1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Menghadapi Krisis Energi Global

21 September 2005

Harga BBM yang terus melambung tinggi tidak hanya membuat resah ekonomi masyarakat Indonesia. Masyarakat Jerman pun tidak lepas dari keluhan terus melajunya harga BBM.

Energi tenaga angin
Energi tenaga anginFoto: dpa

Beban pajak merupakan salah satu penyebab tingginya tarif listrik di Jerman. Di negara yang sadar lingkungan ini, pajak ekologi dan retribusi untuk meningkatkan pemakaian energi terbarukan menyebabkan tarif listrik terus melambung. Penyebab lainnya adalah kelebihan kapasitas produksi yang memaksa ditutupnya sejumlah pembangkit energi karena terus merugi. Selain itu harapan turunnya tarif listrik dengan liberalisasi pasar energi listrik, justru malahan memicu kenaikan tarif. Prof. Axel Ockenfels, Direktur Institut Ekonomi Energi Universitas Köln menerangkan:

Prof. Ockenfels:

"Liberalisasi diiringi harapan untuk turunnya harga listrik, akibat meningkatnya persaingan pasar. Selain itu muncul beban tambahan, yakni politik lingkungan hidup. Dan jika Anda memikirkan pasar sertifikat emisi CO-2, hal ini juga turut membebani harga."

Dengan mulai berlakunya Protokol Kyoto tahun ini, dimulai pula perdagangan emisi karbondioksida. Sertifikat emisi karbondioksida bertujuan merangsang perusahaan dan instalasi pembangkit listrik agar menanamkan modalnya di bidang teknologi yang ramah lingkungan. Dengan begitu diberikan kontribusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Perusahaan yang emisi gas rumah kacanya masih berada di bawah kuota yang dimilikinya, dapat menjual kelebihan kuota tersebut kepada perusahaan lain, yang sedang berupaya menurunkan produksi emisi gas rumah kacanya. Pada dasarnya sertifikat emisi gas rumah kaca ini berlaku seperti saham yang dapat diperjualbelikan. Dan harga sertifikat tersebut sejak dimulainya perdagangan terus meningkat di pasaran.

Dewasa ini 50 persen energi listrik di Uni Eropa diperoleh dari bahan bakar fossil. Namun sejauh ini, volume cadangan minyak bumi dan gas bumi tetap dipersengketakan di kalangan para pakar. Hal itu menimbulkan spekulasi di pasar minyak dunia, yang mendorong terus naiknya harga BBM. Prof. Christian von Weizsäcker dari Institut Max-Planck di Jerman, memperkirakan cadangan minyak dunia baru akan habis 50 tahun lagi. Akan tetapi disebutkannya, hal itu bukan berarti kita dapat memandang ke masa depan tanpa kekhawatiran. Prof. Weizsäcker mengatakan:

Prof. Weizsäcker:

"Memang benar bahwa pertambahan permintaan akan minyak tidak akan dapat terlalu tinggi, karena penawarannya tidak akan mencukupi. Jadi permintaan akan minyak harus tetap. Dan karena sekarang di negara-negara seperti India dan Cina permintaan akan minyak bumi bertambah dengan cepat, sesuai perkembangan pesat negaranya, hal ini berarti penawaran minyak bumi hanya akan mencukupi, jika di barat permintaannya tidak lagi bertambah. Kita harus melakukan segala cara untuk menghemat energi."

Namun kenyataannya, perlombaan untuk memanfaatkan cadangan minyak dan gas bumi terakhir sudah dimulai sejak lama. Walaupun penggunaan bahan bakar fosil di masa depan tetap tidak dapat dihindarkan, tapi sampai tahun 2010 mendatang pemakaian energi terbarukan, yakni energi angin, matahari dan biomassa harus dilipatgandakan. Sementara itu, pemakaian energi nuklir sebagai pengganti energi fosil masih terus menjadi bahan perdebatan. (dk)