Jerman Kewalahan Hadapi E.Coli
9 Juni 2011
Harian liberal kanan Bulgaria Dnewnik menanggapi penanganan infeksi E.Coli di Jerman dan menulis dalam tajuknya:
Kali ini, infeksi itu menyebar di tengah jantung industri Eropa. Yaitu di kawasan Hamburg, di negara yang terkenal dengan tata tertib dan aturan-aturannya. Sejak berminggu-minggu, institusi-institusi terkait di Jerman tidak mampu menanggulangi penyebaran infeksi ini. Wabah itu telah menyebabkan lebih dari 20 orang tewas dan lebih dari 2000 orang jatuh sakit. Eropa memandang dengan heran, bagaimana simpang-siurnya para ahli penyakit di Jerman.
Harian Perancis Les Derniéres Nouvelles d'Alsace mengomentari reaksi panik sehubungan dengan penyebaran bakteri E.Coli:
Penyebaran misterius ini punya kekuatan besar, sehingga suatu masyarakat yang punya begitu banyak informasi seakan-akan kehilangan akal. Kehidupan sehari-hari terganggu karena tidak ada keterangan yang jelas. Sekarang, semangka juga mulai ditolak, hanya karena buahnya berasal dari Spanyol. Sebagian besar sektor pertanian di Eropa terkena dampak kepanikan ini. Sektor politik sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana menghadapi satu lawan, yang belum bisa diidentifikasi dengan jelas? Banyak hasil pertanian harus dimusnahkan. Biaya kepanikan ini jadi makin tinggi karena manajemen krisis yang buruk.
Harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung berpendapat lain dan menilai, dinas kesehatan di Jerman sudah bertindak benar:
Peringatan agar tidak memakan beberapa jenis sayuran kemungkinan besar berhasil membatasi penyebaran bakteri yang sangat berbahaya ini. Bahkan mungkin memutuskan jalur penyebarannya. Ini adalah keberhasilan maksimal yang bisa dicapai oleh dinas kesehatan dan dinas pengawasan bahan makanan. Karena masa inkubasi penyakit ini berlangsung sampai sepuluh hari. Dalam jangka waktu itu, memang sangat sulit menemukan kesamaan antara pasien yang berjumlah 2000 orang.
Tema lain yang jadi sorotan adalah serangan NATO ke Libya. Harian Jerman Dresdner Neueste Nachrichten mengeritik serangan itu dan menulis:
Peningkatan serangan NATO untuk menggulingkan Gaddafi tidak hanya melanggar resolusi PBB nomor 1973. Langkah ini juga menunjukkan standar moral ganda. Di Yaman dan Suriah warga sipil tewas setiap hari, dan NATO hanya melihat saja. Alasannya: serangan ke Suriah menyimpan resiko besar. Jadi kesimpulan yang harus ditarik adalah: untuk menyelesaikan masalah politik yang rumit tidak dibutuhkan campur tangan organisasi militer.
Harian tageszeitung yang terbit di Berlin menanggapi sikap Jerman terhadap pengungsi dari Libya:
Jerman memainkan peran yang tidak terpuji. Pemerintah Jerman tidak mau terlibat dalam operasi militer di Libya dengan alasan, yang diperlukan adalah solusi politik. Tapi Jerman tidak melakukan apa-apa untuk mencapai solusi itu. Sekarang, Jerman menolak menerima pengungsi asal Libya dengan alasan, yang penting adalah bantuan kemanusiaan langsung di Libya. Padahal, menyelamatkan pengungsi adalah kasus klasik untuk intervensi kemanusiaan.
Hendra Pasuhuk/dpa/afp
Editor: Legowo-Zipperer