1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Perdebatkan Penanganan Senjata Ilegal

24 April 2009

Peristiwa tragis penembakan di Weinnenden memicu perdebatan mengenai apakah seluruh senjata legal Jerman yang mencapai jumlah 10 juta itu setiap waktu disimpan secara aman sebagaimana seharusnya.

Menschen trauern in Winnenden vor der Albertville Realschule
Lilin dan karangan bunga ungkapan duka cita penembakan di WinnendenFoto: AP

Belum lama ini, Jerman dihebohkan penembakan membabi buta di Winnenden oleh seorang remaja 17 tahun. Lima belas orang tewas ditembus pelurunya, sebelum ia menembak mati dirinya sendiri. Dalam menjalankan aksinya, remaja itu menggunakan senjata milik ayahnya, anggota sebuah klub menembak. Peristiwa tragis itu memicu perdebatan mengenai apakah seluruh senjata legal Jerman yang mencapai jumlah 10 juta itu setiap waktu disimpan secara aman sebagaimana seharusnya.

Hal ini juga memunculkan perbincangan mengenai senjata-senjata tanpa pemilikan yang sah, yang jumlahnya ditaksir mencapai antara 20 hingga 30 juta. Salah satu yang gencar mendiskusikan hal ini adalah Menteri Kehakiman negara bagian Baden Wurtenberg, Ullrich Goll. Ia sudah sejak lama melontarkan gagasan untuk memberikan pengampunan umum pada para pemilik senjata ilegal yang bersedia menyerahkan senjata mereka kepada pihak berwenang.

Dikatakan Ullrich Goll: "Saya sepenuhnya percaya, bahwa kita harus memberikan jangka waktu yang cukup kepada para pemilik senjata ilegal untuk menyerahkan senjata-senjata mereka kepada polisi. Mereka yang bersedia menyerahkannya, tidak akan ditanya bagaimana mereka memperoleh senjata itu dan apakah mereka memiliki izin pemilikan. Dengan cara ini kita akan mampu menekan angka senjata ilegal di negeri ini."

Menurut Goll, para pemilik harus diberikan waktu setengah tahun untuk menyerahkan senjata ilegal mereka, tanpa risiko hukuman. Namun Bernd Friedrich, ketua klub senjata Berliner Ring mengungkapkan keraguannya. "Gagasan ini sepintas kedengaran bagus. Tapi menurut saya langkah-langkah seperti itu akan tak berguna. Sebagian besar sulit menyerahkan senjata ilegal mereka karena berbagai alasan. Ada yang memiliki senjata dengan maksud menggunakannya dalam tindakan kejahatan. Ada pula yang hanya menganggap harus memiliki senjata untuk sekadar merasa lebih aman."

Lain halnya Hatfrid Wolff. Tokoh oposisi di parlemen dari Partai Demokrat Liberal itu bukan cuma mendukung gagasan pengampunan umum. Ia malah mengusulkan agar pemerintah setempat memberikan bonus berupa uang tunai bagi setiap senjata ilegal yang diserahkan. Menurutnya, ini akan memberikan motivasi tambahan untuk menyerahkan senjata ilegal. Para politisi dari Partai Hijau mendukung gagasan itu. Betapapun, Hatfrid Wolff menyadari, gagasan ini tidak akan mudah dikampanyekan. "Mengenai bonus uang tunainya, saya sendiri kurang begitu yakin. Namun di sisi lain, kita membutuhkan suatu kreativitas yang mendorong para pemilik menyerahkan senjata-senjata ilegal mereka," jelas Wolff.

Lagi-lagi, Bernd Friedrich dari klub senjata Berliner Ring menyangsikan bahwa hal itu bisa belangsung seperti direncanakan. "Ini tampak bagaikan lelucon saja buat saya. Saya tidak percaya, bahwa ini merupakan insentif yang tepat bagi pemilik untuk menyerahkan senjata-senjata mereka".

Dan tentu saja terdapat dimensi etik menyangkut hal itu. Banyak yang mempertanyakan, isyarat macam apa yang akan terkirim kepada mereka yang selama ini selalu bertindak lurus dan sesuai hukum, dan tidak mendapat insentif atas perbuatan baik mereka.

Hardy Graupner/Ging Ginajar

Editor: Yuniman Farid