Meski selama ini Jerman telah menampung 319 ribu diaspora asal Iran, jumlah terbanyak di Eropa, survei terbaru menyatakan bahwa banyak warga Jerman tidak yakin negaranya dapat menangani gelombang pengungsi asal Iran.
Rute melalui Turki akan menjadi kunci dalam menentukan apakah gelombang pengungsi yang signifikan akan mencapai Eropa.Foto: Dilara Senkaya/REUTERS
Dalam sebuah survei Forsa dilakukan kepada 1.000 orang di Jerman, menyatakan bahwa 73% respoden mengatakan bahwa Jerman tidak akan mampu mengatasi lebih banyak pengungsi yang datang ke negara tersebut. Survey ini didukung majalah Stern dan lembaga penyiaran RTL.
Keraguan juga datang dari kalangan politik. 80% pendukung partai CDU/CSU khawatir Jerman tidak mampu mengatasi gelombang pengungsi yang datang. Bahkan, 98% pendukung partai konservatif kanan, AfD, yang memiliki agenda anti migran dan remigrasi, menyuarakan kekhawatiran serupa.
Hanya pendukung partai Hijau yang menyatakan bahwa mereka tidak melihat adanya permasalahan besar dengan tambahan pengungsi yang masuk ke Jerman, menurut survei tersebut.
Perdebatan ini muncul setelah perang melawan Iran bereskalasi serta represi rezim dan Garda Revolusi Iran terhadap warga yang terus meningkat. Menimbulkan pertanyaan akan kemungkinan gelombang baru pengungsi memasuki Eropa terutama Jerman.
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
"Peristiwa perang seperti yang baru-baru ini terjadi di Iran menunjukkan bahwa Jerman dan Eropa harus mempersiapkan diri dalam kebijakan pengungsi dan bertindak secara terkoordinasi,” ujar kepala Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah Jerman, André Berghegger, kepada surat kabar Augsburger Allgemeine.
Saat ini belum dapat dipastikan apakah perang akan menyebabkan peningkatan jumlah pengungsi menuju Eropa. Namun penting untuk mendorong dan menerapkan kebijakan pengungsi bersama di Uni Eropa.
"Pada saat yang sama, kita juga harus menyediakan akomodasi dan pusat penerimaan di Jerman yang dapat segera diaktifkan jika terjadi peningkatan jumlah, meskipun saat ini belum terlihat,” ujar Berghegger. Ia menegaskan bahwa pemerintah federal harus menanggung 100% biaya kesiapan tersebut. "Kota dan pemerintah daerah tidak boleh menanggung sendiri biaya dan koordinasi persiapan.”
Direktur Jerman untuk bantuan pengungsi PBB, Mark Ankerstein, mengatakan bahwa sejak dimulainya perang Iran, pergerakan pengungsi telah meningkat tajam. "Menurut perkiraan sementara, jumlah pengungsi internal di kawasan telah mencapai 4,1 juta, lebih dari 800.000 di antaranya berada di Lebanon,” jelasnya, "Jika infrastruktur sipil semakin terdampak, jumlahnya kemungkinan akan meningkat.”
Iklan
Kecil kemungkinan melarikan diri ke Eropa
Sementara itu, peneliti migrasi Gerald Knaus memperkirakan tidak adanya gelombang pengungsi dari Iran menuju Jerman. "Bahkan jika perang di Iran meningkat atau rezim runtuh, saat ini kecil kemungkinan banyak orang akan melarikan diri ke Eropa,” katanya. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah umumnya menyebabkan perpindahan dalam negeri atau ke negara tetangga. "Karena banyak negara di kawasan telah memperketat perbatasannya, saat ini tidak ada jalur pelarian yang realistis menuju Eropa,” tambahnya.
Fokusnya haruslah pada situasi kemanusiaan di Iran, Knaus mengatakan, "Meskipun jumlah pengungsi sedikit, tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya di dalam negeri, bisa jadi mereka terjebak dalam bencana kemanusiaan.”
Ia juga merujuk pada situasi di Gaza dan Lebanon, di mana banyak orang mengungsi di dalam negeri tetapi hanya sedikit yang mencapai Eropa, meskipun terjadi krisis kemanusiaan besar. Selain itu, pendanaan global untuk organisasi bantuan pengungsi terus menurun.
Foto Ikonik Krisis Pengungsi Di Eropa
Jutaan pengungsi hijrah ke Eropa antara tahun 2015 dan 2016. Pemberitaan migrasi gelap dan penderitaan para pengungsi beberapa tahun terakhir turut mempengaruhi opini publik di Eropa.
Foto: picture alliance/AP Photo/E. Morenatti
Upaya mempertahankan hidup
Pengungsian dan penderitaan: Ratusan ribu orang, kebanyakan berasal dari Suriah, masuk ke Yunani dari Turki tahun 2015 dan 2016. Sekitar 10.000 orang terdampar di pulau Lesbos, Chios dan Samos. Tahun 2017, tercatat sudah lebih dari 6.000 pengungsi yang datang dari Januari sampai Mei.
Foto: Getty Images/AFP/A. Messinis
Berjalan kaki menembus Eropa
Tahun 2015 dan 2016, lebih satu juta orang mencoba mencapai Eropa Barat dari Yunani atau Turki melalui rute Balkan - lewat Makedonia, Serbia dan Hungaria. Aliran pengungsi hanya terhenti ketika rute ini ditutup secara resmi. Saat ini, sebagian besar pengungsi memilih rute Mediterania yang berbahaya dari Libya ke Eropa.
Foto: Getty Images/J. Mitchell
Kemarahan global
Gambar ini mengguncang dunia. Mayat bocah Aylan Kurdi berusia tiga tahun dari Suriah hanyut di pantai di Turki, September 2015. Foto ini tersebar luas dengan cepat lewat jejaring sosial dan menjadi simbol krisis pengungsi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/DHA
Kekacauan dan keputusasaan
Kerusuhan di menit-menit terakhir: Ribuan pengungsi mencoba masuk ke dalam bus yang sudah penuh sesak dan kereta api di Kroasia setelah mengetahui rute melalui Eropa akan segera ditutup. Pada Oktober 2015, Hongaria menutup perbatasannya dan membuat kamp penampungan tempat pengungsi tinggal selama proses pendaftaran suaka.
Foto: Getty Images/J. J. Mitchell
Perbatasan ditutup
Penutupan resmi rute Balkan bulan Maret 2016 menyebabkan kondisi kacau-balau di seberang perbatasan. Ribuan pengungsi yang terdampar mulai marah dan putus asa. Banyak yang mencoba menyeberangi perbatasan dengan segala cara, seperti para pengungsi ini di perbatasan Yunani-Makedonia tak lama setelah perbatasan ditutup.
Seorang anak berbalut debu dan darah: Foto Omran yang berusia lima tahun mengejutkan publik saat dirilis tahun 2016. Ini menjadi gambaran kengerian perang saudara dan penderitaan rakyat di Suriah. Setahun kemudian, gambar-gambar baru Omran beredar di internet dalam kondisi yang sudah lebih baik.
Foto: picture-alliance/dpa/Aleppo Media Center
Belum tahu tinggal di mana
Seorang pria Suriah membawa putrinya di tengah hujan di perbatasan Yunani-Makedonia di Idomeni. Dia berharap bisa hidup aman dengan keluarganya di Eropa. Menurut peraturan Dublin, permohonan suaka hanya bisa diajukan di negara pertama tempat pengungsi menginjak Eropa. Yunani dan Italia menanggung beban terbesar.
Foto: Reuters/Y. Behrakis
Mengharapkan pertolongan
Jerman tetap menjadi tujuan utama para pengungsi, meski kebijakan pengungsi dan suaka di Jerman sejak munculnya arus pengungsi diperketat. Tetapi Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan Jerman tetap terbuka bagi pengungsi. Sejak 2015, Jerman telah menerima sekitar 1,2 juta pengungsi. Kanselir Merkel jadi ikon harapan bagi banyak pengungsi baru.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Hoppe
Situasi darurat di penampungan
Di utara Prancis, pihak berwenang membersihkan "hutan" yang terkenal di Calais. Kamp itu terbakar saat dilakukan evakuasi bulan Oktober 2016. Sekitar 6.500 penghuninya disalurkan ke tempat-tempat penampungan lain di Perancis. Setengah tahun kemudian, organisasi bantuan melaporkan banyak pengungsi anak-anak yang menjadi tunawisma di sekitar Calais.
Foto: picture-alliance/dpa/E. Laurent
Tenggelam di Laut Tengah
Kapal penyelamat organisasi bantuan dan pemerintah setempat terus melakukan pencarian kapal migran yang terancam tenggelam. Meski pelayaran sangat berbahaya, banyak pengungsi tetap berusaha melarikan diri dari konflik dan kemiskinan. Mereka berharap menemukan masa depan yang lebih baik di Eropa. Pada tahun 2017 ini saja, sudah 1.800 orang meninggal di perjalanan. (Teks: Charlotte Hauswedell/hp,rn)
Foto: picture alliance/AP Photo/E. Morenatti
10 foto1 | 10
Ratusan ribu diaspora Iran tinggal di Jerman
Jerman saat ini menampung diaspora Iran terbesar di Eropa, sekitar 319.000 orang, termasuk sekitar 128.000 yang sudah menjadi warga negara Jerman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jerman telah mengalami beberapa gelombang besar pengungsi, yang membentuk kebijakan migrasi dan perdebatan publik.
Gelombang terbesar terjadi pada 2015–2016, ketika lebih dari 1 juta pencari suaka dari Suriah, Irak, dan Afghanistan tiba di Jerman. Jerman juga menerima warga Ukraina setelah invasi Rusia pada Februari 2022.
Menurut data distribusi pengungsi menurut negara tuan rumah UNHCR, pada akhir 2025 porsi pengungsi Iran tinggal di Jerman adalah (29%), diikuti Inggris (26%), Kanada (8%), dan Austria (5%). Untuk pengungsi Lebanon, Jerman juga berada di posisi pertama (34%), diikuti Kanada (12%), Denmark (10%), dan Prancis (6%).