1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Jerman Luncurkan Aliansi Guna Atasi Kekurangan Tenaga Kerja

23 Maret 2026

Jerman membutuhkan talenta baru untuk pasar kerja, sekaligus cara agar pekerja asing tidak hanya datang, tetapi juga bertahan. Berbagai inisiatif kini bermunculan untuk mendukung kebutuhan ini.

Sopir bus asal Kenya, Millicent Awiti, sedang duduk di belakang kemudi sebuah bus angkutan umum di garasi bus di Flensburg
Millicent Awiti, yang berasal dari Kenya, kini bekerja sebagai sopir bus umum di Flensburg, Jerman UtaraFoto: Axel Heimken/dpa/picture alliance

Guido Seifen adalah direktur pelaksana perusahaan skala menengah Jerman, Omexom Hochspannung, yang mempekerjakan sekitar 500 orang dan membangun jaringan listrik tegangan tinggi. Ia mengatakan semakin sulit mencari tenaga kerja terampil di Jerman untuk lokasi proyek yang tersebar luas. Pekerjaan tersebut kerap menuntut pekerja tinggal jauh dari keluarga dengan tempat tinggal yang berpindah-pindah selama hari kerja.

Seifen kini berharap dapat merekrut tenaga terampil baru dari Vietnam melalui proyek kerja sama pembangunan Jerman-Vietnam. Vietnam saat ini tengah beralih ke energi terbarukan dan mendapat dukungan dari lembaga kerja sama pembangunan milik pemerintah Jerman, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Jerman membutuhkan teknisi jaringan listrik udara, sementara perusahaan listrik Vietnam, EVN, telah mendirikan pusat pelatihan khusus untuk mempersiapkan tenaga kerja di bidang tersebut.

Omexom ingin menyumbangkan pengalaman dan keahliannya dalam proyek ini. Perusahaan tersebut berencana membawa instruktur Vietnam dari EVN ke Jerman untuk menjalani pelatihan, sehingga mereka dapat memberikan pengajaran sesuai standar lokal, termasuk sertifikasi dari Kamar Dagang dan Industri Jerman. Di pusat pelatihan di Vietnam, GIZ juga menyiapkan kursus bahasa Jerman.

Pada akhirnya, diharapkan cukup banyak teknisi yang dapat dilatih sehingga sekitar setengah dari mereka bisa mendapat tawaran pekerjaan di Jerman -- hingga 200 orang, kata Seifen, menyebutnya sebagai "situasi yang saling menguntungkan.”

Aliansi baru untuk merekrut tenaga terampil

Menarik tenaga kerja asing ke Jerman sekaligus memperkuat struktur pelatihan dan transfer pengetahuan di negara asal mereka adalah jenis proyek yang ingin didukung pemerintah federal.

Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) telah bekerja sama dengan banyak mitra untuk melatih tenaga terampil, dan kini industri Jerman juga diharapkan ikut bergabung. Aliansi baru tersebut diberi nama "WE-Fair alliance for the fair recruitment of skilled workersWE-Fair: Wirtschaft und Entwicklungspolitik für faire Fachkräftegewinnung” atau Aliansi WE-Fair untuk Perekrutan Tenaga Terampil secara Adil.

"Jerman membutuhkan tenaga kerja terampil yang berkualifikasi,” kata Menteri Pembangunan Reem Alabali Radovan saat peluncuran di Berlin. Jerman tengah mengalami penuaan populasi yang cepat. "Proyeksinya jelas: lebih dari 20% pekerja di Jerman berusia setidaknya 55 tahun dan akan pensiun dalam 10 tahun ke depan.”

Para peneliti demografi memperkirakan Jerman membutuhkan 400.000 tenaga kerja asing setiap tahun dalam satu dekade ke depan untuk mengisi kekosongan. Untuk mencapai angka tersebut, sekitar 1,6 juta orang perlu bermigrasi ke Jerman setiap tahunnya.

Skill yang Wajib Kamu Punya Kalau Mau Studi dan Kerja ke Jerman

01:39

This browser does not support the video element.

Kerja sama dengan negara asal diperkuat

"Perekrutan dari negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin menjadi semakin penting bagi ekonomi Jerman,” kata Alabali Radovan. Populasi di kawasan tersebut relatif muda, sering kali berpendidikan baik, dan terus bertambah.

"Banyak anak muda di negara-negara tersebut juga mencari peluang di luar negeri. Pemerintah mereka berharap kami, sebagai pemerintah federal Jerman, menciptakan dan memperkuat jalur migrasi tenaga terampil.”

Proses penempatan akan dilakukan berdasarkan aturan yang transparan dan diawasi. Hal ini mencakup penyediaan informasi tentang kondisi kerja, upah, serta kualifikasi yang dibutuhkan. Program pelatihan juga harus mempersiapkan peserta baik untuk bekerja di negara asal maupun di Jerman. Biaya dan risiko akan dibagi bersama, dan calon tenaga kerja diharapkan mampu menanggung biaya pelatihan lanjutan atau relokasi.

Ekspektasi perusahaan tak selalu realistis

"Kami sering melihat perusahaan berasumsi akan mendapatkan pekerja yang sudah sepenuhnya terlatih dan bisa langsung dipekerjakan,” kata Edith Otiende-Lawani, direktur sebuah firma konsultan kelahiran Kenya, yang melalui organisasinya, Giving Africa a New Face, mendukung integrasi migran di wilayah München.

"Ada anggapan seperti dongeng bahwa orang-orang akan datang sudah bisa berbahasa Jerman, cepat beradaptasi, tangguh, dan antusias terhadap Jerman serta segala hal yang menyertainya,” kata Otiende-Lawani. Namun, menurutnya, kenyataan tidak seperti itu.

"Ini bukan sekadar soal menyusun kalimat yang benar secara tata bahasa, tetapi tentang bagaimana komunikasi dan kepemimpinan di perusahaan Jerman bekerja secara berbeda,” tambah Gerhard Hain, yang memberi nasihat kepada perusahaan Jerman terkait isu lintas budaya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hambatan yang sulit diatasi. "Anda harus siap menghadapi orang-orang yang melakukan banyak hal secara berbeda dibandingkan orang Jerman dalam sekitar 80% kasus.”

Selain itu, calon pekerja juga harus memiliki kesabaran tinggi untuk bisa datang ke Jerman. Karena birokrasi yang kompleks, prosesnya sering kali memakan waktu bertahun-tahun sebelum tenaga kerja asing benar-benar bisa mulai bekerja. Markus Lötzsch, kepala Kamar Dagang dan Industri Nürnberg, memiliki banyak pengalaman terkait hal ini. Terlalu banyak lembaga yang terlibat, sementara kantor imigrasi, terutama di kota besar, kewalahan menghadapinya

Kekecewaan bahkan terjadi pada apa yang disebut sebagai "prosedur percepatan,” jelas Lötzsch. "Melalui Welcome Desk kami, misalnya, kami bekerja sama dengan otoritas imigrasi dalam proses percepatan tenaga kerja terampil. Istilah ‘proses percepatan' terdengar menjanjikan, seolah semuanya akan berjalan cepat, bahkan ada biaya tambahan. Namun kenyataannya, sering kali tidak demikian.”

Untuk mengatasi hal ini, Kamar Dagang menginvestasikan dana dan tenaga kerja untuk mengambil alih tugas seperti pemeriksaan awal dokumen. "Otoritas imigrasi tahu bahwa dokumen tersebut berasal dari mitra tepercaya, sehingga prosesnya bisa berjalan lebih lancar,” kata Lötzsch kepada DW.

Punya Jutaan Pengangguran, tapi Jerman Kekurangan Pekerja

01:35

This browser does not support the video element.

Pekerja datang, lalu pergi lagi

"Kita seharusnya tidak hanya membicarakan orang yang datang — tetapi juga mereka yang bertahan,” tambah Lötzsch. Pada tahun 2024, untuk pertama kalinya, lebih banyak orang meninggalkan Jerman dibandingkan yang datang. Tidak sedikit tenaga kerja asing yang kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain karena harapan mereka di Jerman tidak terpenuhi.

Bagi pengusaha Jasmin Arbabian-Vogel, hal ini banyak berkaitan dengan sikap masyarakat Jerman terhadap imigran. Jerman masih menarik bagi tenaga kerja asing. "Namun jika kita ingin tetap menarik, maka hal itu sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan para imigran yang sudah berada di negara ini,” katanya.

Arbabian-Vogel mengelola perusahaan layanan perawatan dan sosial di Hanover dengan 250 karyawan, banyak di antaranya adalah warga asing. "Mereka adalah pengungsi dan orang-orang yang bermigrasi ke sini. Perusahaan seperti milik saya, dan banyak lainnya, sudah melatih mereka — tapi kemudian mereka justru menerima surat deportasi. Artinya, setelah bekerja di sini, mereka tetap harus pergi,” ujarnya.

Jerman dinilai perlu mengadopsi "pola pikir” politik dan sosial terhadap imigran. Tanpa itu, aliansi tenaga kerja terampil ini dinilai sulit berhasil.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Melisa Lolindu

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait