dan rentan terhadap 'burn out', yaitu perasaan terkuras tenaga dibarengi kemerosotan prestasi, sehingga mudah terkena depresi, bersikap agresif atau juga kecanduan alkohol. Dapat disimpulkan hampir tidak ada atau sangat minim guru yang bertahan sampai usia pensiunnya. Penilaian yang negatif ini tidak dapat dikatakan keliru. Sebab berdasarkan sebuah studi aktual, di Jerman, tiap lulusan sekolah lanjutan gymnasium bisa menjadi guru. Dan biasanya bukan lulusan terbaiklah yang memilih profesi sebagai guru. Demikian kesimpulan Ludger Wößmann, penggagas studi tersebut.

Hanya mereka yang mau menjadi guru sekolah lanjutan, gymnasium, memiliki angka-angka yang sepadan dengan lulusan sekolah tinggi lainnya. Guru-guru selebihnya berada di bawah tingkatan ini.

Kenapa profesi guru kurang diminati? Ludger Wößmann menjelaskan: "Tentunya itu ada kaitannya dengan anggapan bahwa profesi sebagai guru tidak menarik bagi mereka yang benar-benar ingin berprestasi dan ingin dihargai prestasinya. Masalahnya, seorang guru hanya sedikit peluangnya untuk berkarir. Di beberapa negara bagian kondisi ini sudah berubah. Ini masih harus ditingkatkan lagi."

Sedangkan di Inggris atau Kanada, citra profesi guru jauh lebih baik dari di Jerman. Bahkan di kedua negara itu ada insinyur, bankir dan orang-orang yang punya posisi tinggi, sering berganti profesi menjadi guru. Di Finlandia, negara yang menduduki peringkat atas dalam studi perbandingan internasional PISA, hanya siswa terbaik dalam satu angkatan lah yang boleh menjadi guru. Pembatasan yang ada sangat ketat, padahal gaji guru di sana boleh dikatakan setara dengan di Jerman. Walau pun begitu peminat untuk jadi guru jauh lebih banyak dari lowongan yang ada. Tetapi di Jerman kementrian pendidikan di semua negara bagian tidak punya pilihan. Mereka harus menerima tiap orang yang mau jadi guru, karena kekurangannya sedemikian besar. Demikian keluh serikat guru pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana penyelesaiannya? Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan OECD memperingatkan Jerman agar di masa depan penempatan tenaga guru direncanakan dengan lebih baik. Tetapi di Jerman masalahnya, itu adalah urusan negara bagian. Padahal, Menteri Pendidikan Jerman Annette Schavan, yang sebenarnya hampir tidak dapat berbuat apa-apa dalam soal persekolahan, sudah sering mencampuri diskusi mengenainya. Slogan yang hendak digunakan berbunyi „insinyur turun ke sekolah“. Dianjurkannya agar perusahaan meminjamkan karyawan terbaiknya untuk kurun waktu tertentu kepada sekolah. Secara sekilas itu dapat dilaksanakan sebagai variasi, tetapi sama sekali tidak menyelesaikan soal kekurangan guru. Sekarang ini hanya tiga persen tenaga guru di Jerman yang merupakan plesetan dari dunia ekonomi. Gagasan itu juga dirasakan sebagai tamparan oleh serikat guru.

Klaus Klemm, peneliti masalah pendidikan, dapat memahaminya. "Setelah ada hasil studi perbandingan internasional PISA, disimpulkan, masalahnya terletak pada pendidikan guru. Kalau soal ini hendak diselesaikan dengan cara mengambil orang yang tidak berpendidikan sebagai guru, saya pikir kita menghadapi masalahh kualitas." (dgl)