1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman menyambut pemberlakuan Protokol Kyoto

17 Februari 2005

Bahwa pemerintah, organisasi lingkungan dan bahkan perusahaan minyak menyambut baik protokol Kyoto untuk memperlambat pemanasan global, mungkin akan menimbulkan kecurigaan.

Menteri lingkungan Jürgen Trittin dan Protokol Kyoto
Menteri lingkungan Jürgen Trittin dan Protokol KyotoFoto: AP

Tentu saja sikap setuju itu juga semacam pemolesan citra. Namun juga menunjukkan perubahan pola pikiran. Apalagi Jürgen Cuno, dari Perusahaan minyak British Petroleum BP juga mendukung protokol kyoto.

BP merasa berkewajiban mendukung kesinambungan perlindungan iklim . Hanya dengan demikian dalam jangka panjang , kami dapat menawarkan penambahan nilai bagi para pemegang saham. BP melihat perlindungan iklim sebagai peluang dan tidak sebagai masalah. Masalahnya adalah perobahan struktur bagi warga dan perusahaan. Seperti perobahan struktur di masa silam, daripadanya dapat timbul sesuatu yang baru. Demikian kata Jürgen Cuno.

Sementara ini BP juga kuat diwakili di sektor energi terbarui. Secara moral dan ekonomi BP tidak bisa hanya mengandalkan pada minyak bumi. Juga menteri lingkungan Jerman , Trittin berpendapat, perlindungan iklim bukanlah suatu kemewahan, melainkan sesuatu yang menguntungkan. Perobahan iklim bukanlah masalah hari esok, namun sudah terjadi sekarang. Sekarang saja kerugian akibat perubahan iklim sudah sangat besar. Sering dikatakan, perlindungan iklim merupakan sesuatu yang mahal. Justru menolak perlindungan iklim akan lebih mahal, bahkan jauh lebih mahal. Demikian Trittin.

Perusahaan Asuransi München memperkirakan, biaya untuk kerugian diakibatkan oleh iklim pada tahun 2003 sekitar 60 milyar US dollar. Tetapi hanya orang kaya dapat menikmati asuransi seperti itu. Trittin menegaskan, perlindungan iklim juga semacam politik sosial global, sebab kerugian diakibatkan oleh perubahan iklim , terutama akan dirasakan oleh rakyat miskin, dalam bentuk badai, banjir atau kekeringan. Oleh sebab itu Trittin kembali menyerang pemerintahan Bush yang tetap menolak Protokol Kyoto. Trittin menekankan, tidaklah dapat diterima bahwa di AS pada standar hidup yang sama seperti di Eropa, emisi gasnya dua setengah kali lebih banyak.

Menteri lingkungen Trittin bangga bahwa negaranya telah banyak mengurangi emisi karbon dioksida. Namun sukses besar itu, sebagian besar akibat dari dihentikannya industri dan pabrik yang sudah usang di bekas wilayah Jerman Timur. Sementara ini tidak tercatat lagi kemajuan yang berarti. Tampaknya tindakan perlindungan iklim sekecil apa pun selalu mendapat perlawanan kuat dari lobby industri batu bara, otomotif, minyak dan industri penerbangan. Juga tidak seorang pun yakin, bahwa Protokol Kyoto telah cukup untuk menyelesaikan masalah pemanasan iklim dunia.

Klaus Töpfer dari Komisi Lingkungan PBB di Nairobi , bahkan memperingatkan iklim global yang tidak terkontrol akan menghancurkan semua upaya perkembangan, bila tidak terjadi perobahan secara radikal. Tampaknya semua pihak dapat menerima Protokol Kyoto. Namun kalau sudah sampai pada pengrealisasian tindakan politis, misalnya menaikkan harga tiket pesawat, banyak pihak menolaknya.