1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Menjelang Pemilu

16 September 2005

Warga Jerman sedang dilanda demam pemilu. Dalam pemilu yang dimajukan hari Minggu mendatang, warga Jerman tidak hanya memilih suatu partai, tetapi juga menentukan arah refomasi politik negara itu di tahun-tahun mendatang. Tema ini menjadi sorotan berbagai media cetak di Eropa.

Bildergalerie Wahl05 Ein CDU-Anhaenger haelt am Freitagabend, 9. September 2005, waehrend einer Wahlkampfveranstalting der CDU in Koblenz ein Schild mit Angie for Germany hoch
Foto: dpa

Walau banyak pihak sudah menobatkan Angela Merkel sebagai kanselir Jerman, hasil pemilu di Jerman kali ini tetap sulit diprediksi. Menurut jajak pendapat terakhir, Partai Uni Kristen CDU/CSU yang menyatakan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat Liberal FDP, tidak lagi memegang mayoritas suara. Sebaliknya, koalisi Partai Sosialdemokrat SPD Kanselir Schröder dan Partai Hijau yang kerap disebut koalisi merah-hijau, tampaknya berhasil mengejar ketinggalan dalam perolehan suara. Bila Partai CDU/CSU ternyata tidak berhasil menang mutlak, ada kemungkinan di Jerman muncul pemerintahan koalisi besar, antara CDU/CSU dan SPD.

Harian Spanyol La Vanguardia menulis:

“Pemilu di Jerman tidak hanya menentukan siapa yang akan menjadi kanselir baru di negara itu. Hasil pemilu kali ini akan menentukan partai mana yang akan melaksanakan reformasi politik negara dan menyelesaikan masalah pengangguran di Jerman. Beberapa minggu lalu tampaknya koalisi CDU/CSU dan FDP akan memikul tanggung jawab itu. Tapi partai SPD berhasil mengejar ketinggalan itu, terutama sekali karena kesalahan kandidat kanselir dari partai penantang CDU. Walau begitu, tidak ada yang meragukan, bahwa Merkel lah yang akan keluar sebagai pemenang. Pertanyaannya sekarang, apakah Partai Uni Kristen Merkel akan berkoalisi dengan Partai Demokrat Liberal FDP atau memilih koalisi besar dengan Partai Sosialdemokrat SPD

Harian Iswestija yang terbit di Moskow menyampaikan komentar serupa:

Walau koalisi merah-hijau berhasil memperkecil beda perolehan suara dengan koalisi hitam-kuning, mereka tidak akan berhasil mengejar ketinggalan itu. Penyebabnya adalah kekuatan ketiga yang muncul di Jerman, yaitu Partai Kiri. Partai ini mendobrak sistem politik di Jerman. Semua jajak pendapat menunjukan, Partai Kiri akan dengan mudah melampaui batas lima persen dan memperoleh kursi dalam parlemen. Tetapi tak satu pun partai mau berkoalisi dengan Partai Kiri. Pertama-tama karena masa lalu komunis yang dimiliki sebagian anggota partai itu. Dan yang kedua karena politisi andalan Partai Kiri Oskar Lafontaine. Lafontaine yang dulunya anggota partai SPD, kini dibenci bekas kawan seperjuangannya di partai merah. Selain itu, dalam kampanye pemilu Partai Kiri mengecam keras lawan dengan mengatakan program politik parpol lainnya hanya ’melecehkan rakyat’.”

Harian Swedia berhaluan konservatif Svenska Dagbladet menyoroti ambisi kandidat kanselir Partai Uni Kristen, Angela Merkel:

“Tampaknya, Angela Merkel akan menjadi kanselir Jerman yang baru. Yang belum pasti hanyalah apakah Jerman akan benar-benar melaksanakan proses reformasi politik setelah pemilu. Mayoritas suara Partai Uni Kristen CDU/CSU semakin menyusut menjelang pemilu. Koalisi pemerintahan antara CDU/CSU dengan Partai Demokrat Liberal FDP bukan lagi opsi tunggal. Alternatif pilihan adalah koalisi besar antara CDU/CSU dengan SPD. Koalisi yang tidak menarik bagi kedua partai besar itu, tetapi tampaknya mendapat dukungan warga Jerman. Koalisi besar ini berisiko tinggi karena mungkin terjadi saling jegal dalam pemerintah yang akan mematikan setiap usaha reformasi. Baik Jerman maupun Eropa tidak ingin hal itu. Semoga keberanian kandidat kanselir Merkel menjadi inspirasi bagi parpol Jerman. Dalam politik, jalan tengah tak selalu membawa solusi optimal.“

Sementara harian Perancis Le Monde, menulis:

Pemilu di Jerman akan menentukan masa depan negara yang adalah kekuatan ekonomi ketiga di dunia dan terbesar di Eropa. Secara tidak langsung, hasil pemilu ini juga akan mempengaruhi Eropa, misalnya dalam perdebatan soal keanggotaan Turki dalam Uni Eropa atau dalam penentuan anggaran rumah tangga Uni Eropa tahun depan. Semua mata tertuju pada Jerman yang menampilkan dua wajah yang berbeda. Di satu pihak Jerman sedang goyah karena ketidakstabilan perekonomian dan sistem sosialnya. Di lain pihak muncul revolusi di bidang budaya dan kultur, dalam riset sejarah, sastra dan film. Jerman justru berjaya di bidang yang tak terduga tetapi mengalami stagnasi ekonomi, yang sebenarnya adalah asset kekuatan negara itu.“ (zr)