Di tengah pertemuan menteri luar negeri NATO di Swedia, Menlu Jerman Johann Wadephul menegaskan bahwa Berlin siap mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar dan menginginkan peran NATO yang lebih besar bagi Eropa.
Jerman berencana untuk memperkuat kemampuan militernya secepat mungkinFoto: Ardan Fuessmann/IMAGO
Iklan
Menjelang pertemuan Menlu NATO di kota pelabuhan Helsingborg, Swedia, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan kesiapan Berlin untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar di aliansi militer tersebut.
"Tujuan kami adalah pembagian peran dan tanggung jawab baru yang mencerminkan potensi ekonomi dan militer Jerman serta Eropa,” ujarnya di Berlin sebelum berangkat ke Swedia, sambil menambahkan bahwa "Jerman menerima tanggung jawab kepemimpinannya.”
"Kami menginginkan NATO yang lebih kuat dengan peran yang lebih besar bagi Eropa,” kata Wadephul. "Untuk mencapai hal ini, kami ingin menggabungkan kemampuan industri kami melalui kerja sama pertahanan yang lebih intensif.”
Ini adalah pertemuan pertama para menteri luar negeri NATO di Swedia sejak negara tersebut bergabung lebih dari dua tahun yang laluFoto: Dursun Aydemir/Anadolu/picture alliance
Ia juga menambahkan bahwa Jerman ingin mencapai target belanja 5% NATO dan memperkuat kemampuan pertahanannya secepat mungkin.
Dalam KTT NATO 2025, negara anggota sepakat untuk mengalokasikan setidaknya 3,5% dari PDB untuk belanja pertahanan, ditambah 1,5% untuk sektor terkait seperti infrastruktur, sehingga total target mencapai 5% per tahun pada 2035.
Kurangnya dukungan bagi Ukraina
Menlu Jerman Johann Wadephul mengatakan akan mengajukan "proposal konkret” tentang bagaimana NATO bisa terus mendukung Ukraina secara kuat dalam mempertahankan kebebasan di Eropa. Di sisi lain, Ia juga melihat NATO bisa memanfaatkan kemajuan industri pertahanan Ukraina yang signifikan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menilai banyak negara anggota belum memberikan dukungan finansial yang cukup bagi Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.
Akar konflik antara Rusia dan Ukraina sangat dalam. Semuanya diyakini bermuara pada keengganan Rusia untuk menerima kemerdekaan Ukraina.
Foto: Maxar Technologies via REUTERS
Berkaitan, tetapi tak sama
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina memiliki sejarah sejak Abad Pertengahan. Kedua negara memiliki akar yang sama, pembentukan negara-negara Slavia Timur. Inilah sebabnya mengapa Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut kedua negara itu sebagai "satu orang". Namun, sebenarnya jalan kedua negara telah terbagi selama berabad-abad, sehingga memunculkan dua bahasa dan budaya — erat, tapi cukup berbeda.
Foto: AP /picture alliance
1990-an, Rusia melepaskan Ukraina
Ukraina, Rusia, dan Belarus menandatangani perjanjian yang secara efektif membubarkan Uni Soviet pada Desember 1991. Moskow sangat ingin mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu dan melihat Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang baru dibentuk sebagai alat untuk melakukannya. Sementara Rusia dan Belarus membentuk aliansi yang erat, Ukraina semakin berpaling ke Barat.
Foto: Sergei Kharpukhin/AP Photo/picture alliance
Sebuah perjanjian besar
Pada tahun 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani Treaty on Friendship, Cooperation and Partnership, yang juga dikenal sebagai "Perjanjian Besar". Dengan perjanjian ini, Moskow mengakui perbatasan resmi Ukraina, termasuk semenanjung Krimea,kawasan hunian bagi mayoritas etnis-Rusia di Ukraina.
Krisis diplomatik besar pertama antara kedua belah pihak terjadi, saat Vladimir Putin jadi Presiden Rusia masa jabatan pertama. Pada musim gugur 2003, Rusia secara tak terduga mulai membangun bendungan di Selat Kerch dekat Pulau Tuzla Ukraina. Kiev melihat ini sebagai upaya Moskow untuk menetapkan ulang perbatasan nasional. Konflik diselesaikan usai kedua presiden bertemu.
Foto: Kremlin Pool Photo/Sputnik/AP Photo/picture alliance
Revolusi Oranye
Ketegangan meningkat selama pemilihan presiden 2004 di Ukraina, dengan Moskow menyuarakan dukungannya di belakang kandidat pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Namun, pemilihan itu dinilai curang. Akibatnya massa melakukan Revolusi Oranye atau demonstrasi besar-besaran selama 10 hari dan mendesak diadakannya pemilihan presiden ulang.
Foto: Sergey Dolzhenko/dpa/picture alliance
Dorongan bergabung dengan NATO
Pada tahun 2008, Presiden AS saat itu George W. Bush mendorong Ukraina dan Georgia untuk memulai proses bergabung dengan NATO, meskipun ada protes dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Jerman dan Prancis kemudian menggagalkan rencana Bush. Pada pertemuan puncak NATO di Bucharest, Rumania, akses dibahas, tetapi tidak ada tenggat waktu untuk memulai proses keanggotaan.
Foto: John Thys/AFP/Getty Images
Tekanan ekonomi dari Moskow
Pendekatan ke NATO tidak mulus, Ukraina melakukan upaya lain untuk meningkatkan hubungannya dengan Barat. Namun, musim panas 2013, beberapa bulan sebelum penandatanganan perjanjian asosiasi tersebut, Moskow memberikan tekanan ekonomi besar-besaran pada Kiev, yang memaksa pemerintah Presiden Yanukovych saat itu membekukan perjanjian. Aksi protes marak dan Yanukovych kabur ke Rusia.
Foto: DW
Aneksasi Krimea menandai titik balik
Saat kekuasaan di Kiev kosong, Kremlin mencaplok Krimea pada Maret 2014, menandai awal dari perang yang tidak dideklarasikan antara kedua belah pihak. Pada saat yang sama, pasukan paramiliter Rusia mulai memobilisasi pemberontakan di Donbas, Ukraina timur, dan melembagakan "Republik Rakyat" di Donetsk dan Luhansk. Setelah pilpres Mei 2014, Ukraina melancarkan serangan militer besar-besaran.
Gesekan di Donbass terus berlanjut. Pada awal 2015, separatis melakukan serangan sekali lagi. Kiev menuding pasukan Rusia terlibat, tetapi Moskow membantahnya. Pasukan Ukraina menderita kekalahan kedua, kali ini di dekat kota Debaltseve. Mediasi Barat menghasilkan Protokol Minsk, sebuah kesepakatan dasar bagi upaya perdamaian, yang tetap belum tercapai hingga sekarang.
Foto: Kisileva Svetlana/ABACA/picture alliance
Upaya terakhir di tahun 2019
KTT Normandia di Paris pada Desember 2019 adalah pertemuan langsung terakhir kalinya antara Rusia dan Ukraina. Presiden Vladimir Putin tidak tertarik untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy. Rusia menyerukan pengakuan internasional atas Krimea sebagai bagian dari wilayahnya, menuntut diakhirinya tawaran keanggotaan NATO bagi Ukraina dan penghentian pengiriman senjata ke sana. (ha/as)
Foto: Jacques Witt/Maxppp/dpa/picture alliance
10 foto1 | 10
Berbicara di Helsingborg, Swedia, Rutte menambahkan, bantuan untuk Ukraina "tidak terdistribusi secara merata di dalam NATO.”
"Hanya ada sejumlah negara yang benar-benar berkontribusi jauh di atas kapasitasnya dalam mendukung Ukraina, salah satunya Swedia. Kemudian juga Kanada, Jerman, Belanda, Denmark, dan Norwegia,” ujarnya.
Iklan
AS kritik NATO soal perang Iran
Dalam pertemuan di Helsingborg, para menteri tak hanya akan membahas soal penguatan pertahanan Eropa, tetapi juga perang di Iran serta blokade Selat Hormuz.
Menlu AS Marco Rubio dijadwalkan tiba di Swedia pada Jumat (22/05). Saat menuju KTT, ia kembali mengkritik NATO karena tidak mendukung perang AS melawan Iran.
Presiden Donald Trump "tidak meminta mereka mengirim jet tempur. Tapi mereka menolak melakukan apa pun,” kata Rubio kepada wartawan. "Kami sangat kecewa.”
Potensi Trump Tinggalkan NATO
02:38
This browser does not support the video element.
Menyusul pernyataan kritis dari Kanselir Jerman Friedrich Merz baru-baru ini, Trump mengumumkan penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman.
Di sisi lain, muncul ketidakpastian soal rencana penempatan ribuan pasukan ke Polandia, apakah akan tetap berjalan sesuai rencana atau tidak.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris