Jerman Kritik Paket Stimulus Ekonomi AS
31 Maret 2009
KTT G-20 di London menjadi sorotan dalam tajuk sejumlah harian internasional.
Harian AS The Washington Post yang terbit di Washington DC dalam tajuknya berkomentar :
Sikap skeptis Jerman dapat dipahami. Negara-negara industri terkemuka di Eropa, terkecuali Inggris menghindarkan suntikan uang terlalu besar untuk sektor ekonominya. Hal itu bukan berarti negara-negara industri di Eropa daratan itu tidak becus. Melainkan tidak yakin hal itu dapat berfungsi. Memang agak aneh, karena kanselir Jerman, Angela Merkel dan presiden Perancis, Nicolas Sarkozy biasanya menghormati apa yang disebut kapitalisme Inggris-Amerika dengan kecenderungan kebijakan ekonomi keuangannya yang konservatif. Kedua tokoh Eropa itu bahkan menetapkan batasan utang luar negeri dan mencemaskan inflasi berlebihan. Walaupun strategi tsb pada saat ini tidak disukai, akan tetapi di akhir nanti kemungkinan dapat dibuktikan sebagai tepat.
Juga harian Perancis Les Echos yang terbit di Paris menulis komentar bernada serupa :
Menjelang KTT G-20 kanselir Jerman, Angela Merkel melontarkan peringatan menyangkut metode penanggulangan krisis ekonomi di negara industri maju. Menanggapi tuntutan AS untuk meningkatkan tindakan pendorong konjunktur, kanselir Jerman mengatakan, krisis tidak dipicu kurangnya likuiditas, melainkan akibat terlalu banyaknya uang yang beredar. Karena itu, kesalahan ini tidak boleh diulang. Akan tetapi negara-negara industri maju dan bank sentralnya justru melakukan hal tsb, yakni terus menyuntikkan uang segar bagi sektor ekonomi. Tapi sampai kapan? Di Inggris emisi surat utang negara pada pekan lalu mengalami kegagalan. Pelecehan ini menunjukkan, bahwa utang negara juga memiliki batasan. Peringatan ini berlaku untuk semua negara.
Harian Perancis lainnya Ouest-France yang terbit di Rennes mengomentari KTT-G20 dengan dampak krisis keuangan yang melanda negara-negara miskin.
Semua negara dilanda krisis. Tapi semua mengabaikan, bahwa negara-negara termiskin menderita lebih berat ketimbang negara kaya. Krisis global menyebabkan harapan kehidupan sekitar satu setengah milyar penduduk dunia semakin suram. Tapi krisis ini juga merupakan peluang besar, bagi langkah menuju perdamaian. Syaratnya, prioritas utama sekarang adalah kehidupan warga termiskin di dunia. Daripada mengeluhkan nasib kita sendiri, sebaiknya seluruh upaya dikonsentrasikan di sana.
Terakhir harian Inggris The Times yang terbit di London lebih menyoroti kehadiran presiden AS Barack Obama dalam KTT G-20 di London itu.
Barack Obama menjadi bintang KTT G-20. Dalam kampanye, Obama menimbulkan kesan ia memiliki resep ampuh untuk ekonomi. Namun hal itu ternyata keliru. Sebuah kesalahan taktik, bahwa paket konjunktur harus disetujui terlebih dahulu oleh Kongres. Dengan itu banyak waktu terbuang, sebelum bantuan uang itu menunjukkan keampuhannya. Tapi Barack Obama tetap memiliki karisma besar dan dapat menyapa warga seluruh dunia, kemampuan yang samasekali tidak dimiliki pendahulunya George W. Bush. KTT G-20 nyaris tidak akan membuahkan hasil konkrit. Tapi sebuah pidato untuk menentang proteksionisme, yang dilontarkan pembicara terbaik dari generasi poltik zaman ini, membuat kehadiran di London tetap memiliki arti besar.