1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Jerman: Menyoal Takdir Migrasi yang Berbalik Arah

4 September 2026

Migrasi adalah isu yang sensitif di Jerman. Ketakutan akan arus migrasi tak terkendali mendominasi opini publik. Banyak yang lupa, bahwa dahulu, jutaan warga Jerman juga bermigrasi demi bertahan hidup.

Ukiran kayu Johannes Gehrts 1880 |Emigran di Bremerhaven
Lukisan karya Johannes Gehrts menggambarkan emigran di Bremerhaven, Jerman, yang berangkat ke seberang Atlantik, 1880.Foto: akg-images/picture alliance

"Mereka datang berbondong-bondong dan tak mau belajar bahasa atau mengadopsi kebiasaan kita… Sebentar lagi jumlah mereka akan melampaui kita… bahkan pemerintahan pun bisa goyah.”

Bisa dipahami, jika kalimat bernada hasutan tentang pengungsi dan pencari suaka itu berkesan keluar dari mulut kaum populis kanan—misalnya para pendukung AfD, Alternative für Deutschland.

Tapi kalimat di atas bukan berasal dari masa kini, melainkan dilontarkan pada abad ke-18 oleh Benjamin Franklin, salah satu bapak pendiri Amerika Serikat. Yang dicemaskannya adalah orang-orang Jerman yang datang ke Amerika. Mereka, menurut Franklin, adalah para pendatang yang sulit berasimilasi dengan budaya Anglo-Saxon.

Realita di bilik suara akhirnya mengubah pandangannya. Franklin kemudian bahkan ikut merumuskan Deklarasi Kemerdekaan AS: "…bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dianugerahi Pencipta dengan hak-hak yang tak dapat dicabut, di antaranya hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.”

Menuju 'dunia baru'

Hasrat mengejar kebahagiaan dan kemakmuran selama berabad-abad mendorong perpindahan massal penduduk ke 'benua baru' di seberang Atlantik. Sebagian terusir oleh perang, penindasan politik, dan diskriminasi agama, asal-usul, atau orientasi seksual. Begitu pula bencana alam dan kemiskinan.

"Jadi, migrasi sama sekali bukan fenomena modern, melainkan bagian normal dari keberadaan manusia,” kata sejarawan dan peneliti migrasi Jochen Oltmer. Menurutnya, migrasi telah menjadi bagian dari sejarah umat manusia sejak manusia modern meninggalkan Afrika sekitar 100.000 hingga 120.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. 

Kenapa Banyak Imigran Ingin Tinggalkan Jerman?

01:52

This browser does not support the video element.

Jumlah orang Jerman yang pergi ke Amerika pada masa hidup Franklin masih terbatas—hingga tahun 1820, baru sekitar 150.000 orang. Tak jarang mereka terpikat oleh cerita sukses sesama warga Jerman yang memamerkan keberhasilan sebagai emigran dan kemakmuran yang mereka raih dalam waktu singkat. Padahal, kebanyakan calon migran tanpa sadar telah menjadi korban rayuan para perekrut yang mendapat bayaran untuk setiap penumpang.

Kini mereka disebut penyelundup manusia, yang menjanjikan penyeberangan kepada orang-orang yang hendak bermigrasi. Perjalanan maut dari Afrika dengan perahu karet yang kelebihan muatan pun mengingatkan pada masa lalu. "Menyeberang dengan kapal layar biayanya kira-kira setara dengan upah setahun seorang pengrajin,” kata Simone Blaschka dari German Emigration Center di Bremerhaven. "Agar mampu membayarnya, keluarga harus menjual seluruh harta benda mereka.”

Petualangan lintas samudera

Mereka, mungkin, tak menduga sebuah dunia yang menyusut di dalam lambung kapal. Berbulan-bulan, ruang bawah dek itu menjelma kotak sempit yang merenggut jarak: tubuh-tubuh yang berdesakan, berbagi napas dengan kutu, kepinding, dan derit tikus-tikus yang riang.

Di sana, hidup diukur dari apa yang tersisa. Biskuit kapal yang mengeras serupa batu, potongan daging asin, dan bubur yang telanjur basi—semuanya dibilas dengan air minum yang pengap, payau, dan ringkih oleh cemar. Pada akhirnya, maut datang perlahan bersama sengat disentri, tifus, cacar, dan skorbut, yang menjemput para penumpang satu demi satu dalam sunyi yang panjang.

Dalam bukunya, Perjalanan ke Pennsylvania di Tahun 1750, kepala sekolah sekaligus organis Gottlieb Mittelberger merekam kepedihan perjalanan lintas samudra yang dipenuhi "rintihan, jeritan kerinduan, dan penderitaan," serta berakhir dengan "ratusan orang binasa dan harus dilempar ke laut."

Setibanya di Amerika, sebagian besar rekan seperjalanannya bahkan dilelang. Mereka adalah penumpang yang tak punya uang dan diizinkan naik kapal tanpa biaya dengan imbalan kerja paksa selama beberapa tahun untuk melunasi utang. Di Amerika Serikat, kontrak mereka diperjualbelikan. Akibatnya, keluarga tercerai-berai dan orang tua bahkan terpaksa menjual anak mereka, tulis Mittelberger.

Undangan dari Tsarina Rusia

Pada masa yang sama dengan gelombang migrasi awal ke Amerika, rombongan besar emigran bergerak ke timur. Mereka mengikuti seruan Tsarina Rusia, Catherine yang Agung, seorang putri Jerman sejak lahir. Pada 22 Juli 1763, dia menerbitkan manifesto yang mengundang orang asing untuk pindah dan menetap di Rusia. Tujuannya: membuka dan mengolah wilayah yang masih kosong.

Pendatang baru dijanjikan transportasi gratis ke tempat tinggal pilihan, tanah tanpa biaya, beberapa tahun bebas pajak, pembebasan dari wajib militer, pendidikan, serta status politik khusus. Dengan begitu, mereka boleh mempertahankan bahasa Jerman dan mengatur kehidupan komunitas secara luas.

Pada abad ke-19, benua Amerika kembali menjadi tujuan impian kaum migran. "Populasi Jerman hampir berlipat ganda pada abad ke-19. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi pasar kerja saat itu,” kata Simone Blaschka. Gagal panen dan kelaparan memperburuk keadaan. "Orang-orang tak melihat masa depan bagi diri dan anak-anak mereka, lalu memutuskan untuk beremigrasi.”

Sekitar enam juta orang Jerman berangkat ke Dunia Baru. Salah satu pemicunya adalah buku panduan emigrasi W. E. Eggerling yang terbit pada 1832. Di dalamnya, dia menggambarkan Amerika secara amat memikat: "Orang yang taat hukum, cerdas, dan rajin tak pernah hidup sebaik, sebebas, dan sebahagia di Amerika; orang termiskin di sana hidup lebih baik daripada mereka yang dua tingkat lebih tinggi di Eropa.” 

Museum Fenix Angkat Topik Migrasi

04:18

This browser does not support the video element.

Migrasi: Beban atau berkah?

Jerman bukan satu-satunya sumber migrasi di Amerika. "Dari awal abad ke-19 hingga Perang Dunia I, kemungkinan sekitar 60 juta orang Eropa meninggalkan benua ini,” kata Oltmer.

Pada pertengahan abad ke-20, keadaan berbalik. Eropa berubah dari benua emigrasi menjadi benua imigrasi. "Pertanyaan apakah migrasi lebih merupakan beban atau berkah berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi dan pasar kerja. Jika masyarakat memandang masa depannya secara positif, pandangan terhadap migrasi juga cenderung lebih positif. Jika ekspektasi masa depan buruk, sikap terhadap migran pun ikut memburuk.”

Di Jerman Barat, keajaiban ekonomi pada 1950-an dan 1960-an menyedot habis tenaga kerja. Mulai tahun 1956, iring-iringan "kereta pekerja tamu” mulai singgah di stasiun Stuttgart, Dortmund, atau Köln. Di dalamnya berkumpul buruh asal Italia, Yunani, Spanyol, Portugis, Yugoslavia, dan Turki—direkrut dengan janji upah yang lebih baik.

Hingga ketika program perekrutan tenaga kerja asing dihentikan pada 1973, sekitar 14 juta "pekerja tamu" diundang datang ke Jerman Barat. Sekitar tiga juta di antaranya menetap secara permanen.

Pemerintah: "Jerman bukan negara imigrasi”

Meski demikian, Jerman bersikeras menolak status negara imigrasi. "Untuk waktu yang sangat lama, kami hidup dengan anggapan bahwa apa pun alasan seseorang datang ke Republik Federal, mereka bukan bagian dari masyarakat karena toh akan meninggalkan negeri ini,” kata Oltmer. "Karena mereka toh akan pergi, tidak ada kebutuhan untuk mengurus mereka dengan cara apa pun.”

Menurut Kantor Statistik Federal, pada 2025 lebih dari 30 persen penduduk Jerman memiliki latar belakang migrasi. Jika generasi muda kaum migran masih merasa bukan bagian dari masyarakat, kata Oltmer, sikap itu harus dipandang sebagai respons terhadap perlakuan masyarakat tuan rumah, bukan minimnya loyalitas.

"Penerimaan yang sungguh-sungguh hanya ada dalam kadar yang sangat terbatas. Kalau pun ada, penerimaan itu sebagian besar harus diperjuangkan.”

Merz Menargetkan Pemulangan 80% Pengungsi Suriah di Jerman

02:17

This browser does not support the video element.

Siapa yang diterima?

Kini Jerman aktif menarik tenaga kerja berpendidikan. Sementara itu, pengungsi hanya memperoleh suaka jika mengalami persekusi politik di negara asal atau melarikan diri dari perang.

Sebagai peneliti migrasi, Jochen Oltmer berulang kali mempertanyakan mengapa sebagian migran diterima, sementara yang lain tidak. Pertanyaan itu kembali mencuat pada 2015, ketika arus pengungsi ke Jerman meningkat.

"Dikatakan: ‘Baik, kalian dari Suriah berhak mendapat perlindungan karena perang saudara di Suriah.' Tetapi pada saat yang sama, masyarakat ini memandang orang-orang dari Afganistan dengan lebih skeptis: ‘Dalam kasus kalian, kami masih agak ragu.'”

Migrasi dan suaka menjadi tema yang terus berulang dalam perdebatan politik Jerman, seperti halnya di negara-negara Eropa lainnya. Menurut Oltmer, politik punya kewajiban mengelola perdebatan tersebut.

Suaka hanya mencakup sekitar 10 persen arus migrasi ke Jerman, katanya. Sebagian besar migrasi sama sekali tidak berkaitan dengan pelarian. "Artinya, ketika migrasi dijadikan skandal dan citra-citra negatif diproduksi, kita berhadapan dengan distorsi besar dalam perdebatan.”

Keturunan para emigran Jerman yang pernah dicap Benjamin Franklin sebagai "petani-petani kampungan dari Pfalz” kini telah sepenuhnya menyatu dalam masyarakat Amerika Serikat.

Sebaliknya, integrasi di Republik Federal berjalan lebih lambat. Jerman mengalami "keterlambatan yang luar biasa”, kata Oltmer.

"Bagi banyak orang, tidak ada jalan untuk melegalkan status mereka dan memperoleh izin tinggal yang stabil, meski semua pihak tahu bahwa mereka bisa dan akan tetap tinggal.”

Karena itu, masyarakat perlu segera duduk bersama dan menentukan seperti apa wajah masyarakat Jerman di masa depan.

"Ini bukan perdebatan yang bisa terus-menerus kita lakukan dengan nyaman di dalam gelembung kita sendiri. Jika perlu, ini adalah perdebatan yang sangat keras, bahkan menyakitkan. Tapi tidak ada jalan lain.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait